
Di dalam mobil, Mark mengumpat Zayn habis-habisan. Baru saja ia akan pulang dan bersiap berkencan. Tapi gara-gara Zayn semua batal. Bagaimana tidak, Sonya menyuruh Mark untuk mencari Zayn.
Sonya akan pulang ke mansionnya, tapi ia tak tega meninggalkan Gia. Jadi ia meminta Mark untuk mencari Zayn.
Setelah melacak lewat gps yang berada di mobil Zayn, Mark pun segera menyusul ke tempat Zayn berada.
"Sedang apa kau?" tanya Mark saat menghampiri Zayn yang tengah duduk di area pemakaman.
Zayn menoleh ke arah belakang, ia tercekat kala melihat Mark ada di belakangnya. Dari mana Mark tau keberadaan dirinya, bagaimana jika Mark memberitau Sonya bahwa dia mengunjungi makam Aida.
"Kenapa kau ada di sini, Mark?"
tanya. Zayn, ia berusaha menutupi kegugupannya.
"Bukankah aku yang seharusnya bertanya? sedang apa kau di sini? Bukankah in ...." perkataan Mark terpotong saat Zayn berjalan meninggalkannya. Mark hanya mendengus melihat Zayn.
"Nyonya Sonya menyuruhmu untuk segera ke apartemen," ucap Mark saat berada di belakang Zayn.
Mendengar ucapan Mark, Zayn berbalik kebelakang dan menatap Mark. "Mark, jangan beritau Mommy bahwa aku pergi ke pemakaman ini!" perintah Zayn. Lalu tanpa mendengar lagi jawaban Mark, Zayn pun berlalu pergi meninggalkan Mark.
•••
"Mommy, kau belum pulang?" tanya Zayn. Pada Sonya yang sedang memasak untuk makan malam.
Sonya mematikan kompor dan menatap sang putra. "Kau tidak senang Mommy di sini Zayn?" tanyanya.
Zayn terkekeh, ia menghampiri Sonya dan memeluk Sonya dari belakang. Rasanya begitu nyaman, ia lupa kapan terakhir kali ia memeluk Sonya. Tiba-tiba matanya mengembun. Tiba-tiba dadanya terasa sesak, kala mengingat bahwa wanita yang di peluknya bukanlah ibu kandungnya. Dunianya hancur, tapi ia sadar, ia tak bisa menyalahkan siapa pun.
"Tumben sekali kau memeluk, Mommy?" tanya Sonya.
Zayn melepaskan pelukannya, ia menatap Sonya. "Mommy kenapa memasak? aku bisa memesannya," ujar Zayn tanpa membalas ucapan sang Mommy, ia malah bertanya hal lain.
"Zayn, apa kau tak punya perasaan, kau meninggalkan istrimu di rumah tanpa makanan!" gerutu Sonya.
"Mom, dia bisa memasak sendiri." elaknya.
"Zayn, jika kau hanya ingin menyiksanya, kenapa kau nikahi dia?"
Mendengar ucapan Sonya, kening Zayn mengkerut bingung. "Maksud Mommy?"
"Istrimu begitu pucat, sedari pagi dia mual dan muntah dan kau sama sekali tak meninggalkan uang dan memasak untuknya!" gerutu Sonya lagi.
Mendengar ucapan Sonya, Zayn hampir saja berlari mencari Gia. Namun beruntung akal sehat Zayn kembali aktiv. Dia harus tetap memertahankan sikap dinginnya.
"Mommy, aku rasa dia masih sanggup membuat makanan sendiri," balasnya.
Mendengar ucapan Sonya, Zayn tak bergeming. Ia bahkan memalingkan tatapan kearah lain.
"Dia ada di kamarmu," ucap Sonya.
Seketika Zayn menoleh kearah Sonya. "Kenapa dia ada di kamarku?"
"Tadi Mommy sudah menyuruh orang untuk memindahkan barang-barang milik Gia ke kamarmu dan Mommy mengunci kamar yang di tempati Gia agar kau tak menyuruh Gia untuk pindah lagi."
"Mom!" Zayn hendak protes. Namun, Sonya kembali menghadap depan dan kembali menyalakan kompor.
"Pergilah ke kamarmu! Mommy tau sebenarnya kau setuju dengan ide Mommy."
Zayn pun meninggalkan Sonya di dapur. Ia berjalan sambil tersenyum kecil. Ia memang setuju dengan apa yang di lakukan Sonya.
Setelah Zayn meninggalkan dapur, Sonya melihat kearah Zayn yang sedang berjalan.
"Semoga sebelum Mommy pergi, Mommy bisa melihat kau dan adikmu bahagia." Tiba-tiba bulir bening meluncur dari matanya. Tak ada yang tau bahwa Sonya mengidap penyakin leukimia. Ia melewati penyakinya seorang diri. Ia mengalami ketakutannya seorang diri. Tak ada yang bertanya kenapa tubuhnya begitu kurus, ia iklas. Ia hanya ingin melihat kedua putranya bahagia.
Zayn pun dengan perlahan membuka handle pintu. Ia melongokan kepalanya sedikit untuk melihat sedang apa istrinya.
Matanya membulat sempurna saat melihat kamarnya begitu aneh dan berantakan.
Ia melihat seprei kasurnya berubah menjadi warna pink, dan masih banyak lagi yang berubah.
"Apa yang kau lakukan pada kamarku!" teriak Zayn.
Gia yang sedang tertidur tiba-tiba membuka matanya dia bangun dari tidurnya. Ia menatap Zayn dengan datar "Kau berisik sekali!" gerutu Gia. Ia pun kembali merebahkan diri tanpa memerdulikan Zayn.
Zayn ....
"Apa maumu!" teriak Albert pada Santosh yang baru saja tiba di Mansion. Albert langsung menyudutkan Santosh ke dinding dan mencekik rahang Santosh kala Santosh memancingnya.
Dengan penuh tenaga, Santosh melepaskan cengkraman Albert. Ia megambil sesuatu dari balik jaketnya.
"Kau ingat ini Albert!" ucap Santosh dengan seringai mengejek.
Mata Albert terbelalak saat Albert memegang sesuatu yang bisa membahayakannya.
Belum Albert menjawab, Zidan datang lalu menerjang Santosh dan menghajarhnya secara membabi buta.
Satu part lagi malem. Tungguin ya, Mana tau otornya hilap terus up 3 bab langsung 🤣🤣