Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
419


Para dokter menghela nafas lega ketika detak jantung Arleta sudah kembali, mereka menghela nafas kemudian menghembuskannya, mereka mengucapkan syukur sebanyak-banyaknya karena Detak jantung Arleta sudah kembali.


Dokter melihat kearah Zayn di mana Zayn sedang terduduk di lantai, dokter berjalan menghampiri Zayn kemudian menepuk pundak Zayn yang tampak melihat ke brankar dengan tatapan kosong


“Tuan!” panggil dokter. Seketika Zayn tersadar.


“Ba-bagaimana, Arleta?” tanya Zayn terbata-bata, oksigen di sekitarnya seakan berkurang. Ia benar-benar tak sanggup mendengar kondisi adiknya.


”Detak jantung adik anda sudah kembali. Adik anda selamat dari maut,” ucap dokter lagi.


“Ka-kapan adik saya sadar, Dok?” tanya Zayn lagi. Ia berusaha menguasai diriny.


“Kami tidak bisa memprediksikan itu, semoga saja adik anda sadar secepatnya,” jawab dokter tersebut, ia mengulurkan tangannya pada Zayn membantu Zayn untuk berdiri.


“Kami akan terus memantau secara berkala,” ucap dokter tersebut, kemudian Zayn mengangguk lesu. Setelah memastikan semua, ipara dokter dan para perawat keluar dari ruangan Arlelta meninggalkan Zayn seorang diri.


Zayn berjalan tertatih-tatih ke arah berangkar matanya menatap lurus pada tubuh Arleta yang sedang terbaring dengan selang-selang medis yang menempel di tubuhnya.


Zayn menarik kursi, kemudian mendudukan dirinya di sebelah brbakar. Lalu, ia menggenggam tangan adiknya. “Maafkan kakak, Arleta, maafkan kakak. kakak menyesal bangunlah, Arleta biarkan kakak menebus semua kesalahan kakak padamu,” lirih Zayn lagi dengan nada yang terdengar rapuh.


Penyesalan demi penyesalan menghantamnya ketika melihat wajah Arleta, adiknya. Bagaimana mungkin ia menghukum Arleta sedemikian rupa. Padahal, adiknya begitu tulus. Bahkan dengan mulutnya sendiri, Zayn menyebut Arleta anak haram dan anak adopsi.


Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Ia menatap kaki Arleta lekat-lekat, kemudian memejamkan matanya, seraya meringis saat melihat kaki arneta yang bengkak disertai memar yang berwarna kebiru-biruan.


“Hentikan pengobatannya!”


Tiba-tiba, ucapannya pada sekretasinya, melintas di otaknya. Selama seminggu ini, Arleta menahan sakit yang luar biasa karena ia tak mendapat pengobatan dan itu semua karena keegoisan dirinya.


Adiknya begitu begitu tulus, harusnya ia mengerti Bagaimana sikap adiknya. Tapi, ia malah menyalahkan dan menghardik Arleta.. Padahal, semua yang dilakukan Arleta bisa dijelaskan secara baik-baik.


Tak lama terdengar suara derap langkah, pintu ruang ICU terbuka, membuat Zayn menoleh, ternyata Zidan yang datang.


Nafas Zidan masih ter engah-engah karena berlari. Audrey menelpon Zidan dan mengatakan bahwa kondisi Arleta memburuk. Audrey melihat saat dokter memakai alat pemacu jantung, hingga Audrey langsung menelpon suaminya.


“Za-Zayn, bagaimana ....” Zidan tak sanggup meneruskan ucapannya saat melihat wajah Arleta.


“Di-dia hampir saja kehilangan detak jantungnya,” jawab Zayn dengan terbata-bata. Tubuh Zidan hampir ambruk, ia berpegang pada ujung brankar.


Dua bulan berlalu.


“Zayn, pulanglah. Biar aku yang menunggu Arleta,” ucap Zidan. Zayn menggeleng.


“Aku takut Arleta bangun. Aku ingin langsung meminta maaf ketika dia membuka matanya,” jawab Zayn, membuat Zidan menggeleng.


Sudah dua bulan ini, Zayn tak pernah beranjak dari ruangan Arleta. Ini sudah dua bulan Arleta koma dan selama dua bulan ini, Zayn tak pernah meninggalkan ruangan adiknya.


Gia dan yang lain sudah membujuk Zayn untuk pulang dan berkata untuk bergantian menjaga Arleta. Namun, Zayn menolak. Ia ingin menjaga Arleta seorang diri.


••••


Waktu menunjukan pukul 2 malam, suasana ruangan begitu senyap, Zayn membaringkan diri di sofa. Ia baru saja terlelap, karena sadari tadi ia duduk di kursi sebelah berangkar.


Arleta membuka matanya, ia tersadar dari komanya. Ia melenguh, ia meringis karena seluruh tubuhnya begitu nyeri. Tiba-tiba, Arleta memandang kosong kedepan, otaknya kosong, ia seperti mengambang.


Satu jam kemudian


Zayn terbangun dari tidurnya, karena haus menderanya. Ia bangkit dari tidurnya, kemudian berjalan ke arah nakas untuk mengambil minum.


“Arleta!” pekik Zayn ketika melihat Arleta membuka matanya. Arleta menoleh. Matanya melotot saat melihat Zayn.


“Arleta ... Arleta!” panggil Zayn lagi. Tangis Zayn pecah saat melihat Arleta sudah terbangun. Arleta tak bisa menggerakan mulutnya, bibirnya bergetar ketika melihat Zayn, wajahnya memucat, ia di mata Arleta, Zayn sangat menakutkan. Ia bahkan memandang Zayn dengan tatapan asing bercambur ketakutan.


Zayn berlari keluar untuk mencari dokter, kemudian tak lama, dokter datang.


“Nona, Arleta apa anda bisa mendengar saya?” tanya Dokter, Arleta tak merespon. Seketika itu, dokter dan perawat saling pandang.


“Nona, Arleta ....” Panggil dokter lagi. Namun, Arleta tak merespon. Pandangan matanya lurus kedepan.


“Arleta!” kali ini Zayn yang memanggil. Seketika Arleta mengejapkan matanya. Mendengar suara Zayn, tiba-tiba bibir Arleta bergetar, suara Zayn begitu menakutkan di telinga Arleta.


Gengs maaf, ya. Baru update semalem Mering 😭


Yoks.komen yok