Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
249


Josh menyenderkan kepalanya kebelakang. Saat ini, ia sedang berada di mobilnya, ia terlalu malas mendengar celotehan Zayn, hingga ia lebih memilih meninggalkan ruangan Zayn.


josh memejamkan matanya, bulir bening langsung keluar dari pelupuk matanya, saat mengingat, bahwa selama 9 tahun ini, ia sangat tersiksa dengan keadaannya, rumah tangganya dan semua di sekitarnya. Dia lelah, sangat lelah.


Tiba-tiba ia teringat pembicaraannya dengan Stuard 9 tahun silam.


Flashback 9 tahun lalu.


"Maaf membuat anda menunggu lama," ucap Stuard pada Josh saat datang ke sebuah restoran yang cukup private.


Josh sengaja mengajak Stuard berbicara untuk membicarakan hal yang menurutnya sangat penting, hal penting menyangkut kedua bayi yang sudah di lahirkan Simma 2 bulan lalu.


"Bisakah kita tak terlalu formal. Bukahkan kita bertemu untuk membicarakan hal di luar pekerjaan," ucap Josh saat Stuard duduk di hadapannya


Stuard pun menganggukan kepalanya. "Ada apa?" tanya Stuard.


"Kita sama-sama sudah tau bukan, tentang Gabby dan Gabriel. Aku tau, kau dan Simma sedang mengkhawatirkan tentang Gabby dan Gabriel, kalian pasti sedang bingung tentang apa yang akan kalian jelaskan pada Gabby dan Gabriel tentang hubungan kita yang rumit ini," Josh menghela napas sejenak, lalu memandang wajah Stuard yang tampak tetap tenang.


"Bisakah kau tho the point saja!" ucap Stuard.


"Jangan pernah mengatakan pada Gabby dan Gabriel jika aku ayah mereka. Biarkan mereka mengira bahwa kau lah ayah mereka," jawab Josh dengan mata yang berkaca-kaca.


Ia bisa melihat bahwa Stuard sangat menyayangi kedua anaknya, Ia juga sudah mengiklaskan semuanya. Terlebih lagi, satu minggu lagi, Briana akan melahirkan. Ia benar-benar tak ingin membuat Gabby dan Gabriel bingung dan merasa terbebani dengan status mereka yang adalah anak dari Josh. Namun mereka tinggal dengan Stuard dan memanggil Daddy pada Stuard.


Kini, Josh sudah bisa menerima semuanya, membiarkan semuanya mengalir seperti air. Ia pun harus bertanggung jawab pada Briana, ia yakin inilah yang terbaik.


Simma dan kedua putra putri kembarnya sudah hidup dengan nyaman dan bahagia bersama Stuard, dan rasanya, Josh akan menjadi orang yang paling egois jika terus memaksakan kehendaknya.


"Kau tidak apa-apa, Josh?" tanya Stuard yang melihat wajah Josh berubah menjadi sendu.


"Aku baik-baik saja," jawab Josh. "Tolong sampaikan pada Simma, maafkan atas semua kesalahanku. Aku bersumpah tak akan lagi mengusik kalian lagi."


Flashback off.


"Mommy bisakah kau mencubitku!" ucap Ariana tiba-tiba. Saat ini, mereka sedang duduk di sofa.


"Kenapa kau ingin Mommy mencubitmu?" tanya Briana


"Untuk memastikan, bahwa kehadiran Mommy di sini bukanlah mimpi," jawab Ariana dengan polosnya. Namun, membuat hati Briana tercubit.


"Mommy, aku mohon jangan tinggalkan aku lagi. Aku takut jika terus tidur sendirian. Aku malu jika terus meminta Nancy tidur denganku," ucap Ariana lagi, membuat dada Briana kian sesak. Rasanya, ia ingin menangis sejadi-jadinya. Seandainya keberanian lebih cepat datang padanya, tentu putrinya tak akan merasakan hal yang menyakitkan.


Briana mengusap lembut rambut sang putri, matanya mulai berkaca-kaca. "Mommy berjanji, akan selalu bersama denganmu, sekarang dan selamanya" jawab Briana. Membuat Ariana mengembangkan senyumnya.


"Mommy, aku ingin tidur siang. Apa Mommy tak keberatan untuk memelukku?" tanya Ariana dengan polosnya. Gadis kecil itu masih belum percaya jika Briana datang padanya dan membelanya.


"Mulai saat ini, Mommy akan menebus waktu karena dulu tak bisa menemanimu. Sekarang, mari kita melakukan semuanya bersama-sama," ucap Briana. Setelah itu, Ia mengajak Ariana untuk pergi kamar agar bisa tidur siang bersama.


Saat terdengar hembusan napas Ariana yang sudah lembut dan teratur, pertanda Ariana sudah terlelap. Briana pun bangkit dengan perlahan. Ia berniat membuatkan Ariana makan siang.


Namun, saat akan keluar. Mata Briana menangkap sebuah box yang berada di kolong meja belajar, Ia pun mengambil box tersebut dan membukanya.


Mata Briana membulat saat melihat isi box tersebut. Pertahanan Briana akhirnya luntur. Tangis yang sedari tadi di tahannya akhirnya luruh, ia membekap mulutnya agar isakannya tak membangunkan Ariana.


Bagaimana mungkin putrinya .....


Hate komen blok ya 😎


Khalisia udah up bab terbaru ya.