
Justin terus mengelus punggung Ariana. Ia membiarkan Ariana tenang dalam pelukannya. Tangis Ariana kembalian luruh.
Justin meringis saat mendengar tangisan Ariana yang terdengar sangat pilu di telinganya.
Justin sadar, istrinya terlalu banyak memupuk luka. Hingga disini, ialah yang harus sabar. Walau bagaimana pun, tak mudah menjadi Ariana apalagi Ariana mengalami luka itu sedari kecil dan pasti membekas sampai sekarang.
“Kau rindu keluarga mu?” tanya Justin lagi saat Ariana sudah bisa menghentikan tangisnya.
Ariana terdiam. Ia tak berani menatap Justin atau pun tak berani mengungkapkan pernyataan pada Justin, jujur saja ia sungguh malu pada suaminya..
Justin melepaskan pelukannya pada Ariana. Ia menangkup kedua pipi istrinya lalu memaksa istrinya untuk melihat ke arahnya. “Katakan sayang? Apa kau ingin bertemu dengan keluargamu?” tanya Justin. “A-aku hanya sedikit rindu dengan mereka,” kata Ariana lagi dengan terbata-bata. Membuat Justin memejamkan matanya.
Ia heran, terbuat dari apa hati istrinya sampai bisa selembut begini. Justin saja yang mengetahui dan melihat apa yang dialami istrinya benar-benar ingin menghancurkan Briana dan Josh sampai ke akar. Tapi, lihatlah ... Istrinya yang mengalaminya semua malah sabar dan masih memperdulikan keluarga yang telah membuangnya.
Tiba-tiba, Justin terpikirkan sesuatu. Selama menikah, Ariana tak pernah meminta apapun. Ia juga tak pernah mendengar Ariana merengek soal apa pun. Bahkan untuk hal sekecil apapun.
“Sayang lihat aku!” pinta Justin dengan tatapan dan nada suara yang tegas, membuat Ariana yang menunduk langsung kembali menatap Justin.
“Ke-kenapa?” tanya Ariana.
“Apa selama ini kau pernah menginginkan sesuatu? Ariana terdiam, ia tak menjawab ucapan Justin membuat Justin melepaskan tangkupan nya kemudian mengusap wajah kasar.
“Maaf, jangan marah padaku,” kata Ariana lagi. membuat dada benar-benar terasa sesak. Dari ucapannya, saja ia mengerti apa yang dirasakan oleh istrinya.
“Ti-tidak, bukan begitu maksudnya. Aku hanya malu untuk meminta sesuatu padamu. Aku takut, aku merepotkanmu dan aku takut kau meninggalkanku seperti Nancy. Aku tak ingin kau menganggapku wanita cacat yang menyebalkan dan merepotkan,” Ariana berbicara lirih. kemudian ia menunduk rasanya iya terlalu malu untuk menatap suaminya.
Tanpa sadar, ia akan menggerakan tangannya untuk memukul kakinya. Namun, gerakan tangannya terheni saat Justin memegang tangannya. Hingga Ariana tersadar.
Justin menundukkan dirinya ia mengurut keningnya saat mendengar ucapan Ariana. Satu tangannya, ia gunakan untuk memegang tangan Ariana agar istrinya tak memukuli lagi kakinya.
Melihat reaksi suaminya, Ariana menjadi salah tingkah. Ia merasa bersalah dan dan merasa bahwa ia telah mengecewakan suaminya. karena ucapannya.
“Maaf, aku tak bermaksud menyinggungmu. Maafkan aku. Tolong jangan marah padaku, tolonh jangan membenciku,” kata Ariana lagi dengan nada yang terdengar rapuh.
Justin menegakkan kepalanya, lalu memeluk Ariana dengan begitu erat. Bahkan sangat erat
Ariana bisa merasakan tubuh Justin bergetar pertanda Justin menangis.
“Hubby! jangan menangis. Maafkan aku,” kata Ariana. Secepat kilat, Justin menegakkan kepalanya melepaskan pelukannya. Ia langsung menatap Ariana kemudian mencium bibir istrinya.
“Sayang, selama ini aku bekerja keras untuk kalian. Saat aku mengikatmu dalam ikatan pernikahan, aku sudah mengabadikan hidupku untuk kau dan anak kita. Tapi mendengar ucapanmu, aku merasa tak berguna menjadi suamimu. bahkan kau tak membagi lukamu denganku,” kata Justin dengan nada yang super pelan.
“Maaf aku hanya takut kau menganggapku sebagai wanita yang menyebalkan dan merepotkan," Ariana terus mengulang ucapannya.
••••