Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
Memberi pelajaran


“Nyo-Nyonya!” Panggil Amelia terbata-bata, ketika ia berhasil menggerakkan tubuhnya dan melepaskan pelukannya dari Sima.


Dada Simma terasa berdenyut nyeri, ketika melihat wajah Amelia yang begitu tirus. Bahkan sangat tirus, lalu Sima mengalihkan tatapannya pada tangan Amelia yang menghitam. Terlihat jelas, itu adalah bekas luka yang cukup berat.


Jantung Sima berdetak dua kali lebih cepat. Tubuhnya hampir saja Limbung ketika ia melihat Amelia, lamunannya buyar, ketika ketika mendengar suara gaduh dari arah depan, ternyata Gabriel tersungkur, karena di hajar oleh Stuard.


Nafas Stuard memburu saat melihat Gabriel yang tersungkur, secepat kilat, ia menaiki tubuh Gabriel lalu menonjok pipi Gabriel secara bertubi-tubi.


“Daddy, tidak pernah mengajari mau begini. Kenapa kau biadab sekali, Hah!” Teriak Stuard. untuk pertama kali di dalam hidupnya, Stuard berteriak pada putranya, karena menurut Stuard, tindakan Gabriel kali ini benar-benar biadab dan tak bisa di tolerir.


Selama 3 tahun ini, Stuard menyangka Gabriel tidak melakukan hal sejauh ini ada Amelia dan Ia juga tak menyangka Amelia disiksa oleh Gabriel.


Kaarena ia pikir, sang anak tidak akan mungkin berlaku seperti ini. Walau bagaimanapun, Stuard mendidik Gabriel dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Tapi ternyata didikannya selama ini sia- sia, ia tak menyangka Gabriel. berubah bak seorang monster


Gabriel yang masih tersungkur di lantai tidak berekspresi sedikitpun. Bahkan ia tak menampakan rasa sakit di hadapan sang ayah.


Ia menatap Stuard dengan datar, seolah apa yang dilakukan oleh sang ayah tidak berefek sedikitpun padanya, dan itu membuat emosi Stuard semakin menjadi-jadi.


Stuard menoleh ke arah Sima yang sedang memegang tubuh Amelia, lewat tatapan matanya, ia meminta izin pada Simma untuk memberi pelajaran pada Gabriel.


Dengan berderai air mata, Simma mengangguk. ia mengizinkan Stuard memberi pelajaran pada Gabriel, karena tingkah Gabriel benar-benar tak bisa di tolerir. Walau bagaimanapun, Simma pernah merasakan bagaimana di posisi Amelia.


Setelah melihat anggukan dari Simma, Stuard kembali menoleh kearah Gabriel. Rahangnya masih terlihat mengeras, secepat kilat stuard memegang kerah baju Gabriel, kemudian mengangkat tubuh Gabriel lalu menarik paksa tubuh sang putra ke salah satu ruangan.


Setelah Stuard pergi, Simma yang sedang menahan tubuh Amelia, kembali melihat ke arah Amelia yang sedari tadi melihat wajahnya dengan tatapan yang sayu, bahkan mata Amelia nyaris tertutup, seperti antara sadar dan tidak sadar.


“Nyonya!” teriak Gilsha dari arah belakang. Ia yang baru saja akan menyusul Amelia, langsung berteriak ketika melihat Simma. Gilsa memang tak mengenal Simma, tapi ia tau bahwa Simma adalah ibu Gabriel.


Simma menoleh, lututnya melemas saat melihat Gilsa, ternyata Gabriel tidak hanya menyekap Amelia.


“Nyonya!” Gilsa menangis tergugu ketika berada di depan Simma. Ia menangis bahagia karena akhirnya, ia dan Kate bisa keluar dari pulau yang terkutuk ini.


“Ka-kau juga di sekap oleh Gabriel?” tanya Simma terbata-bata. Demi apapun ia sungguh malu karena kelakuan putranya.


Gilsa tak menjawab, dengan air mata yang luruh, ia menganggukan kepalanya. Tak lama, Amelia menggerakan tangannya, Namun, setelah itu, tangan Amelia terkulai lemah dan sedetik kemudian Amelia Kehilangan kesadarannya.


Scroll gengs


Maaf ya baru update, Qodarullah, setelah aku baikan, giliran anak bungsuku yang tumbang. Jadi ngetiknya aga tersendat-sendat.


Jaga jari jangan hate komen ya karena di balik tulisan yang kalian baca, ada aku yang berusaha untuk tetap update walaupun kondisi anakku sedang drop. Minta doanya juga ya, biar anak bungsuku cepat pulih.


Makasih😍😘