
Setelah keluar dari kantor, Audrey pun memutuskan untuk mampir ke sebuah caffe. Rasanya ia membutuhkan waktu sendiri, selepas bekerja.
Ia sama sekali belum menyadari ponselnya tertinggal di ruangan Zidan. Saat tadi Zidan menelponnya. Ia sedang melihat-lihat foto Zidan yang ia simpan secara diam-diam.
Dan saat Zidan memanggilnya dan menyuruhnya datang ke ruangannya, Audrey dengan refleks menaruh ponselnya di saku dresnya, hingga ia tak sadar bahwa ponselnya terjatuh.
Ya, tak di pungkiri, rasa itu masih ada dan bertambah kuat. Apalagi, ia bertemu Zidan setiap saat. Sangat sulit pula bagi Audrey untuk menjauhi Zidan.
Rasanya, begitu menyiksa. Tapi, ia tak punya pilihan. Ia sadar diri, siapa dirinya dan siapa Zidan, dan yang bisa ia lakukan adalah memandang foto Zidan yang diam-diam ia simapan si ponselnya.
Lamunan Audrey buyar kala kopi yang tadi di pesannya tiba.
•••.
"Kenapa kau?" tanya Zayn saat menghampiri Zidan di sofa. Selepas makan malam bersama, ia heran melihat sang adik yang tersenyum sendiri.
Zidan yang mendengar suara kakanya langsung menegakan tubuhnya, dan langsung menatap Zayn.
"Zayn, apa kau punya ide, bagaimana caranya membuat seseorang mengakui tentang perasaanya?" tanya Zidan.
"Kau sedang membahas sekretarismu bukan?" tebak Zayn, seketika Zidan pun mengangguk.
"Bukan, bukan sekretarisku," elak Zidan. padahal ia sudah mengangguk. Tentu saja, jawaban Zidan membuat Zayn berdecih.
"Kurung dia, paksa dia mengaku, jangan lepaskan dia sebelum dia mengakui perasaanya," jawab Zayn, membuat bola mata Zidan terangkat, ia tampak memikirkan saran sang kaka.
•••
Sebelum memanggil Audrey, Zidan sudah menyiapkan semuanya. Ia sengaja menyuruh Audrey mencarikan berkas di dalam lemari. Karena ruangan pribadinya ada di belakang lemari tersebut.
Setelah semua siap, Zidan pun mengulurkan tangannya untuk mengangkat gagang telpon.
"Tolong ke ruanganku!" titah Zidan pada Audrey lewat sambungan telpon.
Tak lama, Audrey pun datang ke ruangannya. "Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Audrey.
"Carikan berkas-berkas yang aku tanda tangani seminggu lalu!" titah Zidan tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop. Audrey pun mengangguk. Lalu berjalan ke arah lemari.
Saat Audrey sedang fokus mencari berkas, Zidan bangkit dari duduknya dan menghampiri Audrey. Ia sudah tak bisa menahan diri lagi.
Setelah mendekat, Ia menarik pinggang Audrey hingga Audrey menghadap ke arahnya.
Setelah tubuh Audrey menghadap ke arahnya. Zidan semakin menarik pinggang Audrey, hingga posisi mereka begitu intim.
"A-anda mau apa tuan Zidan?" tanya Audrey. Terbata-bata. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat saat napas Zidan menyapu wajahnya..
"Bisakah kau berhenti berpura-pura?" tanya Zidan. Membuat tubuh Audrey menegang.
"You love me?" tanya Zidan to the point. Ia tak akan mengambil keputusan besar ini jika tak melihat ponsel milik Audrey yang kemarin tertinggal di ruangannya.
"A-apa maksud anda?" tanya Audrey terbata-bata.
Tanpa membalas ucapan Audrey, Zidan mendekatkan wajahnya ke wajah Audrey dan langsung mencium bibir Audrey.
Zidan hanya sekilas mencium bibir Audrey, Lalu tak lama, ia kembali menatap Audrey.
Audrey melotot pada Zidan, baru saja ia akan mendorong tubuh Zidan, tangannya sudah terlebih dahulu di kunci oleh Zidan, karena Zidan tau, Audrey pasti akan melawan.
Tanpa membalas ucapan Audrey, Zidan semakin menarik pinggang Audrey, hingga posisi mereka semakin dekat dan semakin intim.
"Kau bahagia saat terus berpura-pura?" tanya Zidan. membuat Audrey diam terpaku karena Zidan menatap intens padanya.
Audrey memalingkan tatapannya ke arah lain saat Zidan akan kembali mencium bibirnya. "Tatap aku, dan katakan kau tidak mencintaiku," ucap Zidan. Seketika Audrey pun kembali menatap Zidan.
"Saya tidak mencintai anda. Hubungan kita hanya bos dan sekretaris," ucap Audrey dengan ekpresi datar. Ia bisa saja berkata begitu tapi hatinya berkata lain. Ia tak boleh goyah, ia tak ingin tersakiti lebih dalam suatu saat nanti.
Seandainya tak mengenal Audrey dengan baik, Zidan akan percaya dengan apa yang di katakan oleh Audrey, tapi Zidan cukup memahami bagaimana karakter Audrey
"Kau boleh berkata tak mencintaiku. Cukup aku yang mencintaimu. Maka, semuanya selesai," ucap Zidan, membuat Audrey terpaku. Zidan tak menyia-nyiakan kesempatan. Saat Audrey lengah, ia menekan tombol yang berada di samping tubuhnya, hingga lemari bergeser.
Dan dengan gerakan cepat, Zidan mendorong tubuh Audrey. Sebelum Audrey kembali melawan, Zidan menarik tangan Audrey dan menyudutkannya ke dinding.
"Zidannn!" teriak Audrey dengan keras saat Zidan menyudutkannya ke dinding.
Bukannya menjawab, Zidan menangkup kedua pipi Audrey dan mencium bibir Audrey secara paksa.
Audrey terus meronta, membuat Zidan melepaskan ciumannya. "Aku mencintaimu, Audrey. Sungguh-sungguh mencintaimu," ucap Zidan. Ia menempelkan keningnya pada kening Audrey.
Mendengar ucapan Zidan, mata Audrey mengembun. Ia memberanikan diri mengangkat kepalanya hingga Zidan menegakan kepalanya kembali.
Kini, mata mereka saling mengunci. Tatapan Audrey melembut, ia memandang Zidan dengan tatapan sendu.
Zidan pun kembali menangkup kedua pipi Audrey dan mencium kening Audrey dengan penuh kasih sayang. Seketika, tangis yang sedari tadi di tahan oleh Audrey pecah.
"Berhentilah berpura-pura. Kau mencintaiku dan aku mencintaimu. Maka, semuanya selesai," ucap Zidan, ia menghapus air mata Audrey dengan ibu jarinya.
Audrey menggeleng, "Kita bagai langit dan bumi, aku tak pantas untukmu," jawab Audrey, ia menatap Zidan lekat-lekat, hingga tatapan mereka kembali saling mengunci.
"Katakan jika kau tak mencintaiku, Audrey!" Bukannya membalas ucapan Audrey, Zidan malah bertanya hal lain.
Audrey menunduk, ia tak berani mengatakan apa pun.
"Aku sudah tau jawabanmu," ucap Zidan lagi. Membuat Audrey mengangkat kepalanya kembali.
Saat Audrey mengankat kepalanya, Zidan langsung mencium bibir Audrey, pertahanan Audrey luntur seketika. Ia membalas ciuman Zidan dan mengalungkan tangannya pada leher Zidan.
Zidan bersorak dalam hati saat Audrey membalas ciumannya. Mereka berciuman begitu lembut. Zidan melepaskan ciumannya, lalu menggendong Audrey, melingkarkan kaki Audrey pada pinggangnya.
Zidan berjalan ke arah ranjang, saat berjalan, mereka kembali berciuman, Zidan membaringkan Audrey di ranjang, lalu kembali menindih tubuh Audrey.
Mereka kembali berciuman, saat tangan Zidan akan bergerak untuk menyentuh tubuh Audrey yang lain. Audrey tersadar, dengan sekali gerakan, ia menggulingkan Zidan hingga Zidan terjatuh dari ranjang.
"Ahh!" ringis Zidan saat ia terjatuh. "Kenapa kau mendorongku?" tanya Zidan dengan masih meringis
Audrey ....
Udah panjang banget ni ngetik. Awas ya lu pada kalau bilang up dikit. 🤣
Hate komen: Blok 😎
Blok: ga bisa baca cerita ini lagi kwkwkwkw
Kebongkarnya di next bab, ya soalnya masih mikirin ide, gimana caranya nge bongkar dengan cara yang dramatis. wkwkwk