
Gabriel, aku tidak apa-apa. Kau akan membuat kulitku tambah memerah Jika kau terus mengusapnya dengan tisu,” protes Amelia ketika Gabriel terus mengelap pergelangan tangannya dengan tisu basah dan terus meniup-niup telapak tangan.
Barusan, mereka bercinta dengan sedikit berbeda, mereka melakukan variasi seperti yang selalu Gabriel lakukan saat dulu. Hanya saja, tidak semenakutkan dulu dan tentu saja menyenangkan untuk keduanya.
Tapi setelah selesai, Gabriel malah merasa bersalah pada Amelia, karena tadi mengikat tangan kedua Amelia di ranjang. Hingga tangan istrinya sedikit memerah. Padahal, Amelia tidak merasakan sakit sedikitpun. Tapi Gabriel terus mengusap pergelangan tangannya.
“Yakin, kau tidak merasakan sakit?” tanya Gabriel. Ia menatap Amelia dengan tatapan merasa bersalah. Padahal, dulu, jangankan merasa bersalah, Gabriel bahkan sama sekali tidak peduli dengan rasa sakit yang yang dialami oleh Amelia. Tapi sekarang, begitu berbeda.
Amelia yang sedang mengatur nafasnya bangkit dari berbaringnya, kemudian ia mencium pipi Gabriel. “Its okey, Daddy, Aku tidak apa-apa!” kata Amelia membuat Gabriel tersipu. Sedari tadi, Amelia terus memanggilnya Daddy, membuat pipi Gabriel memerah, ia sangat bahagia.
Gabriel bangkit dari duduknya, kemudian ia memberikan gaun tidur untuk istrinya, lalu membantu Amelia memakai gaun tidur, karena ia tahu istrinya begitu kelelahan. Bagitupun Gabriel yang juga kembali memakai pakaiannya .
Gabriel membuka kulkas, kemudian mengambil jus yang ada dalam kemasan. Lalu memberikannya pada Amelia.
“Kau harus minum, Baby. aku sudah menguras tenagamu tadi,” kata Gabriel, membuat pipi Amelia memerah. Setiap mengingat kejadian barusan, Amelia selalu malu pada dirinya sendiri, karena tadi ia begitu agresif mengimbangi Gabriel.
Setelah itu, mereka berdua pun saling berbaring dengan posisi saling berhadap-hadapan, Gabriel mengelus pipi Amelia membuat Amelia memejamkan matanya.
Tatapan mereka memancar penuh cinta, “Aku mengantuk,” dusta Amelia karena malu saat Gabriel terus menatapnya. Setiap Gabriel, menatapnya ia teringat kejadian barusan di mana ia agresif pada suaminya.
“ Wajahmu memerah, mana mungkin kau mengantuk!” kata Gabriel membuat Amelia mencubit pipi Gabriel.
“Gabriel, sejak kapan kau mencintaiku?” tanya Amelia, Gabriel mendekat kemudian menggigit pipi Amelia.
“Maksudku, Daddy!”
“Kau sungguh ingin tahu jawabannya?” tanya Gabriel. Amelia pun mengangguk.
“Mungkin Sejak saat aku menahan Grisya gudang dan aku mengetahui bahwa Grisya adalah putriku. Saat itu, aku belum terlalu yakin tentang perasaanku. Hanya saja, saat aku di penjara Ariana datang dan mengatakan bahwa kau sudah mencintaiku saat kita kuliah dulu.”
Tiba-tiba Amelia tersenyum, pikirannya mengembara pada saat jamam mereka kuliah dulu, dimana ia mencintai Gabriel pada pandangan pertama. Saat itu, senyuman Gabriel begitu memikatnya.
Tiba-tiba, senyum Amelia luntur ketika ia mengingat sesuatu. Lalu, menoleh kearah Gabriel. “Baby, kau kenapa?” tanya Gabriel, tiba-tiba rasa kesal kembali menyelimuti Amelia, ketika mengingat masa lalu.
“Aku akan memberimu uang. Tapi Jangan menggangguku dan Ariana, jangan menempel pada Ariana karena aku ingin pergi dengannya.” tiba-tiba kilasan ucapan Gabriel saat itu terngiang-ngiang di otaknya, seketika Amelia langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Gabriel, membuat Gabriel kebingungan.
“Baby ada apa?” tanya Gabriel dengan panik
“Kau dulu sering mengusirku agar kau bisa berduaan dengan Ariana,” ucap Amelia dengan kesal. Ia angsung menutup sekujur tubuhnya dengan selimut. Gabriel tertawa, seraya menepuk keningnya. Ia lupa, wanita adalah ahli sejarah.
••••
Scroll gengs