Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
101


Gia langsung menjauhkan bibirnya dari bibir Zayn saat merasa ada yang aneh.


"Zayn, kau memakai apa?" tanya Gia. Ia mengambil tisu dari tas kecilnya, lalu mengelap lidahnya yang terasa aneh.


Zayn mengulum bibirnya, ia lupa bahwa tadi ia memakai pelembab dan bedak agar tak terlihat pucat.


Gia yang tak mendapat jawaban dari Zayn, langsung mengarahkan tisu ke mulut Zayn dan mengelap bibir suaminya, ia melihat tisu itu dan membulatkan matanya.


"Zayn, ini apa? ini bedak kan? kenapa kau memakai bedak di bibirmu?" tanya Gia bertubi-tubi.


"I-itu ...." Belum Zayn, meneruskan kalimatnya. Gia sudah tertawa. Ia tau sekarang, kenapa suaminya memakai pelembab dan bedak di bibir.


Zayn yang malu akan kelakuaanya, langsung membungkam mulut Gia dengan tangannya.


"Eeum..."


"Aku akan melepaskannya, tapi berjanji. Jangan menertawaiku lagi!" titah Zayn, di tanggapi anggukan oleh gia.


Setelah melepaskan tangannya dari mulut Gia. Zayn mengulurkan tangannya, mengajak Gia pergi.


"Zayn, aku aku tak memakai sandal," keluh Gia saat Zayn mengulurkan tangannya.


Zayn menepuk keningnya. Ia pun berjongkok memberikan punggungnya agar Gia naik. Tentu saja Gia pun dengan senang hati menaiki punggung suaminya. Beruntung, perut Gia tak terlalu besar hingga tak menyulitkan saat ia di gendong oleh suaminya.


Nyaman.


Satu kata yang Gia rasakan saat di dekat suaminya. Tanpa sadar, ia mencium pipi Zayn dari belakang. Zayn yang mendapatkan perlakuan manis dari Gia menghentikan langkahnya, lalu ia menyodorkan pipinya lagi, agar Gia menciumnya.


•••


"Zayn sepertinya ini bukan jalan menuju apartemenku atau apartemenmu. Kita mau kemana?" tanya Gia setelah mereka di dalam mobil.


"Aku ingin mengambil sesuatu di rumah" jawab Zayn sambil menyetir, ia mengambil satu tangan Gia menggeggamnya lalu mengecupnya. sedangkan ia menyetir dengan satu tangan.


Tanpa Gia sadari Zayn tersenyum penuh isyarat, di otaknya sudah menari-nari tentang apa yang akan dia lakukan saat di rumah rahasianya.


Akhirnya mereka pun sampai, Zayn dengan pelan menuntun Gia untuk keluar dari mobil lalu kembali menggendongnya.


"Zayn aku ingin melihat harimau!" Pinta Gia saat masuk.


"Ini jam mereka tidur siang, jadi kau takan bisa melihatnya," dusta Zayn. Dan Gia pun hanya bisa ber oh ria.


Saat sampai di depan kamar, Zayn pun menurunkan Gia dari gendongannya dan mereka pun masuk kedalam kamar.


Saat masuk, Zayn langsung menarik tangan Gia, dan menyudutkan Gia ke dinding. Ia langsung menangkup pipi istrinya dan tanpa aba-aba dia langsung mencium bibir istrinya.


Gia yang mengerti apa yang suaminya rasakan langsung menautkan tangannya pada leher suaminya.


Mereka berciuman sangat lembut, Gia bisa merasakan ada yang tegak dari tubuh suaminya.


Tangan Zayn tak tinggal diam, tangannya sudah berjalan kesana kemari menyentuh bagian titik paling sensitif milik istrinya.


Saat mereka sedang larut, Gia teringat sesuatu. Ia pun melepaskan ciumannya membuat Zayn mendesis tertahan.


"Gia ayolah, kau tidak tau betapa aku sudah merindukan semua yang ada di tubuhmu," gerutu Zayn.


Tanpa mendengar gerutuan Zayn, Gia menarik tangan Zayn untuk ke kamar mandi. "Zayn kau harus mencuci tanganmu dulu," ucap Gia, membuat Zayn mengernyit heran.


"Gia, ini sudah sangat bersih, kenapa kau menyuruhku untuk mencuci tangan lagi!" gerutu Zayn. Ini sudah kesekian kalinya Gia menyuruh Zayn mencuci tangan padahal tangan Zayn sudah lebih dari bersih.


"Sampai aku yakin sudah tak lagi jejak wanita lain di tubuhmu," jawab Gia membuat Zayn mengernyit.


"Kau pernah menggenggam tangan Helga, dan aku tak mau kau menyentuhku sebelum aku yakin jejaknya sudah hilang."


Mendengar jawaban Gia, Zayn tertawa. Ia tak menyangka istrinya membahas kejadian yang lalu. Tapi ia menghentikan tertawanya karena mengingat sesuatu.


Bagaimana kalau istrinya tau bahwa di masa lalu, Zayn sering bermain bersama Ja"lang. Apa yang akan istrinya lakukan dengan senjatanya.


Tiba-tiba, Zayn meringis saat saat membayangkan hal yang terburuk. Bahkan, mungkin istrinya takan mau di sentuh olehnya, atau mungkin istrinya akan menyuruh hal yang lebih gila. Tiba-tiba Zayn bergidik.


Ah, seandainya Zayn tau akan mendapatkan lstri yang masih suci saat dia pertama kali menjamahnya. Ia takan bermain-main bersama para Ja**lang.


"Zayn, kau kenapa?" tanya Gia yang melihat reaksi aneh suaminya.


Zayn menggeleng, kemudian ia bercermin. "Apa aku dari tadi memakai pakaian ini?" tanya Zayn, sebenarnya ia mengalihkan pembicaraan.


"Kau baru sadar?" tanya Gia, Zayn pun mengangguk.


"Gia, kau tunggu dulu di dalam. Aku akan membersihkan diriku dulu," ucap Zayn sambil membuka bajunya menampilkan otot-ototnya yang kekar.


Tanpa Gia sadari, ia maju ke arah Zayn dan memeluk tubuh suaminya. Tentu saja Zayn membalas pelukan istrinya dengan senang hati.


"Kau ingin bermain di kamar mandi, hem?" tanya Zayn, dan polosnya Gia mengangguk. Namun, tak lama, Gia menggeleng.


"Tidak ... maksudku bukan begitu," ucap Gia dengan cepat.


Zayn melepaskan pelukannya, "Aku pun ingin bermain di kamar mandi. Tapi, sepertinya kau akan kesulitan bergerak," ucap Zayn membuat pipi Gia merona. "Kau tau bukan bagaimana permainanku," ucap Zayn lagi berbisik di telinga Gia, bahkan ia menjilat telinga istrinya. "Aku akan menjadikanmu ratu hari ini. Jadi persiapkan dirimu."


Wajah Gia sudah memerah mendengar ucapan Zayn, ia pun segera keluar dari kamar mandi.


•••


Zayn keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pingganya. Aroma maskullin menguar di hidung Gia, membuat Gia mengigit bibir bawahnya. Gia yang sedang duduk di ranjang, tak lepas memerhatikan tubuh suaminya yang sangat menggoda.


Masih dengan memakai handuk, Zayn mendudukan dirinya di dekat Gia, membuat Gia mendongak melihat ke aran Zayn. Zayn tak menyia-nyiakan kesempatan.


Zayn langsung merangkul pundak Gia, lalu mengajak Gia berbaring. Setelah Gia berbaring, Zayn dengan cepat menindih tubuh Gia.


Mata mereka saling mengunci, binar cinta, binar rindu, terlihat jelas ada di mata keduanya.


Zayn mengelus rambut Gia, lalu mencium kening istrinya. "I love you," ucap Zayn.


Gia tersenyum. "I Love you to, Dad." Mendengar Gia menyebutnya Daddy senjatanya semakin mengeras. "Bolehkah hari ini aku menjadi raja ?" tanya Zayn. Gia pun mengangguk malu. "Setelah ini, aku akan menjadikan mu ratu." Setelah mengatakan itu, Zayn pun menggulingkan dirinya ke samping.


Gia langsung bangkit, dari berbaringnya, ia membuka dresnya sendiri dan setelah itu, ia menindih tubuh Zayn.


Dengan ragu dan dengan malu-malu, ia mencium semua inci wajah Zayn. Saat lidahnya bermain-main di lehernya, Zayn mendesah keras saat merasakan nikmat yang Gia berikan.


Lama kelamaan, Gia turun di bagian inti, ia langsung memainkan senjata milik suaminya dengan tangannya dan mulutnya.


Zayn sudah tak bisa lagi menahanya. Apa yang Gia lakukan membuatnya terasa melayang dan menyiksa secara bersamaan. Ia pun sedikit bangkit hingga aktipitas Gia terhenti.


Setelah itu, ia langsung bangkit dan menyuruh Gia berbaring. Wajahnya sudah memerah karena menahan Gairah, setelah Gia berbaring, ia membuka kaki istrinya. Lalu ia menindih separuh tubuh Gia, hingga wajahnya berada di atas perut istrinya.


Ia mencium perut istrinya bertubi-tubi. Setelah itu, ciumannya semakin turun, turun dan turun, hingga ia pun melakukan tugasnya dengan baik, bahkan sangat baik,


Membuat Gia melayang dan membuat Gia meneriakan namanya. Mereka pun larut di dalam gairah yang mereka bangun.


Maafken ga jadi up malemya. Ketiduran Mak. Ini dua bab aku jadiin satu.


Otaku pagi-pagi udah traveloka eh traveling 🤣