Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
Ada apa dengan hatimu?


“Sampai kapan kau akan terus bersikap dingin padaku?” tanya Gabriel lagi, ketika Amelia tidak menjawab pertanyaannya.


Amelia terdiam, ia menatap Gabriel dengan tatapan tidak bisa di artikan. “Sampai aku yakin dengan hatiku,” ucap Amelia. Setelah mengatakan itu, Amelia melepaskan tangannya dari tangan Gabriel. Kemudian ia berbalik lalu berjalan ke kamarnya dengan langkah tertatih-tatih.


Gabriel terdiam saat mendengar jawaban Amelia. Amelia berbicara tentang hati. Apakah Amelia sudah memaafkannya atau Amelia masih belum yakin padanya.


pikiran-pikiran itu membayangi Gabriel. Ia sungguh bingung dengan jawaban Amelia. Ia mengusap wajah, kasar kemudian mendudukkan diri di sofa.


Pikirannya mengembara, mencoba-coba menerka-nerka ucapan Amelia. Amelia sudah berbicara tentang hati. Hanya dua kemungkinan. Amelia berusaha memaafkannya dan membuka hati atau Amelia masih meragukannya dan tak bisa percaya padanya.


“Kenapa susah sekali menaklukan wanita itu!” lagi-lagi, Gabriel mengusap wajah kasar, ia berusaha memutar otak untuk mencari cara lain agar Amelia bisa memaafkannya.


Di masa lalu, ia sungguh tidak ingin melihat Amelia, agar tidak mengganggu waktunya bersama Ariana. Tapi sekarang, justru berbalik. Ia begitu tersiksa ketika tidak melihat Amelia.


Waktu menunjukkan pukul 2 pagi, tidak terasa, Gabriel sudah melamun selama beberapa jam. Gabriel bangkit dari duduknya, kemudian ia berjalan ke kamarnya. Tapi saat melewati kamar Amelia, Gabriel menghentikan langkahnya kemudian terdiam.


Ia menghela nafas lalu menghembuskannya. Seolah ada magnet yang menariknya untuk masuk ke dalam kamar Amelia, terlebih lagi, putrinya sekarang sedang tidur di kamarnya. Itu berarti, Amelia hanya seorang diri dikamar.


Gabriel ingin masuk. Tapi ia tidak seberani itu. di masa lalu, ia tidak takut apapun. Tetapi saat ini ia bahkan tidak berani masuk ke kamar Ibu dari putrinya.


Beberapa menit berlalu, akhirnya Gabriel kalah. Ia memutuskan untuk masuk ke kamar Amelia. Beruntung Amelia tidak mengunci pintu, hingga Gabriel bisa masuk.


Perlahan, Gabriel melongokkan kepalanya. Ternyata, Amelia sedang tertidur, Gabriel masuk kedalam kamar, kemudian berjalan dengan pelan.


Saat sudah berada di dekat ranjang, Gabriel naik ke ranjang dengan perlahan. Lalu, membaringkan tubuhnya di sebelah Amelia dengan posisi meringkuk sama seperti Amelia, dan kini, posisi mereka saling berhadap-hadapan.


Tepat saat Gabriel terlelap, Amelia membuka matanya, karena faktanya, Amelia tidak tidur sama sekali, Amelia tau saat Gabriel masuk ke kamarnya.


Amelia menatap wajah Gabriel lekat-lekat, ia tersenyum. Jika tadi Gabriel yang terus menatap Amelia, sekarang Amelia lah yang menatap Gabriel.


•••


Gabriel mengerjap, kemudian membuka matanya. Ia melihat kesana-kemari. Ia mengerutkan kening, kala ia terbangun bukan di kamarnya. Ia melihat jam di dinding ternyata waktu menunjukkan pukul 7 pagi, tiba- tiba, rasa panik menyerang Gabriel kala ia menyadari ia tertidur di kamar Amelia, kepanikan Gabriel semakin bertambah, ketika Amelia tidak ada di sampingnya.


Wajah Gabriel sudah pucat ketika menyadari semuanya. Padahal, ia hanya berniat melihat Amelia dan kembali ke kamarnya. Tapi yang terjadi, tanpa sadar, dia malah tertidur di kamar Amelia.


Tak bisa dibayangkan, betapa murkanya Amelia saat melihat ia berbaring di ranjang yang sama. Gabriel mengusap wajah kasar, tiba-tiba ia bergidik. Ia takut, Amelia akan lebih dingin dari sebelumnya, saat ini, Gabriel benar-benar mengutuk dirinya sendiri.


Ia turun dari ranjang, kemudian keluar dari kamar Geisha.


“Geysa, Mommy mana ?” tanya Gabriel Ketika keluar dari kamar Amelia.


Griysa yang sedang menonton televisi menoleh. “Mommy bilang, Mommy harus pergi pergi dan aku akan sekolah diantar oleh Daddy.”.


Mendengar jawaban Grisya Gabriel mengusap wajah kasar. “Habislah aku.” ucapnya lagi sambil mengusap wajah kasar.


Gans satu bab dulu ya. Bab lainnya menyusul