
"Sayang ada apa?" tanya Stu saat melihat Simma terdiam. "Sayang!" panggil Stuard lagi saat Simma tak membalas ucapannya.
"Stu, Jo-Josh mengirimiku uang sebanyak ini," balas Simma terbata-bata. Ia menyodorkan ponselnya pada Stuard dan memerlihatkan uang yang baru saja masuk kedalam rekeningnya.
Stuard terkekeh, ia mengembalikan ponsel Simma, lalu mengelus rambut Simma. "Lalu, setelah dia mengirimkan uang, Apa kau akan tergoda Sayang?" tanya Stuard. Membuat Simma langsung memeluk pinggang Stuard.
"Apa kau bisa memberiku uang lebih banyak, Stu," tanya Simma sambil terkekeh membuat Stuard tertawa.
"Omong kosong apa yang kau bicarakan, Sayang. Hartaku semua milikmu. Lalu kenapa kau bertanya lagi," jawabnya. Seketika langsung melepaskan pelukannya dan mengangkat kepalanya untuk menatap Stuard.
"Aku tak butuh uangmu dan semua kemewahan ini. Hadirmu saja sudah lebih dari cukup Stu. Kau adalah cahaya bagi kami. Jika tak ada kau, aku mungkin akan merasa sendiri." Setelah mengatakan itu, Simma kembali memeluk pinggang Stuard, dan Stuard pun langsung mengelus rambut Simma.
Mendengar ucapan Simma, Stuard terasa melayang. Ia mempunyai semuanya. Tapi Simma lah yang mampu memberikan kebahagiaan untuknya. Hati Stuard terlalu lama kosong, hingga saat ia terpikat pada Simma rasanya ia tak butuh apa pun lagi.
"Lalu mau kau apalakan uang itu?" tanya Stuard.
"Bolehkah aku bertemu dengannya. Aku rasa, aku ingin sedikit membalas penghinaanya," jawab Simma, membuat Stuard tersenyum. "Lakukan apa yang kau mau, Sayangku. "
"Bisakah kau mengantarkanku ke bank untuk mengambil uang ini. Aku ingin mengembalikan uanh ini secara cash agar dia merasakan bagaimana rasanya terhina," pinta Simma. Matanya berkilat penuh tekad. Ia akan membalas semua penghinaan Josh pada dirinya.
Mata Simma membulat, mulutnya menganga saat melihat tembok bergeser. Ia langsung bangkit dan menghampiri Stu.
"Stu apa ini?" tanya Simma. Ia tak bisa mengalihkan pandangannya kedepan membuat Stuard terkekeh.
"Ini brankas. Ayo masuk," ajak Stuard. Ia menarik tangan Simma lalu membuka sebuah pintu yang ia sebut brankas.
"Se-Stu, apa ini?" tanya Simma saat pintu brankas terbuka. Ia langsung bersembunyi di belakang tubuh Stuard karena tak sanggup melihat pemandangan di depannya. Di ruangan itu, di penuhi oleh uang yang terjejer rapih dan emas batangan. Ruangan itu sangat luas, bisa di bayangkan berapa uang yang di simpan Stu di dalam tempat itu.
"Stu, apa kau bandar narkoba. Atau kau seorang Mafia?" tanya Simma membuat Stuard tertawa. Ia berbalik lalu mengajak Simma keluar.
Ia berjalan ke arah sofa, kemudian ia mendudukan diri di sofa dan mengarahkan Simma agar duduk di pangkuannya.
"Aku tak punya siapa-siapa di dunia ini, orang tuaku meninggal dalam kecelakaan pesawat. Selama aku mulai memimpin perusahaan. Tak ada yang menghabiskan uangku. Aku tak tau aku bekerja untuk siapa," ucap Stuard. Terlihat jelas gurat kesedihan di wajah Stuard. Membuat Simma langsung mencium kening Stuard.
"Kau mempunyai kami, Dad!" jawab Simma. Ia mengambil tangan Stuard lalu menyimpannya di perutnya
Hanya kata-kata sederhana dari Simma mampu membuat Stuard melayang. Ia langsung menggendong Simma dan membaringkan Simma di ranjang.