
Simma merebahkan kepalanya di paha Stuard, tubuhnya sungguh lemah, Stuard benar-benar menguras tenaganya.
"Mau kembali kedalam sekarang, hmm?" Tanya Stuard, ia mengelus rambut istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Stuarddd aku lelah!" Goda Simma, ia sengaja berteriak kemudian tertawa dengan kencang. Sungguh, ia bahagia malam ini. Sangat bahagia.
Mendengar teriakan istrinya, Stuard tertawa. "Ini terakhir kalinya kau ku ijinkan memanggilku hanya dengan namaku," kata Stuard. Ia mencubit gemas pipi Simma Simma.
"Dad, secinta apa kau padaku?" tanya Simma. Membuat Stuard terkekeh. "Belah dadaku. Maka kau akan tau, bahwa hanya ada namamu di hatiku," jawab Stuard sambil tergerak.
Simma tersenyum mendengar jawaban Stuard, tiba-tiba. Ia teringat sesuatu.
"Dad, apa kau masih kecewa pada kami. Walau bagaimana pun, putraku telah menghilangkan satu-satunya kenangan dari orang tuamu."
"Sayang, aku hanya manusia biasa. Terkadang, ada kalanya aku kecewa dan ingin menyendiri. Tapi, kau tau. Dari situ aku belajar. Bahwa aku apa yang aku genggam sekarang lebih berarti dari kenangan masa lalu. Seandainya aku bisa mengulang waktu. Aku tak akan menampakan rasa kecewaku di hadapan kalian, hatiku hancur kala Gabby dan Gabriel memandangku dengan tatapan asing, dadaku sesak ketika kau hanya memanggil namaku, menatapku dengan kecewa dan mengatakan bahwa Gabby dan Gabriel hanya anakmu. Aku sadar, sikapku sangat menyakiti kalian. Saat itu, aku mengikuti kalian ke super market, dan aku mendengar ucapan Gabriel pada Gabby, mereka menganggap aku membenci mereka. Aku bersumpah demi apapun, aku sangat menyayangi mereka. Aku menyesal dengan sikapku, hingga kini, mereka membenciku," kata Stuard
Suasana yang semula hangat dan penuh cinta mendadak di selimuti keheningan. Stuard dengan penyesalannya dan Simma kembali ke ingatan saat mereka keluar dari mansion.
Simma mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Stuad saat merasakan air mengenai keningnya. Mata Simma membulat saat melihat mata Stuard membasah.
Simma bangkit dari berbaringnya dan mendudukan dirinya. Ia menangkup kedua pipi Stuard dan menghapus air mata Stuard
"Jangan menangis, Dad. Aku yakin, Gabby dan Gabriel akan memaafkanmu," kata Simma,membuat Stuard sedikit tersenyum.
"Sayang, bantu aku untuk mengambil hati Gabby dan Gabriel," pinta Stuard. Hati Stuard teriris perih kala membayangkan putra putrinya akan terus menjauhinya.
"Bukankah kau lebih tau sifat anak-anakmu. Cepat atau lambat, mereka pasti akan memaafkanmu," kata Simma, Stuard kembali tersenyum saat istrinya menyebut kata anak anakmu.
"Ayo masuk, aku rindu tidur di ranjang ku!" Ucap Simma ketika Stuard terlihat maju untuk menciumnya, jika sudah begini, Simma yakin bisa-bisa ... mereka akan lebih lama berada di tempat untuk mengulang hal panas kembali.
•••
Keesokan harinya.
Pagi ini, Stuard mulai melakukan pendekatan pada Gabby dan Gabriel, ia sengaja masuk ke kamar kedua anaknya untuk mengajak mereka sarapan bersama.
Tapi, Gabby menolak sedangka Gabriel tak mau bicara padanya. Percayalah, apa yang di lakukan Stuard, meskipun sepele tapi begitu menyakitkan bagi kedua anak itu.
"Biar aku yang bicara pada mereka, Dad," ucap Simma. Ia mengelus bahu Stuard kemudian keluar dari kamar. Ia sengaja belum menemui Gabby dan Gabriel karena ingin memberi waktu untuk Stuard.
Saat Simma keluar, terdengar suara dering ponsel dari arah nakas. Stuard berjalan ke arah nakas, ternyata ponsel lama istrinya yang berdering.
Karena penasaran, ia pun membuka ponsel milik istrinya. Terpampang nama Kareen di depan layar ponselnya, ternyata Kaka iparnya yang mengirimi istrinya pesan.
Ia pun membukanya, dan membaca pesan teesebut.
[ Aku akan kirimkan uang untukmu dan belilah tiket dan pulang ke Argentina. Simpan kedua anakmu di panti asuhan dan aku akan mengenalkan mu pada lelaki yang lebih kaya] Tulis Kareen dalam pesannya.
Mata Stuard membulat saat melihat pesan yang dikirimkan oleh Kaka iparnya. Emosi berkobar hebat di dadanya. Bagaimana mungkin Kareen menyuruh Simma untuk menikah lagi dan menyimpan Gabby dan Gabriel di panti asuhan.
Tak cukup sampai di situ, Stuard kembali melihat pesan-pesan dari Kareen yang lain. Emosi Stuard semakin menjadi-jadi ternyata Kareen selalu mengirim pesan dengan berisi umpatan pada istrinya.
"Aku akan menghancurkanmu, Kareen!" geram Stuard. Ia berusaha meredam suaranya. Padahal ia ingin sekali membanting sesuatu.
Ia berjalan ke arah ranjang dan mengambil ponselnya, lalu menelpon Rain
"Bawa Kaka iparku kemari, bilang padanya
Aku ingin menemuinya!" setelah mengatakan itu pada Rain, Stuard mematikan panggilannya dan berjalan keluar untuk menyusul istrinya.
Saat ia akan berbelok, matanya menangkap ke arah meja makan, di mana Gabby dan Gabriel sudah duduk di sana. Sejenak, hati Stuard berbunga-bunga saat melihat Gabby dan Gabriel. Namun, tak lama ia mengusap wajah kasar saat mengingat Kareen. Sepertinya, ia harus menunda membahas ini pada istrinya.
Hate komen blok 😎