Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
387


Saat berada di pesawat dan akan kembali ke pulau pribadi mereka. Ariana masih terdiam. ia hanya menunduk di pelukan Justin


Diia masih setia dengan diamnya. Ia hanya mengingat orang tuanya dan mengingat tatapan Justin yang tadi yang tadi menatapnya dengan tatapan datar walaupun hanya sebentar.


Untuk pertama kalinya, selama mereka saling mengenal dan selama mereka menikah. Justin menatapnya seperti itu ada, ketakutan tersendiri dalam diri Ariana ia sungguh takut jika ia melakukan kesalahan lain, Justin akan membuangnya dan meninggalkannya.


“Apa kau lapar Sayang?” tanya Justin. Ia


terus mengelus punggung istrinya karena ia tahu apa yang dirasakan oleh Ariana.


Ia mengutuk dirinya saat tadi, ia menatap Ariana dengan tatapan datar. Ia lupa, istrinya adalah orang yang perasa dengan tingkat tinggi Hingga, perubahan raut wajah sekecil apapun akan ditangkap oleh istrinya. Kini, dia dihantam ketakutan yang luar biasa. Bagaimana jika istrinya kembali terpuruk dan kondisi istrinya akan kembali down.


Mendengar ucapan jastin, Ariana menggeleng “Tidak aku masih kenyang,” kata Ariana


.


Jangankan memikirkan makanan. Hari ini pikirannya terlalu kacau. Yang ada, ia hanya memikirian keluarganya dan tatapan Justin tadi. Belum lagi moodnya yang sedang turun karena hormon kehamilannya.


•••••


Setelah sampai di rumah, Ariana langsung pergi ke kamar mandi. Dan sekarang, ia sedang terduduk lesu di atas bidet toilet sedangkan Justin langsung keruang kerjanya.


Tangis yang sedari tadi di tahan mati-matian akhirnya luruh juga. Ia memeluk dirinya kala perih itu menderanya.


Ia tak menyangka akan melihat kondisi sang ayah yang berada di atas kursi roda lalu tampilan Berliana yang lusuh serta perut karena yang membesar dan Ariana bisa simpulkan bahwa sang adik sedang mengandung.


Lalu setelah mengingat hal itu, ingatannya kembali pada tatapan mata Justin yang menatapnya dengan tatapan datar. Seketika rasa sakit kembali menusuk dada Ariana.


Ariana memanjangkan kakinya. Ia menatap kakinya lekat-lekat. ”Kenapa kakiku harus Cacat. Kenapa aku terlahir seperti ini! kenapa!” Ariana berteriak di akhir kalimatnya.


Ia bangkit dari duduknya, kemudian mengamuk histeris. Ia melempar semua barang-barang yang disekitarnya.


Dengan berderai air mata, Ariana berjalan ke arah shower, lalu menyalakan keran dan ia mendudukkan dirinya di bawah kucuran Shower kemudian ia menyayat kakinya, hingga darah langsung menetes.


Ini mungkin bisa di sebut Titik rendah di hidup Ariana, di mana rasa takut, rasa minder dan dan rasa sesak melebur menjadi satu ...


••••


Justin masuk ke kamarnya. Ia mengerutkan keningnya karena Ariana tak ada di mana pun. Lalu tak lama, ia mendengar gemericik air dari kamar mandi. Ia pun berjalan ke arah kamar mandi.


“Sayang kau di dalam!” tanya Justin. Namun, Ariana tak menjawab. Saat Ariana tak membalas ucapannya. Justin berniat untuk pergi ke walk in closet. Namun, tiba-tiba, ia mempunyai firasat yang buruk.


“Sayang ... Sayang!” panggil Justin. Ia menggedor-gedor pintu. Namun, tak ada sahutan dari dalam. Seketika Justin di hinggapi kepanikan. Ia menggedor-gedor pintu, dengan keras. Namun, tetap tak ada sahutan dari dalam. Dalam sekejap, kepanikan Justin bertambah. Wajahnya sudah pucat keringat dingin membasahi seluruh wajahnya. Ia pun memutuskan untuk mendobrak pintu kamar mandi.


“Sayang!” teriak Justin saat melihat Ariana beradad di kucuran Shower. Ia terpekik kaget, nafasnya memburu saat melihat istrinya terduduk di bawah kucuran shower dengan bersimbah darah.


Ia pun dengan segera menghampiri Ariana dan langsung menggendong tubuh Ariana yang sudah tak sadarkan diri.


••••


Justin menangis tergugu saat melihat wajah pucat istrinya, ia mengecup punggung tangan Ariana bertubi-tubi. Saat ini, Ariana sedang terbaring di ranjang, tentu saja ia sudah di obati oleh dokter.


Tak lama, Justin bangkit dari duduknya dan berpindah posisi duduk, hingga kini ia duduk di depan paha istrinya.


Ia meringis saat melihat paha istrinya yang terkena sayatan silet, ia lebih mendekatkan wajahnya kemudian meniup-niup kaki Ariana. Dan seketika itu juga, Ariana membuka matanya


Sedangkan Josh dan Briana


Gengs, ini aku lagi kasih gambaran ya gimana perjuangan Justin nyembuhin Trauma Ariana yang punya luka sejak kecil


Hatekomen blok