
"Zayn!" panggil Gia, karena suaminya tak kunjung menjawab ucapannya.
"Kau ingin aku menyerangmu lagi?" tanya Zayn saat Gia memanggil namanya, tanpa embel-embel Daddy.
Mendengar ucapan suaminya, Gia yang sudah melihat Zayn, langsung tertunduk lagi. Tak lama Gia terisak.
Zayn menepuk kening saat menyadari bahwa sikap istrinya sangat sensitif.
Zayn memegang dagu Gia dan mengangkatnya hingga kini Gia melihat ke arahnya dengan wajah yang berderai air mata.
"Nyonya Smith! bisa kita mulai bicara?" tanya Zayn dengan tersenyum. Ia menghampus air mata istrinya dengan ibu jarinya.
Mendengar pertanyaan suaminya, Gia cemberut, namun tak urung dia menganggukan kepalanya.
"Pertama. semarah apa pun kau padaku. Jangan memanggil namaku langsung, kau mengerti?" Gia pun mengangguk, bagai seorang murid yang sedang di ceramahi oleh gurunya.
"Ini memang sedikit gila. Tapi, aku tak mengajakmu karena aku takut kau akan bertemu dengan Zidan."
"Emm ... Emm." Baru saja Gia akan bertanya, Zayn sudah mencapit mulutnya
"Jangan menyelah sampai aku selesai berbicara, kau mengerti?" Dengan cemberut Gia pun menganggukan kepalanya lagi.
"Semenjak kau tau masa laluku yang buruk, aku selalu ketakutan kau akan merasa jijik padaku dan aku takut, ujung-ujungnya kau akan meninggalkanku. Masa laluku dan Zidan sangat jauh berbeda, mungkin masa lalunya hanya pekerjaan, pekerjaan dan pekerjaan, berbeda denganku yang selalu melakukan hal buruk. Kau dan Zidan pernah bersama, aku hanya takut, kau kembali lagi padanya, karena kau merasa jiji padaku," ucap Zayn.
Dia pernah mencintai Alisia sepenuh hatinya. Namun ternyata, hatinya, hancur-hancur berkeping-keping karena pengkhianatan Alisia.
Zayn memang sering menggunakan jal*ng untuk penghangat ranjangnya. Tapi, ia adalah lelaki setia pada pasangannya. Jika seorang wanita sudah menggenggam hati seorang Zayn, maka wanita itu bisa memegang kendali atas seluruh hidup lelaki yang sangat terkenal dengan kearoganannya.
Dan kini, setelah mendapatkan Gia yang masih suci dan polos, Zayn tak mau kecolongan lagi. Cukup ia terluka sekali karena kehilangan Alisia. Gia dan calon anaknya adalah hidupnya, ia akan mempertahankan Gia dengan cara apapun.
Hati Gia terenyuh mendengar penuturan suaminya. Di balik sikap pongah dan dinginnya di luar, seorang Zayn smith adalah suami yang penuh cinta.
Gia menghapus air matanya. Ia tersenyum, tangannya tergerak mengelus wajah Zayn, lalu menghadiahi Zayn dengan kecupan di bibir.
"Aku mencintai Zayn yang sekarang, bukan Zayn yang dulu, aku mencintai suamiku dan calon ayah dari anakku. Perasaanku pada Zidan sudah menguap, cintaku hanya untukmu, Dad," ucap Gia. Seketika Zayn mengembangkan senyumnya. Ia mengambil tangan Gia dan mengecupnya.
"Sekarang, ganti bajumu. Bukankah kau ingin menghambur-hamburkan uangku?" tanya Zayn, ia mencium bibir istrinya dan melummatnya sebentar.
"Siall!" batin Zayn menggeram. Hanya mencium bibir istrinya saja, membuat salah satu tubuhnya bereaksi.
"Aku tak ingin belanja lagi, tapi aku ingin yang lain," ucap Gia dengan nada malu-malu.
"Kau ingin apa, Hemm?" tanya Zayn.
"Aku ingin bertemu Mommy Sonya dan menginap di mansion, aku ingin tidur di kamar yang kau tempati dulu," pintanya.
Zayn tampak berpikir sejenak. Tak ada gunanya untuk terus cemburu pada adiknya. Harusnya, ia sadar, begitu baiknya seorang Zidan dan tak mungkin menusuknya.
"Hanya satu hari, akupun akan mengajak ayah untuk menginap di sana."
Mendengar ucapan Zayn, Gia pun mengangguk dengan semangat.
•••
Satu bulan kemudian.
...Sonya meremas tangannya, saat ini, ia sedang duduk di kursi tunggu. Ia menunggu suster memanggil namanya. Hari ini, Sonya dan Albert memutuskan untuk memeriksa rahim Sonya. pasalnya, sudah beberapa hari ini, Sonya merasa lemah dan terkadang mual. ...
"Kau gugup Sonya?" tanya Albert. Belum Albert menjawab nama Sonya sudah di panggil oleh suster.
"Albert kita batalkan saja konsultasi ini, aku belum siap," lirih Sonya terbata-bata.
Albert ...
Satu bab dulu ya mak, otor ngantuk 😚😚