Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
308


Sima masih terdiam saat mendengar ucapan keren dan suaminya. kakinya seolah tertanam saat melihat pergulatan antara Kareen dan Stuard. Jantungnya terasa di remas-remas saat mendengar ucapan Stuard yang membahas tentang Kareen yang menyuruh dirinya menyimpan Gabby dan Gabriel di panti asuhan.


Tak lama, Simma tersadar saat Kareen berteriak padanya. Hingga Simma melihat ke Kareen dan Stuard. Tubuh Stuard menegang saat melihat Simma. Baru saja ia akan melepaskan cekalan tangannya dari kareen dan menghampiri Simma. Gerakannya terhenti saat mendengar ucapan istrinya.


"Aku menunggumu di luar, Dad," kata Simma. Membuat Stuard menarik sudut bibirnya. Kini, ia tau istrinya tak mempermasalahkan apa yang ia lakukan. Dengan kata lain, Simma mendukung penuh keputusannya.


Setelah memastikan Simma keluar dari tempat ia dan Kaka iparnya bergulat. Stuard melihat ke arah Kareen. Ia menyeringai kemudian melemparkan tubuh Kareen hingga Kareen terpental.


Dengan berjalan tertatih, Stuard menghampiri Kareen. Lalu, menghajar Kareen kembali.


"Aku menutupi kasusmu, karena kau Kaka iparku! Tapi berani sekali kau memaki istriku dan menyuruhnya menaruh kedua anakku di panti asuhan." Teriak Stuard.


Kareen sudah di ambang batas, begitupun Stuard. Tapi, setiap kali Stuard akan tumbang, makian Kareen pada istrinya terngiang-ngiang kembali. Hingga kekuatannya terisi kembali dan dia kembali menghajar Kaka iparnya.


"Mati saja, kau matiiii!" Stuard berteriak seperti orang kesetanan. Kakinya menginjak-nginjak punggung Kareen dengan keras. Ia tak perduli Kareen mati. Yang jelas, Kareen harus membayar semua rasa sakit istrinya.


"Tuan!" teriak Rain. Ia yang sedari tadi hanya menunggu di pinggir langsung menghampiri Stuard. Saat Stuard terlihat semakin menggila. Ia langsung menarik tangan bosnya.


"Ahh!" Teriak Stuard. Ia menghempaskan tangan Rain, Baru saja ia akan menginjak lagi punggung Stuard. Rain meneriakan nama Simma, hingga Stuard tersadar.


Saat sudah berada di luar, mata Stuard mencari kesana kemari karena istrinya tak ada di mana pun. Sedangkan mobil yang di pakai oleh istrinya, masih terpakir.


"Dimana Nyonya?" tanya Stuard saat supir yang mengantar Simma menghampirinya.


"Nyonya pergi arah sana Tuan." Supir itu menunjuk, arah kanan. Kemana Simma pergi. Tadi, supir itu ingin mengikuti Simma. Tapi, Simma melarangnya.


Saat mengetahui kemana istrinya pergi, Stuard langsung berlari dan mencari Simma. Ia tak perduli dengan rasa sakit yang ia rasakan. Pikirannya hanya mencari Simma dan menenangkan istrinya. Ia yakin, saat ini Simma pasti sedang takut padanya.


Saat ia berjalan, matanya menangkap istrinya sedang terduduk kursi sisi jalan. Stuard mengehela napas lega. Ia segera berlari, menyebrang dan menghampiri istrinya.


Saat sudah mendekat, Stuard membuka mantelnya. Ia meyematkannya pada tubuh istrinya karena udara cukup dingin


Saat Stuard menyematkan mantel ke tubuhnya, Simma tersadar, ia langsung mendongak menatap Stuard. "Da-Dad ...." Simma langsung terisak saat melihat Stuard. Tubuhnya bergetar saat melihat wajah Stuard yang babak belur dan bersimbah darah, perlahan isakan itu berubah menjadi tangisan.


Stuard mendudukan diri di samping Simma lalu membawa Simma kedalam pelukannya. "Maafkan aku, Sayang. Maaf karena aku menghajar kaka mu. Tapi aku sungguh tak bisa menahan diri saat tau apa yang ia lakukan padamu," kata Stuard, membuat tangis Simma semakin kencang. Padahal, Simma menangis bukan karena Stuard menghajar kakanya. Tapi, karena ia takut ada yang terjadi dengan suaminya. Walau bagaimana pun, Kareen tak bisa di anggap enteng.


Scroll lagi iess