
Kelly terdiam saat Arleta memergokinya, ia langsung melihat Arleta yang juga sedang melihatnya.
"Kelly!" panggil Arleta lagi. Ia memegang tangan Kelly.
"A-arleta, ini daddyku. Daddyku sudah meninggal saat aku lahir dan Daddyku memang mirip dengan kakakmu," ucap Kelly terbata-bata. Matanya mulai berkaca-kaca saat mengatakan bahwa ayahnya telah meninggal, ia terpaksa berbohong.
Mendengar ucapan Kelly, seketika seisi kelas mendadak hening. Guru lukis Kelly pun tampak terdiam. Kelly tak sanggup lagi menahan air matanya saat semua menatapnya. Ia hanya bisa tertunduk lesu.
Arleta menaruh lukisannya di meja dan menghampiri Kelly. Ia menepuk pundak pelan pundak Kelly membuat Kelly menoleh.
"Kau boleh ikut main ke Mansionku agar bertemu dengan kakaku," ucap Arleta membuat Kelly tersenyum.
"Kau jangan bersedih, Sayang. Kami semua menyayangimu," sela guru lukis Kelly yang menghampiri Kelly membuat Kelly mengembangkan senyumnya.
••
Semua siswa sudah pulang, seperti biasa, Kelly terduduk menunggu Simma. Saat terduduk, ia menatap tangannya yang penuh dengan cat lukis.
"Dad, apa suatu saat nanti aku bisa memelukmu," lirih Kelly dengan berderai air mata. Itulah ucapan yang selalu Kelly gumamkan setiap taun, saat hari ayah akan tiba.
Kelly terlalu jenius untuk anak sebayanya. Tak perlu di jelaskan bagaimana sang ibu melewati hidupnya selama ini. Saat ia melihat sang ibu menangis diam-diam, ia tau dan ia mengerti bahwa kehidupan sang ibu, tidaklah mudah.
"Kelly!" panggil Simma, dari arah belakang, Mendengar suara Simma, Kelly buru-buru menghapus air matanya.
"Maafkan, Aunty yang telat lagi menjemputmu," ucap Simma saat mendekat ka arah Kelly.
"Kelly kau menangis, ada apa?" tanya Simma saat mendekat ke arah Kelly.
Kelly tersenyum, lalu menggeleng. "Aku kelilipan Aunty," jawab Kelly. Ia menerima uluran tangan Simma dan mulai berjalan.
•••
"Honey!" panggil Anne. Ini sudah kesekian kalinya Anne memanggil Zidan. Namun, Zidan sama sekali tak merespon. Ia malah anteng dengan laptop dan memeriksa beberapa berkas.
"Honey!" panggil Ane lagi, kali ini Zidan tersadar, kemudian mendongak menatap Ane.
"Ada apa?" tanya Zidan dengan datar. Ia sedang mengerjakan pekerjaan yang cukup berat dan ia ingin sekali mengusir Ane dari ruangannya agar Ane tak mengganggu. Tapi sayang, Zidan tak setega itu.
"Aku bosan!" keluh Ane.
Zidan menyenderkan punggungnya kebelakang dan menatap Ane dengan dingin. "Ane, aku sedang bekerja," jawab Zidan.
"Apa pekerjaanmu masih lama?" tanya Ane dan Zidan pun mengangguk. Ini masih jam 10 pagi, tentu saja pekerjaan Zidan masih menumpuk.
"Baiklah, aku akan menunggumu," ucap Ane lagi ia kembali duduk di sofa sambil memeriksa ponselnya.
••
Audrey menggeliatkan tubuhnya, ia terlalu larut dalam pekerjaan barunya. Ia melihat ponsel ternyata waktu makan siang sebentar lagi. Saat ia akan kembali melihat laptop di depannya, Ponselnya berdering.
"Kelly!" lirih Audrey sambil tersenyum saat melihat ternyata Kelly yang memanggilnya.
"Hallo, Kelly," ucap Audrey saat mengangkat panggilannya.
"Mommy, aku ingin sesuatu. Bisakah aku mendapatkannya?" tanya Kelly di sebrang sana, membuat Audrey tersenyum karena Kelly sangat jarang meminta sesuatu
"Tentu, Sayang. Kau ingin apa, Hmm?" tanya Audrey.
"Mommy, saat kau pulang, bawakan aku burger."
"Tentu, Sayang. Mommy akan memberikannya untukmu. Ini waktumu tidur siang. Jadi, kau harus tidur oke." Setelah mengatakan itu dan mendengar jawaban dari putrinya. Audrey pun menutup panggilannya.
Scroll lagi ya