
Beberapa jam kemudian
Zayn terus mundar-mandir di depan ruang operasi, setelah amukan Kelly tadi, Zayn dan Zidan berusaha mengendalikan dirinya. Mereka sadar, menyesal tak ada gunanya semua sudah terjadi dan yang mereka bisa lakukan, adalah menebus kesalahannya pada Arletta dan berharap adik angkat mereka selamat di dalam ruangan operasi agar mereka bisa menebus kesalahan mereka.
Wajah Zayn masih memucat, tubuhnya masih bergetar. Rasanya ia tak sabar menunggu dokter keluar dari dalam dan berharap dokter keluar membawa kabar baik dengan berhasil menyelamatkan Arleta.
Setelah Arleta sadar, ia akan meminta maaf dan menebus kesalahannya, jika Arleta tak memaafkannya, ia akan berlutut dan bersimpuh agar sang adik mau memaafkannya, Setelah semua yang ia lakukan pada sang adik ia tak yakin Arleta bisa memaafkannya dengan mudah.
Tak lama, Zayn menghentikan langkahnya ketika melihat lampu operasi sudah hijau pertanda operasi sudah selesai, 15 menit kemudian, salah satu dokter yang menangani Arleta keluar dari ruangan operasi dan Zayn langsung menghampiri dokter tersebut.
“Do-dok, Bagaimana kondisi adik saya?” tanya Zayn, ia berbicara dengan bibir bergetar. Ia sungguh tak sanggup mendengar jawaban dokter, apalagi melihat wajah dokter yang lesu membuat ketakutan Zain semakin menjadi-jadi.
Dokter menghela nafas, kemudian menghembuskannya. “Kami berhasil mengoperasi pasien, hanya saja kami harus menyampaikan kemungkinan lain.” Dokter menghentikan ucapannya sejenak, kemudian menatap Zayn lekat-lekat.
Jantung Zayn berdetak dua kali lebih kencang saat mendengar jawaban dokter, sungguh, rasanya ia akan kehilangan kesadarannya karena ia tak sanggup mendengarkan apa yang akan dokter katakan selanjutnya.
“Jika pasien tidak sadarkan diri dalam waktu yang diperkirakan. Maka pasien akan dinyatakan koma. Walaupun kami berhasil menghentikan perdarahan di otaknya, tapi benturan di kepalanya cukup keras hingga kemungkinan pasien mengalami koma.
Mendengar jawaban dokter, Zayn memegang dinding karena rasanya, ucapan dokter bagai petir yang menyambarnya di siang bolong.
Apalagi mendengar dokter mengatakan bahwa kemungkinan besar Arleta akan mengalami koma. Ia benar-benar merasa sebagai manusia terjahat di muka bumi ini.
Zayn tersadar ketika Gia menepuk bahunya, ia berbalik lalu memeluk istrinya dan menumpahkan tangisannya. Ia tak bisa membayangkan Bagaimana jika tak ada Arletta, kemungkinan putrinyalah yang akan terbaring di sana dan naasnya orang yang menyelamatkan putrinya adalah orang yang ia sakiti sedemikian rupa, hingga Arleta hancur berkeping-keping.
“Kami akan memindahkannya ke ruang ICU. silakan menjenguknya satu persatu setelah kami mengecek kondisi pasien secara berkala.”
••••
“Mommy ... Daddy.” Arleta terpekik senang ketika melihat Sonya dan Albert sedang duduk di sebuah taman. Ia langsung berlari menghampiri Sonya dan Albert.
Arleta memejamkan matanya ketika merasakan elusan tangan sang ibu yang sudah sangat lama sekali ia rindukan.
“Mommy juga merindukanmu Bagaimana kabarmu di sana?” tanya sonya, seketika Arleta melepaskan pelukannya, kemudian ia menatap Sonia dengan mata yang berkaca-kaca. Entah kenapa mendengar pertanyaan Sonya rasa sedih menghinggapi Arleta, tapi ia tak tahu kenapa ia bisa merasa sedih.
“Mommy Daddy apa kalian akan pergi lagi?” tanya Arleta ia malah bertanya hal lain. “Bolehkah aku ikut bersama kalian?" tanya arleta lagi.
“ Kau mau ikut bersama kami?” ucap Albert Aleta mengangguk tanpa ragu. Kemudian Sonya bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Arleta.
“Ayo pergi!” Ajak Sonya, ia mengulurkan tangannya pada Arleta Arleta pun dengan senang hati menerima uluran tangan Sonya.
••••
Saat Zayn mendudukan dirinya di samping brankar sambil menangis, tiba-tiba Zayn terpekik kaget saat mendengar suara dari layar monitor, garis di layar monitor menjadi lurus pertanda jantung Arleta berhenti berdetak.
Zayn dihinggapi kepanikan yang luar biasa hebat, ia langsung berlari ke arah luar untuk mencari dokter. Beruntung saat ia akan keluar, dokter dan para perawat masuk ke ruangan Arleta untuk mengecek keadaan Arleta.
Melihat Zayn yang panik, dokter langsung berlari ke arah berangkar saat mengetahui detak jantung Arleta berhenti, Dokter langsung berteriak pada suster untuk mengambil alat pemacu jantung, kemudian dokter mulai menggerakkan alat tersebut ke tubuh Arleta, berharap Arleta bisa diselamatkan.
Seketika, di ruangan itu terjadi kepanikan yang luar biasa hebat. Zayn sudah ambruk di lantai saat melihat dokter memakai alat pemacu jantung.
Setelah sekian lama berjuang, monitor Arleta kembali berbunyi dan membuat dokter menghela nafas lega, detak jantung Arleta sudah kembali perjuangan mereka tak sia-sia.
Gila sih, sedih banget pas Arleta hampir koma terus ketemu Sonya dan Albert di mimpi.
Udah up 3 bab nih ye, tak cium nih kalau bilang up dikit.