Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
Terlalu ganas


Amelia merebahkan kepalanya di dada Gabriel. Nafas mereka masih terengah-engah, karena mereka baru saja mencapai puncaknya bersama-sama. Gabriel menyenderkan tubuhnya ke belakang, agar Amelia semakin nyaman bersandar di dadanya.


Percintaan mereka barusan, begitu hebat dan begitu menggelora, Gabriel bermain pelan. Tapi, itu hanya berlaku di detik-detik pertama. Tapi menit selanjutnya, Gabriel bermain buas. Namun tetap teratur.


Tentu saja ia sudah bertanya kepada Amelia dan meminta persetujuan istrinya, dan Amelia pun mengangguk, menyetujui ucapan Gabriel.


Sehingga pada akhirnya, mereka pun larut dalam surga dunia.


“Haus?” tanya Gabriel. Amelia pun mengangguk, lalu ia menegakkan tubuhnya. Baru saja ia akan turun dari pangkuan suaminya, Gabriel langsung menahannya.


“Gabriel, aku haus. Aku ingin minum,” ucap Amelia.


“Sebentar, lima menit saja,” kata Gabriel. Ia kembali, menarik tubuh Amelia agar Amelia bersandar di dadanya.


Diam-diam, Amelia tersenyum saat mengingat percintaannya barusan. Awalnya ia ragu, untuk memulainya. Tapi pada akhirnya ia yakin dengan dirinya sendiri.


Barusan, walaupun Gabriel bermain ganas. Tapi, Gabriel tetap memperlakukan tubuhnya dengan istimewa. Gabriel benar, jika ia tidak memberanikan diri. Ia akan terus ketakutan dan tidak akan pernah bisa melangkah.


Tiba-tiba, Amelia menegakkan kepalanya kemudian ia menatap Gabriel, Gabriel yang ditatap langsung langsung mengelus pipi Amelia.


“Why, Baby?” tanya Gabriel. “Apa kau ingin bertanya sesuatu padaku?” tanya Gabriel Amelia pun mengangguk.


“A-apa kau puas?” tanya Amelia. Pipinya merona saat bertanya pada Gabriel. Gabriel yang sedang menyandarkan tubuhnya ke belakang, menegakkan tubuhnya kembali. Hingga, wajahnya dan wajah Amelia sejajar.


“Aku sangat puas, Baby, Kau sangat membuatku gila,” jawab Gabriel. Ia kembali membelai pipi Amelia membuat Amelia kembali memejamkan matanya.


•••


“Apa aku bermain terlalu ganas?” Gabriel sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia bertanya, ketika melihat Amelia seperti kesakitan saat akan berjalan.


Saat ini, mereka sudah kembali memakai pakaiannya masing-masing dan akan keluar dari ruangan, dan berencana menemani putra-putrinya bermain.


“Gabriel, kau duluan saja. Aku akan menyusul nanti," jawab Amelia. Ia yang sudah bangkit dari duduknya, kembali mendudukan dirinya saat merasakan kakinya begitu perih.


Melihat Amelia, Gabriel meringis. Ia akui. Tadi, Ia bermain begitu ganas, Gabriel membungkuk memberi punggungnya pada Amelia. “Ayo naik, kita istirahat di kamar saja. Biar aku yang menemani anak-anak bermain.” tanpa diperintah dua kali, Amelia pun melompat ke punggung Gabriel dan setelah itu, Gabriel bangkit dari berjongkoknya lalu keluar dari ruangan.


Saat berjalan, Gabriel menghentikan langkahnya. Lalu, ia menoleh. Amelia yang mengerti apa yang Gabriel inginkan, langsung mencium pipi Gabriel dari samping. Setelah itu, ia menyembunyikan wajahnya ke bahu suaminya, karena merasakan malu yang luar biasa.


“Mommy ... Daddy!” panggil Grisya dari arah belakang, membuat Gabriel dan Amelia menoleh.


“Grisya, kau dari mana?” tanya Gabriel. Ia lupa, bahwa Tadi ia menyuruh putrinya untuk mencari Amelia.


Grisya tak menjawab, ia melihat kedua orang tuanya tampa berkedip. “Bukankah tadi Daddy menyuruh menyuruhku untuk mencari Mommy, karena kaki Daddy sakit. Lalu, kenapa sekarang Daddy yang menggendong Mommy, kenapa sekarang jadi kaki Mommy yang sakit,” kata Grisya, membuat tubuh Gabriel diam mematung.


Gabriel ....


Gas komen gak komen besok up satu bab hahahahhahaha


Jangan lupa mampir ke kisah Gabby ya. di judul Dokter meets Ceo