Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
209


Simma menatap ke arah luar dengan pandangan kosong. Saat ini, ia sedang berada di mobil untuk pulang ke apartemennya diantarkan oleh Rain.


Ia menatap jalan dengan pandangan kosong. Hatinya benar-benar hampa, seolah ada yang hilang dari dirinya, bayang-bayang Stuard saat tersenyum menari-nari di otaknya.


"Nona!" panggil Rain, Simma yang sedang melamun pun tersadar.


"Ini sudah sampai," ucap Rain.


"Maaf, bisakah anda mengantarkan saya ke caffe?" tanya Simma. Rain pun mengangguk, kemudian ia mulai menjalankan mobilnya kembali. Ia tau walau tak ada dirinya, caffe tetap berjalan karena ia di beri tau oleh Stuard.


Rasanya, ia enggan pulang ke apartemen karena ia pasti akan merasa kesepian. Seperti tadi, saat menuju ke caffenya, Simma lebih banyak melamun dan melihat ke arah jalan, sesekali ia menghembuskan napas kasar karena ia merasa ada yang janggal dengan hatinya


"Terimakasih, Tuan, sudah mengantar saya," ucap Simma saat mobil yang di membawanya sudah sampai di depan caffe. Rain pun mengangguk, ia pun kembali ke kursinya setelah membukakan pintu untuk Simma.


Simma menatap caffe di depannya lekat-lekat, ia tak menyangka ia bisa berada di titik ini. Ia hampir putus asa karena bingung mencari pekerjaan untuk dirinya agar kelak bisa menghidupi kedua anaknya. Tapi, Tuhan begitu baik padanya. Lewat tangan Zidan dan Audrey, Tuhan menitipkan semuanya.


•••


"Kenapa kau?" tanya Zayn pada Josh. Saat ini, Josh sedang berada di ruangan Zayn, ia baru saja mengadakan meeting bersama Zayn.


Zayn merasa heran, karena sang paman sedari tadi terus melamun seperti ada beban berat yang di pikirkan.


"Zayn, apa kau mencintai istrimu?" Tanya Josh membuat Zayn membulatkan matanya.


"Pertanyaan bodoh!" seru Zayn. "Kau ragu untuk menikahi kekasihmu, hmm?" Tanya Zayn. Josh tak menjawab, ia malah mengusap wajah kasar.


Permintaan Briana yang ingin menikah dalam waktu cepat membuat Josh, tertekan. Ada gelanyar aneh saat ia memikirkan pernikahan. Padahal, menikah dengan Briana adalah pilihannya.


"Di sini sudah tak ada kopi, kau bisa membelinya di caffe depan," jawab Zayn tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.


"Bukankah di perusahaanmu ada caffe?" tanya Josh


"Zidan sudah memindahkannya, ia membangun caffe untuk Simma jadi karyawanku akan pergi ke sana," jawab Zayn, membuat Josh tersedak.


"Simma?" ulang Josh tak percaya. Zayn pun hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Si-Simma, pengasuh Kelly?" tanya Josh dengan masih tak percaya.


"Aku rasa Simma bukan sekedar pengasuh. Dia segalanya bagi Kelly, bayangkan jika tak ada dia. Keponakanku pasti akan terlantar," jawab Zayn, membuat Josh tertampar.


Tubuh Josh linglung seketika saat mendengar ucapan Zayn tentang Simma. Kenapa dulu ia berpikir sedangkal itu tentang Simma bahkan ia menyebut Simma hanya pengasuh di depan wajah Simma sendiri.


Tiba-tiba, wajah Simma terlintas di otaknya. Rasa bersalah langsung menghinggapinya.


"Kau mau kemana?" tanya Zayn, saat Josh bangkit dari duduknya seperti orang linglung.


Sedangkan Josh tak menjawab, ia malah pergi begitu saja tanpa menghiraukan pertanyaan Zayn, membuat Zayn menggeleng.


"Menyebalkan!" gerutu Zayn saat Josh keluar dari ruanganannya. Ia pun kembali fokus pada laptopnya.


Scrolll lagi iessss hari ini aku akan up 3 bab. Sebelum kalian bilang maksh, aku jawab duluan "sama-sama" 😂