Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
Selomi Josepin ... Grisya Josepin


“Hai, Boy. kau pasti marah pada Mommy, karena mommy jarang sekali mengunjungimu,” ucap Amelia dengan berderai air mata. Ia mengelus nisan sang putra, di mana nisan itu, tertulis nama Selomi Josephine.


Sesak, perih dan pedih itu yang Amelia rasakan saat ini, ia tidak sempat melihat putranya, ia tidak sempat memegang putranya, ia hanya bisa melihat nama putranya saja, tanpa tau bagaimana wajah Selomi.


Dulu, setelah diselamatkan oleh Simma dan Stuard, Amelia hamil dalam kondisi depresi


Ia sama sekali tidak sadar bahwa dia sedang mengandung. Tapi, tim dokter selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk Amelia


Saat mengandung, Amelia sama sekali tidak


pernah merasakan hal selayaknya ibu hamil


Karena memang dia tidak sadar, dan seperti mayat hidup.


Tepat ketika detik-detik melahirkan, Amelia harus menjalani operasi Caesar, dan naasnya, satu bayi Amelia tidak bisa diselamatkan. Sedangkan satu bayinya bertahan hidup walaupun setelah di lahirkan, bayi itu sempat kritis.


Ya, Amelia mengandung anak kembar berjenis kelamin perempuan dan laki-laki, sayangnya Selomi, tidak bisa diselamatkan dan hanya putrinya yang bisa diselamatkan.


Putri kecil itu diberi nama oleh Simma dan Stuard dengan nama Grisya Josephine. Setelah melakukan operasi Caesar pun, Amelia sama seperti sebelumnya, ia tidak bereaksi, iya masih sama seperti dulu, seperti mayat hidup.


Bahkan, ketika dokter memancing reaksi Amelia dengan kehadiran putrinya yang menangis, Amelia sama sekali tak bereaksi. Dan Amelia baru tahu tentang putra-putrinya setelah ia sembuh.


Saat melihat Grisya untuk pertama kalinya. Tiba-tiba bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Amelia. Padahal, saat itu ia belum tahu bahwa Grisya adalah putrinya.


Simma dan Stuard tidak langsung memberitahukan bahwa Grisya adalah anak Amelia, karena mereka takut bahwa Amelia akan terkena shock lagi dan berimbas pada mentalnya.


Dan saat itulah, kebenaran terbongkar. Bahwa dia melahirkan dua anak kembar. Namun, satu putranya telah gugur dan meninggal dunia.


Shock, tentu saja. Terkejut bukan lagi. Bahkan saat itu, Amelia tak sadarkan diri selama beberapa jam. Ia terlalu terkejut Saat mengetahui bahwa putranya tak bisa di selamatkan, untuk yang 3 kalinya ia kehilangan darah dagingnya.


Saat itu, setelah mengetahui semuanya, Amelia kembali didampingi psikiater, selain dukungan keluarga ada Grisya yang bisa membuat Amelia pulih, hingga ia melupakan semua dukanya


Grisya lah yang membuat Amelia bertahan dan Grisya juga penyemangatnya.


Ibunya dan Grisya adalah hidupnya


Hingga Amelia mampu berdiri sampai seperti ini. Keluarga Stuard pun juga sangat menyayangi Grisya, apalagi Grisya adalah cucu pertama mereka.


Amelia jarang sekali mengunjungi makam putranya, karena ia tak sanggup untuk terus melihat nama putranya terpampang di batu nisan.


Ia selalu menyalahkan dirinya sendiri, ia selalu mengingat lukanya dan penderitaaanya. itu sebabnya ia jarang sekali mengunjungi makam putranya. Ia takut, ia akan kembali ke titik dulu, titik di mana ia menjadi mayat hidup.


Amelia menghela nafas, kemudian me menghembuskannya, setelah sekian lama terdiam, akhirnya Amelia bangkit dari duduknya. kemudian, ia menghapus air matanya.


“Good bye, Boy. Mommy akan kembali lagi ke sini. Tapi tidak tahu kapan. Jangan membencimu Mommy oke.” saat berpamitan tangis yang berhasil dihentikan, kembali lagi mengalir membasahi wajah cantiknya.


Inilah juga salah satu alasan kenapa ia jarang sekali mengunjungi makam putranya. Ia selalu tak ingin pulang dan tak ingin meninggalkan makam putranya. Ingin terus duduk di sisi makam putranya.


Scroll lagi gengs