Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
172


"Kenapa kau tidak pulang?" tanya Zidan saat Zayn terus duduk di sampingnya. Waktu sudah hampir larut malam, tapi Zayn masih setia menunggu adiknya di ruang tunggu.


Pemeriksaan masih belum di lakukan, Zayn meminta pada polisi untuk memeriksa Zidan pada esok hari karena pengacara keluarga mereka ternyata masih berada di luar kota, keluarga Smith mempunyai tim hukum tersendiri hingga Zidan harus menunggu pengacara tersebut dan tak bisa sembarangan memakai pengacara lain.


"Sebenarnya apa yang pikirkan sampai kau harus menghajar seorang wanita?" tanya Zayn, ia menatap sang adik dengan penuh tanda tanya.


"Dia terlibat dalam penculikan Audrey, dia juga menyebut putriku anak haram. Kau pikir, aku akan membiarkannya lolos begitu saja," jawab Zidan.


"Isshh, bodoh. Seharusnya kau bunuh saja dia!" gerutu Zayn yang ikut kesal saat mengetahui yang sebenarnya. Mendengar ucapan Zayn, Zidan tertawa keras. Ia tak menyangka sang kaka akan berbicara seperti itu.


"Zayn apa Daddy akan memecatku?" tanya Zidan ragu-ragu. Sedari tadi, Zidan selalu ingin membahas tentang perusahaan. Tapi, ia takut mendengar jika ia akan di pindahkan, ia takut seperti dulu ... Selalu di asingkan oleh ayah dan kakanya.


"Mana aku tau. Kau pikir, aku bisa tau isi pikiran Daddy."


"Sepertinya aku harus meminta bantuan Mommy," ucap Zidan. Baru saja Zayn akan menjawab ucapannya. Polisi sudah memanggil Zidan ke ruang pemeriksaan.


"Ma-maksud anda? saya bebas?" tanya Zidan menatap polisi dengan tatapan tak percaya. Zayn yang berdiri di belakang Zidan pun menatap polisi dengan bingung.


"Pengacara dari nona Ane barusan datang kemari. Lewat pengacaranya, nona Ane mencabut gugatannya pada anda. Silahkan tanda tangani ini!" titah polisi sambil menyerahkan berkas pada Zidan, dan Zidan langsung menandatanganinya.


Setelah menandatangani berkas tersebut, Zidan pun bangkit dari duduknya. Ia langsung menghampiri sang kaka. Lalu, tanpa sadar ... Zayn dan Zidan langsung berpelukan. Zayn tak menyangka bahwa Zidan akan bebas secepat ini, begitu pun Zidan, ia tak menyangka bahwa ia akan bebas.


Saat Zayn dan Zidan berpelukan, mereka kembali tersadar, lalu saling melepaskan tubuh mereka masing-masing. "Hishh!" desis kedua adik dan kakak itu bersamaan.


•••


"Kau mau aku antar kemana?" tanya Zayn saat mereka sedang berada di dalam mobil. Zidan masih terdiam, ia sedang mencerna apa yang terjadi. Kenapa Ane begitu mudah mencabut gugatannya.


"Akan ku pastikan, kau akan bebas secepatnya." Tiba-tiba, ia teringat ucapan Audrey. Perasaannya mendadak tak enak. Ia yakin, ada peran Audrey di balik ke bebasannya.


"Zayn cepat antarkan aku ke apartemen Audrey!" pekik Zidan. Membuat kening Zayn mengernyit heran.


Zidan berlari dengan cepat untuk pergi ke unit apartemen Audrey. Bahkan sangking paniknya, Zidan langsung turun dari mobil meninggalkan kakanya yang bingung dengan apa yang terjadi.


Saat sampai di depan unit apartemen milik Audrey, Zidan langsung memencet bel terus menerus hingga Simma membukanya.


"Simma mana Audrey?" tanya Zidan saat pintu terbuka.


"Bukakannya Audrey menemanimu di kantor polisi," ucap Simma sambil mengucek matanya. Ia menjawab setengah sadar karena ia masih sangat mengantuk.


"Shiit!" umpat Zidan dalam hati saat mendengar Audrey tak ada di apartemennya.


"Kau lanjutkan tidurmu! Aku akan pergi mencari Audrey!" titah Zidan. Tanpa mendengar lagi jawaban Simma. Zidan pun dengan segera berlari ke arah lift. Pikirannya adalah menyusul Audrey ke apartemen Anne.


Saat pintu lift terbuka, langkah Zidan terhenti saat ternyata, di dalam lift ada Audrey. Audrey sama sekali tak sadar bahwa pintu lift telah terbuka dan ada Zidan di hadapannya, karena ia sedang memejamkan matanya sambil menyenderkan tubuhnya kebelakang.


"Audrey!" panggil Zidan lirih, membuat Audrey langsung membuka matanya.


"Zidan!" pekik Audrey dengan nada riang saat melihat Zidan di hadapannya. Ia berjalan dan keluar dari lift. Zidan langsung membawa Audrey kedalam dekapannya saat Audrey sudah di depannya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Zidan. Karena Audrey tak menjawab, Zidan pun melepaskan pelukannya untuk melihaf Audrey, ternyata Audrey sudah memejamkan matanya, karena kehilangan kesadarannya.


Audrey di landa kelelahan yang sangat luar biasa, bagaimana tidak lelah. Apartemen Ane adalah apartemen elit yang sangat terjamin ke amanannya. Hingga Audrey tak bisa masuk. Yang Audrey bisa lakukan adalah, memanjat gedung tersebut, hingga ia masuk ke apartemen Ane lewat balkon


"Audrey ... Audrey!" teriak Zidan dengan panik dan


...


Hate komen, blok😎