
Stuard melepaskan tautan bibirnya dari Simma. Ia mengelus bibir Simma dengan ibu jarinya, lalu terseyum, membuat jantung Simma berdetak dua kali lebih cepat karena melihat senyuman Stuard.
Stuard menegakan tubuhnya, ia merogoh saku jasnya dan mengambil ponsel lalu menelpon seseorang.
"Ayo kita pergi ke gereja, dan menikah sekarang," ajak Stu, Simma pun mengangguk.
Sebelum ia memakai sabuk pegaman di tubuhnya, Stuard menggenggam tangan Simma, hingga Simma menatap wajah Stuard.
"Kita memang menikah secara sederhana. Bahkan sangat sederhana. Tapi aku berjanji, setelah anak kita lahir, aku akan memberikan pesta pernikahan yang sangat mewah untukmu," kata Stuart, Simma melepaskan genggaman tangan Stuard, lalu ia menangkup kedua pipi Stuard dan menggesek-gesekan hidungnya pada hidung Stuard.
"Kami mencintaimu, Dad," jawabnya. Setelah mengatakan itu, Stuard mencium sekilas bibir Simma dan kembali menegakan tubuhnya, lalu mulai memajukan mobilnya.
•••
Proses pernikahan Simma dan Stuard cukup cepat, setelah selesai, Stuard menggenggam tangan Simma, lalu mereka pun keluar sambil bergandengan tangan.
Saat berada di luar gereja, Simma di buat heran saat melihat orang-orang di depannya. Beberapa orang berperawakan tegap dan memakai jas menunduk hormat pada Stuard.
"Ayo Sayang," ajak Stuard. Ia menarik lembut tangan Simma dan mengajak Simma ke mobil untuk pulang.
••••
Saat berada di kamar, Simma meremas kedua tangannya, ia gugup, benar-benar gugup. Ia sudah menjadi istri seorang Stuard dan ia pasti akan melakukan kewajibanya sebagai istri.
Pintu kamar mandi terbuka, Stuard berjalan ke arah walk in closet untuk berganti pakaian. Lalu setelah itu, ia berjalan menghampiri Simma di ranjang.
"Kau sudah minum vitaminmu, Sayang?" tanya Stuard, Simma pun menganguk. Jantung Simma berdetak dua kali lebih cepat saat aroma wangi tubuh Stuard menguar, mamasuki aroma penciumannya.
Mengerti apa yang di rasakana oleh Simma, Stuard mendorong lembut bahu Simma agar Simma berbaring. Setelah itu, ia menindih tubuh Simma.
"Aku mencintaimu, Sayang. Sungguh-sungguh mencintaimu," ucap Stuard, ia memandang Simma dengan tatapan memuja dan tatapan penuh cinta.
"Aku tau itu," kekeh Simma. Ia mengusap rahang Stuard, mengamati wajah suaminya dan menatap Stuard dengan tatapan cinta.
Saat rahang Stuard di elus oleh Simma, Stuard tak dapat lagi menahan dirinya. Ia langsung mencium bibir Simma dengan lembut, mengetuk lidah Simma untuk ikut bergerak.
tangan Stuard tak berhenti bekerja, hasrat sudah melanda keduanya. Namun, di tengah-tengah hasrat yang di rasakan Stuard, Stuard menghentikan aktivitasnya karena mengingat sesuatu.
Ia pun bangkit dari tubuh Simma dan mengulingkan tubuhnya, lalu membaringkan diri di sebelah Simma dan memeluk tubuh Simma dari samping.
Ia mengubah posisinya menjadi membelakangi Stuard dan Stuard memeluk Simma dari belakang, tangan Stuard tak henti-hentinya mengeluas perut Simma. Tak lama, terdengar isakan dari Simma membuat Stuard langsung panik.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Stuard dengan panik. Ia langsung bangkit dari berbaringnya dan menarik lembut bahu Simma.
"Sayang kau kenapa?"
"A-aku, ingin pu-pulang ke apartemen," ucap Simma terbata-bata sambil menangis.
"Katakan apa salahku, hmm?" tanya Stuard lembut. Tangan Stuard tergerak menghapus air matanya.
"Ka-kau pasti jijik padaku, kan, sampai kau tak mau menyentuhku," jawab Simma dengan isakan yang lebih kencang.
Mendengar ucapan Simma Stuard tertawa. Bagaimana mungkin wanita yang sudah menjadi istrinya ini bisa berpikir seperti itu. Simma sama sekali tak menyadari bahwa ia telah menguasi Stuard ke level paling tinggi, level di mana Stuard hanya menginginkan Simma.
"Sayang, apa dia tampak tak menginginkanmu," kata Stuard. Ia mengambil tangan Simma lalu mengarahkannya agar menyentuh kejantanannya yang sudah menegang dan tegak sempurna.
"Se-stu," kaget, Simma. Tanpa sadar, Simma meremasnya membuat Stuard semakin tersiksa.
"Aku menginginkanmu, dia sangat ingin memasukimu. Tapi, jika aku melakukan sekarang, aku takut akan melukai anak kita," ucap Stuard membuat mata Simma berkaca-kaca. Ia sudah salah sangka pada suaminya. Padahal, Stuard memikirkan calon anaknya
"Ta-tapi, dokter bilang kita bisa melakukannya asal pelan-pelan," Kata Simma dengan malu-malu. Seketika wajah Stuard berbinar. "Benarkah?" tanyanya dengan antusias. Simma pun kembali mengangguk.
"Apa kalian mengijinkan Daddy menjenguk kalian?" ucap Stuard, ia berbicara di depan perut Simma. "Jika kalian mengijinkan, ayo tendang perut Mommy," ucapnya lagi. "Oke, kalian sudah menendang perut Mommy, Daddy anggap kalian mengijinkannya."
Mendengar ucapan Stuard, Simma tertawa. Padahal anaknya sama sekali tak menendang. Namun tak lama, Simma menghentikan tawanya saat Stuard memandangnya dengan tatapan lapar.
Dan sedetik kemudian, Stuard pun sudah kembali menindih tubuh istrinya.
dan dan dan
Dan di tunda dulu ya 😂😂😂
hari ini satu part dulu ya, karena hari ini hari minggu, jadi waktunya sama keluarga
hate komen blok 😎😎