Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
254


"A-Ariana," kaget Briana saat Ariana mendorong tubuhnya, ia menatap Ariana dengan tatapan tak percaya, bagaimana mungkin sang putri begitu kuat mendorongngnya


"Apa kau benar seorang ibu, Hah!" teriak Ariana. Matanya berkilat, memandang Briana dengan tatapan bringas.


"A-a-ariana." Briana hanya mampu memanggil nama putrinya. Ia tau, Ariana ada di titik lelahnya.


"Kenapa kau tak bisa menyayangiku seperti ibu yang lain. Kenapa kau melahirkanku dengan cacat. Kenapa aku di perlakukan seperti sampah, Kenapaaaaaaaaa!" Ariana berteriak histeris saat mengeluarkan teriakannya.


Bayangkan, bagaiamana menderitanya Ariana selama ini. Ia marah pada Briana diluar kesadarannya. Ia mengeluarkan amarahnya karena alam bawah sadarnya kecewa pada Briana.


Selama ini, Ariana selalu berharap bahwa sang ibu akan berbeda dengan ayah dan kakeknya. Nyatanya sang ibu sama saja, walaupun tak jahat seperti Josh dan Regard. Tapi tetap saja, Ariana kecewa.


Bahkan saat Ariana sedang nyaman bermain di temani Briana atau Ariana sedang menonton bersama sang ibu, Briana akan langsung keluar dari paviliunnya jika Josh menelpon.


Setiap saat selalu seperti itu, Ariana tak mempunyai keberanian untuk meminta Briana tinggal lebih lama di paviliun untuk menemaninya. Karena ia sudah tau jawabannya.


Briana akan langsung pergi tanpa menoleh lagi padanya, dan tanpa menenangkannya. Setiap Briana keluar dari pavilun, Ariana hanya mampu menatap punggung sang ibu, tanpa bisa mengejarnya apalagi memintanya tinggal.


"Mommy peluk aku!"


"Mommy temani aku tidur, aku takut."


"Mommy suapi aku."


"Mommy tubuhku sakit, kepalaku pusing."


Untaian-untaian kata itu yang selalu ingin Ariana ucapkan pada sang ibu. Tapi, ia tak bisa dan memilih memendamnya dalam hati dan berusaha meyakini bahwa ia baik-baik saja. Nyatanya, tidak. Ia jauh dari kata baik-baik saja.


Ariana kembali menekuk kakinya, ia menutup telinganya dengan keras, lalu menangis histeris


"Kenapa aku terlahir cacat. Kenapaaaaaaaaaaaa!" teriak Ariana lagi. Membuat Briana langsung maju, dan kembali memeluk sang putri.


"Ariana! Ariana!" teriak Briana. saat Ariana berhenti berontak. Briana semakin panik, kala mepelepas pelukannnya dan melihat Ariana terkulai lemah tak sadarkan diri


•••


"Dad!" panggil Gia saat masuk ke ruang kerja Zayn.


Zayn yang sedang melamun tersenyum. Ia menggeser kursi kebelakang dan memberikan ruang untuk Gia duduk di pangkuannya.


"Kenapa Hemm?" tanya Zayn saat Gia sudah duduk di pangkuannya. Tangannya tergerak untuk mengusap lembut rambut istrinya


"Dad, aku teringat anak yang tadi di bawa Briana. Kenapa wajahnya sangat mirip dengan mendiang Mommy Aida, dan matanya sangat mirip dengan Josh, apa kau sepemikiran denganku, Dad?" tanya Gia


Zayn tampak berpikir, sedari tadi pun ia memamg memikirkan anak yang di bawa oleh Briana. Anak itu mungkin seumuran dengan Maria, dan juga seumuran dengan putri Josh yang Josh akui sudah meninggal 9 tahun lalu.


Sungguh kepala Zayn rasanya berputar-putar memikirkan gadis kecil yang tadi di bawa oleh Briana. Ia merasa mempunyai ikatan batin yang kuat dengan gadis kecil itu.


"Apa menurutmu Josh berbohong pada kita semua dan menyembunyikan putrinya selama ini?" tanya Zayn, Gia pun mengangguk. Pikirannya sama dengan pikiran suaminya.


"Bagaimana jika kit ...." ucapan Zayn terpotong saat ponselnya berdering. Ia meraih ponsel yang berada di meja.


"Briana!" lirih Zayn ketika melihat id si pemanggil, ternyata Briana lah yang menelpon.


Zayn pun mengangkatnya.


"Hallo Briana ad ap ...." ucapan Zayn terputus saat mendengar ucapan Briana. Zayn merasa tubuhnya melemas dan tak lama, ia menjatuhkan ponselnya karena terlalu terkejut dengan ucapan Briana, yang mengatakan ....


Hate komen blok 😎