
"Gabriel, bukankah ini foto Ariana?" tanya Gabby saat mengambil bingkai foto yang di sembunyikan oleh Gabriel.
Gabriel tampak gugup, ia mengambil bingkai foto itu dari tangan Gabby dan menyimpannya. "Bukan urusanmu!" seru Gabriel, membuat Gabby mencebik.
"Kau berpacaran dengan Ariana?" tanya Gabby, Gabriel enggan menjawab. Ia malah berbaring membelakangi adiknya..
"Bukan urusanmu!" jawab Gabriel lagi, ia menjawab kata-kata yang sama. Gabby membaringkan diri di sebelah Gabriel.
"Wajah kalian begitu mirip, dan aku rasa kalian jodoh!" ucap Gabby.
"Ya, aku berharap beg ...." Gabriel menghentikan. ucapannya Karena sadar, sang adik hanya memancingnya. "Ishhh! pergi sana!" kata Gabriel membuat Gabby tertawa.
Tak lama, Gabby bangkit dari duduknya dan keluar kamar. "Giselle, kau sedang apa?" tanya Gabby pada sang adik yang sepertinya sedang mencari sesuatu.
"Antingku hilang sebelah," kata Giselle, membuat Gabby menggeleng. "Kau masih mencari anting itu?" tanya Gabby, Gisele mengangguk. "Kau kan bisa meminta lagi pada Daddy untuk membelikan anting baru!" kata Gabby, membuat Gisele berdecak kesal.
"Kaka diam saja jika tak bisa membantu," omel Giselle, membuat Gabby memutar bola matanyanya jengah. Anak kecil ini begitu mirip dengan dirinya.
••••
Ariana marenggangkan punggungnya karena pegal. Sudah dua jam ia berada di ruangan Justin, namun setiap dia meminta pendapat pada Justin, Justin selalu saja tak setuju.
"Mr, bisakah saya mengerjakan revisi skripsi di apartemen saja?" tanya Ariana, rasanya ia sudah gila jika harus terus berada di ruangan dosen seperti Justin.
Justin yang sedang duduk di kursi kerjanya. Langsung menghampiri Ariana. Ia mendudukan dirinya di sebelah Ariana, lalu tangannya memegang mouse yang juga sedang di pegang oleh Ariana. dan menggeser-geserkan Mouse tersebut.
Matanya fokus melihat pada hasil skripsi yang di buat Ariana. Jantung Ariana berdetak dua kali lebih cepat, secara tak langsung, Justin sedang menggenggam tangannya.
Tiba-tiba, Ariana merasakan rasa canggung yang luar biasa. Ada apa dengan dosen di sebelahnya ini.
Tak lama pintu terbuka, membuat Ariana menoleh.
"Mrs Arleta, bisakah anda lebih sopan jika masuk ke ruangan saya," ucap Justin tanpa menoleh.
"Ma-maaf," kata Arleta, sejenak. Arleta terdiam kala melihat tangan Justin sedang menggenggam tangan Ariana.
"Ada apa?" tanya Justin saat Arleta masih terdiam. Ia sama sekali tak melirik pada Arleta. Matanya masih fokus melihat ke arah depan. Tangannya pun masih menggeser-geserkan Mouse dan tentu saja tangan Ariana pun ikut bergeser kesana kemari karena tangannya di genggan oleh Justin.
"Jangan perdulikan dia!" kata Justin saat Ariana masih melihat ke arah pintu.
Ariana tersadar, "maksud anda, Mr?" tanya Ariana
"Sepertinya skripsimu yang pertama lebih baik." Bukannya menjawab pertanyaan Ariana. Justin, malah berbicara hal lain.
Mata Ariana membulat saat mendengar ucapan Justin. Ia sudah berada di ruangan Justin selama berjam-jam. Tapi lelaki ini, malah memilih skripsi Ariana yang pertama.
Ariana menarik tangannya, dari mouse hingga otomatis tangannya terlpas dari genggaman Justin.
"Maaf," kata Ariana setelah tersadar.
"Kau boleh pulang," ucap Justin. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke kursi kerjanya. Membuat Ariana menggigit bibir bawahnya. Ia takut, Justin marah karena ia menarik tangannya.
Tapi, tunggu. Kenapa Justin harus marah. Bukankah ia yang harus marah karena Justin menggenggam tangannya tanpa ijin. Ah sudahlah, kenapa juga ia harusn repot-repot memikirkan ini.
••••
"Ariana!" panggil seseorang dari belakang. Membuat Ariana menoleh. Ternyata Amelia dan Gabriel. Mereka berdua adalah sahabatnya Ariana.
"Kau sudah selesai dengan skripsimu?" tanya Gabriel saat menghampiri Ariana. Ia mengelus rambut Ariana. Namun, Ariana refleks menghindar karena rasanya sungguh tak nyaman.
Ariana memang selalu bersikap dingin di depan orang lain. Tapi, jika bersama Gabriel dan Amelia sikapnya sedikit mencair.
Mereka mulai dekat saat pertama masuk kuliah dan mereka bersahabat sampai sekarang.
Tanpa mereka sadari, akan ada hal yang tak terduga menanti mereka ber 3. Semua hanya tinggal menunggu waktu. Dan akan meledak seperti bom atom.
Ga boleh nebak-nebak ya gengs ikutin aja kisah yang aku buat 🤣🤣
hate komen blok
Untuk bab selanjutnya kalian bisa skip atau bisa baca, karena bab selanjutnya adalah bab proomo ceritaku yang baru. Dengan judul menikah dengan duda.