Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
28


Setelah menggandeng tangan Zayn. Mereka pun berjalan beriringan. Suara sepatu heels saling menyaut, membuat Gia sedikit tidak nyaman. Dia berusaha mensejajari langkah Zayn, Gia sedikit kesusahan karena ia tak bisa memakai sepatu heels.


Zayn yang menyadari Gia kesusahan mensejajari langkahnya, langsung menhentikan gerakannya. Ia, langsung menoleh kearah Gia.


"Kau tidak bisa memakai sepatu tinggi?" tanya Zayn. Ada debaran aneh saat dia menatap irish mata Gia. Namun, dengan cepat ia menyarkan dirinya dan berkata bahwa dia tak boleh terpesona.


Gia yang di tatap oleh Zayn, langsung menatap Zayn. Kemudian dia mengangguk ragu. Sebenarnya bukan tak nyaman mengenai sepatu saja, ia juga tak nyaman dengan posisinya yang sedang menggandeng tangan Zayn. Ia merasa berdosa pada Zidan, walau pada nyatanya ia sama sekali tak melakukan hal yang salah. Ya, ini hanya tugas, hanya tugas! Itulah yang kini Gia katakan di hatinya


"Kau mau berganti dengan yang lebih nyaman?" tanya Zayn. Untuk kali ini, ia bersikap amat manis, padahal itu semua hanyala topeng. Ada bom yang Zayn simpan, yang akan ia ledakan di keesokan hari.


"Tidak terimakasih." Gia menggelengkan kepalanya, tanda tak mau. Ia tak mungkin membuat Zayn malu. "Mari, Tuan." Sambungnya kemudian.


Mereka pun mulai berjalan kembali, kali ini, Zayn yang mensejajari langkahnya dengan langkah Gia. Zayn benar-benar pintar bersikap manis. Setelah sampai di lobi, terlihat mobil mewah yang sudah menunggu mereka.


Sinar matahari di nabastala sudah mulai tenggelam dari peraduan. Tergantikan dengan cahaya senja yang belum menguning. Angin sore berseliweran di udara membawa kesejukan, seiring langkah kaki Zayn dan Gia yang turun dari kereta besi mewahnya.


Hingar bingar para tamu yang menghadiri pesta sudah mulai terdengar sampai ke daun telinga Zayn. Derap sepatu lelaki itu terus mengayuh pelan. Baru saja sampai dibingkai pintu, para tamu wanita ber oh panjang menatap keteduhan dari matanya.


"Kau gugup?" tanya Zayn saat masuk kedalam pesta.


Gia menggeleng, ia memang gugup, tapi yang lebih membuat Gia tak nyaman adalah ketika masuk ke dalam, dia melihat tamu-tamu yang terlihat jelas dari kalangan atas dan Gia merasa tak percaya diri.


"Jangan panggil aku, Tuan. Untuk kali ini kau boleh memanggil namaku," sahut Zayn. Ia berbicara sambil melangkahkan kakinya. Tentu saja, dengan Gia yang masih setia menggandeng tangannya.


Waktu sungguh terasa lama bagi Gia. Ia ingin melihat jam, tapi ia takut untuk bertanya pada Zayn. Tak mungkinkan di tempat pesta mewah ada jam yang menempel di din-ding.


Ia merasa tak nyaman dengan keadaanya saat ini, walaupun Zayn menyapa para pebisnis lain, tapi tangan Zayn selalu berada di pinggang Gia dan merangkul Gia agar selalu ada di dekatnya. Bagi Gia, posisi mereka terlalu intim. Sungguh, Gia ingin sekali mematahkan tangan bosnya dan berteriak agar jangan seenaknya.


Seketika rasa bersalah kembali hadir, Ia tak tau bagaimana reaksi Zidan jika Zidan tau bahwa sedari tadi posisi Gia dan Zayn begitu dekat layaknya seorang kekasih.


"Gia, aku ingin menyapa para tamu lain, kau tak keberatan aku tinggal?" tanya Zayn. Sudut bibirnya sedikit terangkat kala melihat seseorang yang dia perintah sudah beridiri dan siap menjalankan misi.


Gia mengangguk tanpa ragu, Ia menghela napas lega ketika Zayn melepaskannya.


Setelah Zayn pergi, Gia meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Rasanya terlalu sesak berdekatan dengan Zayn. Selain tak nyaman karena merasa bersalah pada Zidan, ia pun selalu teringat pada mendiang sang ibu.


Sayangnya Zayn tak ingat kejadian yang sudah terjadi beberapa tahun silam.


Scroll ya masih ada satu bab lagi.