
“Amelia, kau tidak apa-apa?” tanya Gabriel saat berbalik. Ia mengerutkan keningnya saat melihat wajah Amelia yang sudah pucat.
Amelia memeluk perutnya yang sedang bergejolak, kemudian menggeleng.
“Aku ingin pulang saja,” jawab Amelia. Namun, kali ini Gabriel yang menggeleng.
“Ayo ikut saja ke ruanganku.” Dengan cepat, Gabriel kembali menarik tangan Amelia. Ini kesempatan langka, Amelia datang ke kantornya. Tentu saja, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan dan tidak akan membiarkan Amelia pulang.
Tubuh Amelia sudah lesu, bahkan rasanya ia kesulitan untuk sekedar membalas ucapan Gabriel. Rasanya, ia tak sanggup untuk
mengangkat kepalanya. Ia hanya mampu, menunduk dan mengikuti langkah Gabriel.
Ya, Amelia memang sedang mengandung Amelia memang sudah mengetahui bahwa ia mengandung. Sebenarnya Amelia sudah tahu bahwa dia mengandung saat Simma berpura-pura sakit, itu sebabnya dia menerima pinangan Gabriel.
Itu juga alasan kenapa Amelia ingin pindah divisi lain, karena ia tidak mungkin melakukan tugas yang berat. Untuk saat ini, apalagi, saat ini tak ada yang tahu tentang kehamilannya.
Amelia terlalu takut untuk jujur tentang kehamilan pada siapapun, Ia juga belum mau berkata pada Gabriel. Ia takut, melihat respon Gabriel. Dan rasanya, ia masih trauma, mengingat dulu ketiga anaknya mati di tangan Gabriel.
Memang Gabriel sudah berubah dan semua permalasahan di antara mereka sudah hilang. Tapi, ketakutan dan trauma itu masih ada.
“Gabriel di mana kamar mandi?” tanya Amelia ketika masuk ke ruangan Gabriel, rasanya perutnya bergejolak dan ia ingin segera muntah.
Setelah Gabriel menunjuk pintu kamar mandi, Amelia langsung berjalan sedikit cepat ke arah kamar mandi tersebut, ia memuntahkan semua isi perutnya.
Gabriel yang mendengar suara Amelia sedang muntah, langsung menyusul Amelia, kemudian memijat tengkuk istrinya. Setelah selesai, Amelia berbalik, kemudian mencuci mulutnya.
Amelia menggeleng. “Bolehkah aku ikut tidur di sofamu?” tanya Amelia.
“Ayo tidur di kamar pribadiku,” ajak Gabriel, ia kembali menarik tangan Amelia, kemudian berjalan ke kamar pribadinya.
Saat kamar pribadi Gabriel terbuka, Amelia langsung berjalan ke arah ranjang, kemudian ia membaringkan dirinya di ranjang, tanpa memperdulikan Gabriel,.membuat Gabriel mengerutkan keningnya.
Padahal tadi, ia melihat Amelia baik-baik saja, dan wajah Amelia tidak sepucat ini. Tapi hanya dalam hitungan menit, wajah Amelia berubah sangat pucat.
Gabriel membuka jasnya, kemudian membuka kemejanya. Hingga Ia bertelanjang dada, kemudian naik ke ranjang lalu meraba kening Amelia.
“Amelia, kau tidak apa-apa?” tanya Gabriel lagi-lagi, Amelia tidak menjawab karena kepalanya terasa berputar-putar. Tanpa sadar, Amelia malah meraba-raba ke samping.
Gabriel yang bingung dengan apa yang dilakukan Amelia, menyerahkan tangannya pada Amelia, dan setelah Amelia memegang tangan Gabriel, Amelia malah menarik tangan Gabriel. Hingga Gabriel, terjatuh di belakang tubuhnya. Dan setelah itu, Amelia malah menuntun tangan Gabriel untuk melingkar di pinggangnya. Hingga posisi Gabriel memeluk Amelia dari belakang.
Nyaman
Saat Gabriel memeluknya, kenyamanan langsung mendera Amelia. Rasa mual, rasa pusing dan rasa lemas, seketika hilang. Ia membuka matanya, kemudian menatap ke depan dengan bimbang.
Sebenarnya, ia gengsi meminta Gabriel memeluknya. Tapi hanya Gabriellah yang mampu meredam apa yang sedang terjadi kepadanya. Mungkin ini, juga keinginan calon anak mereka agar bisa dekat dengan sang ayah.
scrool gengs