
Arletta terbangun dari tidurnya, ia melihat ke arah jam, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 6 sore.
Setelah perbincangannya dengan Zidan, Ia memutuskan untuk tidur dan ia tak menyangka Ia tidur selama itu. Ia bangkit dari tidurnya, kemudian mendudukkan diri di ranjang dan setelah itu matanya menerawang ke depan. ia menatap ke depan dengan tatapan kosong.
Setiap bangun tidur, entah kenapa ia selalu merasakan sesak dan selalu merasa asing. Padahal Ia selalu berusaha untuk melupakan semuanya. Tapi ini terasa aneh, setiap ia bangun tidur, ia selalu merasakan sesak dengan sendirinya. Tanpa ada sebab tanpa ada akibat.
Terkadang, ia pun selalu merasa ingin mengakhiri hidupnya karena tak sanggup menerima beban yang ia tanggung. Tanpa Arleta sadari, itu adalah reaksi alam bawah sadarnya. Ketika ia mencoba melupakan semua. Tapi ia tak mau membagi lukanya dengan siapapun termasuk pada psikiater yang mengobatinya.
Faktanya, saat berkonsultasi dengan psikiater, Arleta sama sekali tak mengungkapkan apa yang dirasakannya. Ia hanya menjawab sekenanya, itu sebabnya Areta susah sekali untuk sembuh..
Sebelum ia terkena hal naas. Ia sudah terbiasa menyimpan semuanya sendiri, itu sebabnya ia tak mengungkapkan pada siapapun apa yang dirasakannya sekalipun itu pada psikiater yang mengobatinya
Mungkin jika saja Arleta mau berbagi rasa sakitnya atau mengungkapkan semua keluh kesahnya, ia tak akan terlalu merasakan penderitaan yang luar biasa seperti ini .Tapi sayangnya, Arleta terlalu terperangkap dalam luka. Hingga terkadang, luka itu semakin menjadi-jadi.
Setelah terdiam cukup lama, Arleta turun dari ranjang. Kemudian berjalan ke kamar mandi, ia mengambil handuk lalu untuk menyegarkan dirinya.
Saat berada di kamar mandi, dia mengisi bathhube dengan air. Saat masuk kedalam bathube, Alrleta tak mematikan keran, hingga Air terus mengalir.
Setelah terduduk cukup lama, Arleta memanjangkan kakinya, kemudian membaringkan tubuhnya di bathube yang penuh dengan air dan ia menenggelamkan dirinya sendiri.
Ia memeluk kaki lalu memeluk lututnya, ia berendam sambil melamun. Entah kenapa, rasa perih semakin menjadi-jadi
Setelah cukup lama terdiam, Arleta langsung bangkit dari berendamnya, kemudian Ia memakai handuk, ia keluar dan memakai pakaiannyanya.
Setelah memakan pakaian, Arleta menatap kosong kedepan. Ia mengambil mantel, kemudian keluar dari kamarnya. Pikirannya masih kosong. ia rasa ia perlu, pergi ke suatu tempat untuk menenangkan dirinya.
Dan di sinilah Arleta berdiri, di depan pemakaman. Jujur saja, saat keluar dari mansion, ia menahan ketakutan yang sangat luar biasa hebat. Ia takut, kakanya melarangnya dan takut karena pemakaman kedua orang tuanya menyimpan banyak luka.
Arleta melihat kesekelilingnya. Sepi, tanpa ada satu orang pun. Ia memeluk tubuhnya karena udara dingin begitu menusuk, hingga ke tulangnya.
Arleta menghela nafas, kemudia menghembuskannya. Bohong, jika Arleta tidak takut. Tapi, ia sudah tak bisa menahan kerinduannya. Ia juga tak bisa terus menahan sesak, hingga akhirnya, ia lebih memilih untuk pergi ke makam orang tuanya dan ia rasa, dia hanya bisa menumpahkan keluh kesahnya di makan orang tuanya.
Gerbang, pemakaman terbuka, pertanda tak ada penjaga yang mengawasi, Arleta pun berjalan untuk masuk dengan langkah yang super pelan, karena kakinya masih terasa kebas.
Scroll gengs