Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
71


"Mark, aku bosmu dan aku sekarang sedang memerintahmu!" gerutu Zayn saat Mark menolak permintaannya.


"Tapi, Nyonya Sonya hanya menyuruhku membantumu untuk masalah pekerjaan. Jadi, urusan pribadi, itu urusanmu!" ucap Mark dengan santainya. Tanpa mendengar jawaban Zayn lagi, Mark pun bergegas untuk keluar dari ruangan Zayn. sedangkan Zayn hanya menggeleng. Ia tak berkutik ketika Mark menyebut nama Sonya.


Zayn pun terpaksa menelpon restoran dan menggunakan layanan pesan antar.


Setelah itu, ia kembali fokus dengan pekerjaannya. Setelah sekian lama, ponsel Zayn berdering kembali. Ia melihat Id si pemanggil, ternyata Gia lagi yang menelponnya.


"Apa lagi!" jawab Zayn ketika menjawab telpon dari Gia. Ia berbicara dengan nada yang tinggi seoalah ia jengkel pada Gia. Tapi, nyatanya ia berbicara sambil tersenyum.


"Kenapa kau menyuruh orang lain untuk mengantarkan seafoodnya. Aku ingin kau yang mengantarkannya," balas Gia di sebrang sana.


"Apa kau pikir aku penangguran, Hah!" teriak Zayn. Namun, seringainya semakin lebar.


"Aku tidak mau tau, aku mau kau membelikannya lagi, jika tidak, aku takan makan." Tut, Gia mematikan teleponnya tanpa mendengar lagi jawaban Zayn.


"Mo-Mommy, padahal aku bisa memakann seafood ini..Tak perlu menyuruh Zayn untuk datang kemari," ucap Gia dengan terbata-bata, rasanya masih canggung berada di dekat Sonya.


Ya, sekarang Sonya sedang berada di apartemen Zayn. Ia menyuruh Gia untuk menelpon Zayn. Bahkan ketika pesanan Gia datang, Sonya menyuruh lagi Gia untuk meminta Zayn yang datang mengantarkan seafoodnya.


"No ... No, dengarkan Mommy! Mulai sekarang, jika kau ingin sesuatu minta pada Zayn. Kau mengerti," ucap Sonya.


Gia pun mengagguk ragu. Sonya membelai rambut Gia, "Kalau begitu, Mommy akan pulang. Pastikan Zayn menemanimu makan siang."


Gia pun mengangguk, setelah itu, Sonya pun bangkit dari duduknya dan meninggalkan apartemen Zayn.


••


Setelah mematikan telepon dari Gia, Zayn kembali menaruh ponselnya. Tak mungkin dia pulang hanya untuk mengantarkan seafood, sedangkan pekerjaannya saja masih menumpuk.


Namun, tak lama ia menutup kembali berkas yang sedang di lihatnya. Pikirannya, terus tertuju pada ucapan Gia yang tak mau makan jika Zayn tak membeli lagi Seafood.


Zayn mengusap wajah frustasi, ia kalah. Ia lebih memilh pulang dan membawakan seafood untuk Gia.


•••


Gia menghela napas kasar, Ia sudah lama menunggu Zayn, bagaimana jika Zayn tak membawa pesanannya, sedangkan perutnya sudah meronta-ronta minta diisi.


Gia menyerah, toh, mertuanyanya tak ada si apartemen. Gia pun memutuskan untuk memakan seafood yang di pesan tadi.


Saat dia akan bangkit dari duduknya, pintu terbuka, muncullah sosok Zayn.


Gia pun kembali duduk di sofa dan pura-pura tak menyadari keberadaan Zayn.


"Ini pesananmu!" ucap Zayn. Ia menyerahkan peperbag berisi seafood. Ia berbicara dengan ekpresi kesal, padahal hatinya berbung-bunga. Entahlah, setiap melihat Gia, ada debaran aneh yang Zayn rasakan.


Namun, dengan jahilnya, Zayn menarik kembali paperbag ke belakang tubuhnya.


"Kau bilang apa tadi?" Tanya Zayn, ia berbicara dengan nada datar, padahal jelas-jelas ia sedang menggoda Gia.


"Terimakasih," ucap Gia dengan senyum yang di paksakan. Ia terlalu malas untuk berdebat dengan Zayn.


Mendengar jawaban Gia, Zayn pun memberikan paperbagnya pada Gia, ia pikir, Gia akan membalas ucapannya. Namun nyatanya, Gia malah tersenyum.


••


Waktu menunjukan pukul 9 malam, Zayn sedang berada di ruang kerja, ia duduk dengan fokus memeriksa sesuatu yang berkaitan dengan Santosh. Tiba-tiba, Ponselnya di sebelahnya berbunyi.


Ia melihat id si pemanggil, ternyata anak buahnya yang menjaga Toni, mengabarkan bahwa Toni sudah sadar.


Zayn pun bangkit dari duduknya, ia keluar dari ruangan kerjanya. Saat ia keluar dari ruangan kerja, ia melihat Gia sedang menonton televisi.


" Jangan buka pintu jika ada yang memencet bel, kau mengerti!" ucap Zayn sambil memekai mantel pada tubuhnya.


"Hmm," jawab Gia, acuh.


Zayn pun menyambar kunci mobilnya dan keluar dari apartemennya.


"Memangnya apa perduliku," ucap Gia setelah Zayn keluar.


•••


Zayn menjalankan mobilnya membelah jalanan ibu kota Rusia, ia menyetir mobil dengan kecepatan sedang.


Lama kelamaan, Zayn akhrinya sadar bahwa di depan mobilnya ada mobil adiknya, Zidan. Yang membuat Zayn heran mobil Zidan di pepet oleh satu mobil.


Mata Zayn membulat sempurna saat melihat ada orang yang menyembul dari mobil dan mengeluarkan pistol dan mengarahkannya pada mobil adiknya.


"Shittt!" umpat Zayn saat menyadari Zidan dalam berbahaya.


Ia memacu mobilnya lebih cepat, Zayn membanting stir ke kiri dan menyeret mobil yang mengikuti Zidan dengan mobilnya. Naasnya mobil Zayn dan mobil yang mengikuti Zidan melewati pembatas jalan dan keluar dari jalur, tepat di saat itu, ada Mobil yang melaju kencang dari arah berlawanan.


Ckittttttt Brakkkkkkkkkkkkk mobil Zayn dan mobil yang mengikuti Zidan tertabrak oleh mobil yang sedang melaju kencang, hingga ....


Sedangkan Gia.


Ia mundar-mandir depan pintu, seseorang terus menekan bell. Ia ingin membukanya, karena takut ada hal penting. Apalagi sudah cukup lama orang itu membunyikan Bell. Tapi, ia teringat pesan Zayn untuk tak membuka pintu, Gia bingung dannnnnn


Dannnn satu bab lagi nnti malem ya. Ketegangan di mulai lagi wkwkwk