
"Maaf tuan, saya baru menyelesaikan sebagian," ucap Lorry, Stuard pun mengangguk-nganggukan kepalanya.
"Aku cukup terkesan dengan lukisanmu," jawab Stuard. Walaupun lukisan yang di buat Lorry belum selesai dan hanya bagian mata yang selesai, tapi Stuard cukup terkesan dan tak sabar menunggu semuanya sempurna.
Stuard berbalik dan berjalan menghampiri Lorry. "Kau tau, kan, aku tak suka kegagalan. Jadi pastikan lukisan ini sempurna," ucap Stuard sambil menepuk bahu Lorry, setelah itu, Stuard pun melangkahkan kakinya keluar dan berniat untuk pulang.
•••
Satu minggu kemudian.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Zidan pada Audrey.
"Dad, kapan kau menyiapkan ini?" tanya Audrey dengan mata berbinar takjub saat melihat tempat di depannya.
Saat ini, mereka sedang berada di sebuah bangunan yang sudah di sulap oleh Zidan menjadi sebuah cafe yang cukup mewah dan tentunya sangat nyaman, dan tentu saja cafe itu untuk Simma.
Selama seminggu ini, Zidan memerintahkan pada perusahaan kontraktor untuk merenovasi bangunan yang kosong menjadi caffe. Zidan meminta semua di selesaikan dalam waktu satu minggu.
Zidan ingin memberi yang terbaik untuk Simma. Ini, ungkapan sebagai rasa terimakasihnya pada Simma. hingga ia memersiapkan sedetail mungkin.
"Apa menurutmu Simma akan menyukainya?" tanya Zidan, membuat Audrey tersenyum. Lalu ia berhambur memeluk suaminya.
"Terimakasih, Dad. Simma pasti menyukainya," ucap Audrey membuat Zidan tersenyum nakal.
"Sayang, kau tak mau memberiku hadiah karena sudah bekerja keras seminggu ini?" tanya Zidan membuat Audrey menggeleng, Audrey pun melepaskan pelukannya dan menatap Zidan.
"Bermain seperti semalam?" goda Audrey membuat wajah Zidan memerah.
"Aku membuat kamar di atas untuk Simma beristirahat. Bagaimana jika kita pinjam sebentar," kata Zidan yang langsung di hadiahi cubitan di hidung oleh Audrey.
"Sabar, Dad!" ucapnya. Lalu, secepat kilat Audrey pun meninggalkan Zidan untuk melihat-lihat kedalam.
••••
Tubuh Simma begitu lemas, seminggu ini, ia sama sekali tak melakukan apa pun. Bahkan untuk sekedar memasak untuk dirinya sendiri pun Simma terlihat kepayahan.
Ia pikir, ia takan mengalami mual dan muntah. Nyatanya, ia pun mengalaminya. Ia kurang tidur di malam hari dan di pagi hari ia mengalami morning sicknes yang luar biasa.
Bukan hanya itu, ia pun kerap mengidam makanan. Namun ia tak bisa membelinya, selain karena tak kuat. Ia pun menekankan bahwa ia harus berhemat, berhemat dan berhemat. Apalagi minggu depan ia akan kembali melakukan cek kandungan dan membeli susu hamil.
Audrey dan Kelly setiap hari melakukan panggilan vidio. Mereka belum sempat ke apartemen untuk bertemu Simma karena setiap hari Sonya dan Gia mengajak Audrey untuk pergi. Sebenarnya, Simma pun di ajak. Namun, Simma menolaknya. Ia juga bisa bernapas lega saat Audrey tak datang ke apartemennya. Setidaknya ... Audrey tak akan melihat kondisinya yang sedikit pucat.
Waktu menunjukan pukul 06.30 pagi. sinar matahari menelusup masuk kedalam kamarnya membuat Simma membuka matanya. Ia langsung berjalan ke kamar mandi karena mual melandanya.
Setelah mengeluarkan cairan muntahnya. Simma berjalan keluar untuk membuat sarapan. Keningnya mengkerut bingung saat melihat apartemennya sudah rapih. Lalu tak lama, hidungnya mencium hal yang sepertinya sangat menggoda. Ia pun berjalan ke meja makan.
Matanya berbinar saat melihat ada burger dan steak yang sudah tersedia di meja makan. Lalu Simma terpikir siapa yang melakukan ini, Karena Simma tau , orang yang melakukannya ini adalah pembantu yang biasa datang ke apartemen seminggu sekali untuk mencuci dan membereskan hal lainnya.
Memang orang yang datang ke apartemen Simma adalah orang yang selalu datang seminggu sekali untuk membereskan apartemen. Namun bedanya, orang itu tak di bayar oleh Audrey melainkan di bayar oleh Stuard.
Saat orang itu akan menerima pembayaran dari Audrey, ia menolak. dan beralasan Simma sudah membayarnya.
Nyatanya Stuard lah yang menggajihnya dan memerintahkan untuk memberi yang terbaik bagi Simma. Bahkan, Stuard memerintahkan agar Asisten rumah tangga itu datang tiap hari agar bisa memasak untuk Simma dan tentu saja asisten rumah tangga itu akan berasalan pada Simma bahwa Audrey yang sudah membayarnya dan memerintahkannya datang tiap hari.
Simma pun langsung duduk, ia menarik piring yang berisi Steak dan mulai menyuapkan ke mulutnya. Matanya berbinar takjub saat steak itu begitu lembut di mulutnya. "Benar, dia sudah jadi orang kaya sekarang," ucap Simma pada Audrey. karena Simma masih berpikir Audrey yang memerintahkan asisten rumah tangganya untuk memasak hal yang enak.
Setelah menghabiskan kedua menu tersebut, rasanya tubuh Simma mendadak segar. Ia terpikir untuk menghirup angin pagi di luar, mungkin sedikit berjalan-jalan di taman bisa membuat tubuhnya sedikit segar.
•••
30 menit kemudian, Simma pun siap. Ia melangkahkan kakinya untuk keluar dan memutuskan pergi ke taman dengan menaiki taxi.
Karena hari ini hari minggu, banyak sekali yang berohraga. Seandainya Simma tak mengandung. Tentu, Simma pun ingin berlari.
Setelah berjalan kedalam, Simma mendudukan dirinya di kursi taman dan menslonjorkan kakinya ke depan..Matanya melihat pada orang-orang yang sedang berohlaga dengan para keluarganya.
"Simma!" tiba-tiba terdengar suara dari arah depan, membuat Simma menoleh.
"Se-Stu," jawab Simma terbata-bata. Ia langsung di hinggapi kepanikan. Ia menghela napas dan mengeluarkannya, berusaha menguasi diri.
"Bolehkah aku duduk di sini?" tanya Stu. Simma yang mulai bisa menguasi diri pun mengangguk, membuat Stuard tersenyum. Akhirnya, ia bisa melihat kembali pujaan hatinya.
Mereka sama-sama terdiam dalam waktu yang cukup lama, anehnya walah mereka sama-sama terdiam, Simma merasakan kenyamanan yang ia sendiri bingung mendeskripsikannya. Padahal, saat barusan, ia di landa kepanikan karena Stu meminta duduk di sisinya.
Dan biasanya ia selalu panik saat ada orang baru yang duduk di sampingnya atau berada di dekatnya tapi, sekarang ....
Lamunan Simma buyar kala ponselnya berdering. Ia merogoh saku dan melihatnya, ternyata satu pesan masuk dari Audrey yang meminta Simma untuk datang ke alamat yang sudah di tuliskan.
"Stu, maaf. Sepertinya aku harus pergi," ucap Simma sambil menoleh ke samping. Sejenak, Simma terpaku karena melihat ketampanan Stuard. Namun tak lama, Ia kembali tersadar.
"Bolehkah aku mengantarmu?"Tanya Stuar. " Aku bersumpah, aku bukan orang jahat," ucapnya lagi, membuat Simma kekeh menggeleng.
"Maaf Stu, aku lebih nyaman pergi sendiri." Setelah itu, ia pun bangkit dari duduknya. Namun, saat ia akan bangkit Ia melihat Josh yang sedang berlari bersama seorang wanita.
Tiba-tiba, pikirannya kembali pada saat di supermarket saat Josh seolah memamerkan kekasihnya kepadanya.
"Apa tawaranmu masih berlaku?" ucap Simma. Setidaknya, jika ia pergi dengan Stu dan berpapasan dengan Josh, ia bisa membuktikan pada Josh bahwa ia baik-baik saja.
Stu tersenyum, kemudian mengangguk dan mereka pun bangkit dari duduknya dan mulai berjalan.
Benar saja, saat di pintu keluar taman. Mereka bertemu dengan Josh dan Bri yang juga akan keluar dari taman. Karena mereka datang dari berlawanan arah, mereka pun langsung menghentikan langkahnya secara bersamaan.
Mata Josh menyipit saat melihat Simma bersama seorang lelaki. Bukankah Simma selama ini tak mempunyai teman lelaki. Tapi kenapa sekarang ...
Tak di pungkiri, hati Simma masih berdenyut nyeri saat melihat Josh. Apalagi sekarang, Josh sedang menggendeng tangan Bri. Telapak tangannya langsung mengeluarkan keringat dingin saat melihat Josh. tiba-tiba, ucapan-ucapan Josh yang menyakitkan kembali terngiang-ngiang di otaknya.
Dan tak lama, ia menutup mulut karena tiba-tiba ia merasa mual. Reaksi yang sama jika ia melihat Josh.
Seketika .....
Udah panjang banget nih ya, Bun. Hate komen Blok.😎
Cinta tulus setelah bercerai udah ada bab terbaru, ya. bun di sebelah 😘