Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
kekecewaan seorang ibu


Gabriel terduduk lesu, ia menunduk. Begitupun Rita, Ibu Amelia yang juga ikut menunduk di sebelah Gabriel, menantunya.


Barusan, saat Gabriel akan masuk, Reita mengajak Gabriel berbicara. Hingga kini, mereka berdua sudah duduk saling bersebelahan di kursi tunggu.


Namun, setelah sekian lama duduk. Mereka sama-sama terdiam, tak ada yang berbicara. Rieta menahan sesak di dada atas apa yang dilakukan Gabriel pada putrinya, sedangkan Gabriel hanya bisa tertunduk, karena tak sanggup melihat ibu mertuanya yang kecewa padanya.


Rieta menghela nafas, kemudian menghembuskannya berapa kali. Rasa sesak menghantam dadanya, ketika melihat putrinya harus diperlakukan tidak baik oleh Gabriel.


“Ibu pikir, kau kembali pada Amelia benar-benar tulus ingin menebus kesalahan pada Grisya dan ingin memperbaiki hubungan dengan Amelia. Tapi ternyata, ibu salah, kau masih membenci putri ibu,” ucap Rieta setelah sekian lama terdiam. Membuat Gabriel semakin tertunduk, ia tak berani untuk sekedar mengangkat kepalanya.


“Sedari remaja, Amelia sudah cukup mengalami kekerasan, karena ayah tirinya. Ia harus banting tulang mencari biaya untuk hidup. Pukulan dan tendangan sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Amelia. Tapi, Amelia tidak pernah menyerah, Amelia tidak pernah mengeluh. Ibu pikir, setelah ayah tirinya ditangkap, semua akan membaik dan Putri Ibu akan baik-baik saja dan memulai hidup yang bahagia. Tapi ternyata ibu salah.” Tiba-tiba, Rieta menangis sesegukan ia tak kuasa menahan kesedihan, saat mengingat berapa naasnya hidup putrinya.


“Gabriel, Tolong maafkan kesalahan Amelia. Tolong jangan dendam lagi padanya, tolong lepaskan dia. Ibu berjanji, akan membawa Amelia pergi dari sini,” ucap Rieta dengan hati yang pedih.


Seketika tangis Gabriel pun ikut luruh. Rasanya, semakin sakit ketika mendengar ucapan Ibu Amelia. Pada akhirnya, Gabriel ambruk di lantai, ia maju ke depan Ibu Amelia, lalu berlutut di depan mertuanya.


“Ibu, ampuni aku. Maafkan aku, aku benar-benar khilaf, aku tak tahu Amelia sudah mengandung. Aku bersalah, Aku minta maaf. Tolong jangan pisahkan kami, karena aku mencintai Amelia dan tak ingin kehilangan Amelia dan Grisya.” Gabriel menangis sesegukan sambil memeluk kaki Ibu mertuanya, sedangkan Rieta hanya mengelus rambut Gabriel yang sedang berlutut.


Saat merasakan elusan tangan ibu mertuanya, hati Gabriel semakin patah berkeping-keping, kebaikan ibu mertuanya benar-benar luar biasa. Bahkan, saat ia sudah berbuat salah, Ibu Amelia tidak menyalahkannya. Padahal, jelas-jelas Ia bisa melihat kekecewaan di mata mertuanya.


saat Gabriel berlutut, Gabby datang menghampiri mereka, untuk memberitahu bahwa dokter yang akan memeriksa Keadaan ibu Amelia sudah tiba. Sebenarnya ini hanya alasan, ia tau Gabriel ingin menemui Amelia. Dan Gaby yakin Gabriel merasa canggung ketika ada ibu mertuanya, apalagi Gabriel baru saja membuat kesalahan yang sangat fatal.


•••


Gabriel berjalan dengan langkah yang super pelan, tubuhnya begitu lemas, tangis masih membasahi wajah lelaki tampan itu. Sekarang bagaimana ia menghadapi istrinya, dan meminta maaf pada istrinya.


Saat berada di dekat, brangkar. Gabriel menghentikan langkahnya. Ketika melihat Amelia sudah membuka matanya. Demi apapun, hati Gabril benar-benar terasa nyeri saat melihat Amelia menatapnya dengan tatapan terluka.


“A-amelia,” Gabriel berucap lirih, tangisnya semakin pecah. Ia hanya mampu terdiam mematung melihat istrinya.


Amelia tersenyum lembut pada Gabriel.


“Gabriel terimakasih sudah membawaku ke sini,” Amelia berucap dengan pelan, ia bisa saja tersenyum. Tapi, matanya tak bisa berbohong. Ia sangat terluka.


Saat membuka mata, Amelia langsung teringat saat Gabriel menatapnya dengan bringas dan emosi. Dulu, saat ia di tahan oleh Gabriel, Gabriel sering menyiksanya dengan wajah yang bringas dan setiap melihat wajah Gabriel yang emosi, ia selalu mengingat saat dia kehilangan bayinya.


Dan setelah melihat emosi Gabriel kemarin, Amelia di Landa ketakutan yang luar biasa, ia takut Gabriel akan membunuh lagi calon anaknya.


Mendengar ucapan Amelia, seketika Gabriel maju, lalu ia memeluk tubuh Amelia, dan menangis tersedu-sedu.


Gabrielll ...


Ga komen ge flend