Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
213


Mendengar semua ucapan Briana, Josh mengangkat kepalanya. Tiba-tiba, rasa bersalah menghinggapinya. Ia teringat, Briana begitu sabar menunggunya dan kesabaran Briana lah yang membuat hati Josh terbuka dan mulai memercayai ikatan pernikahan.


"Kita akhiri saja semua sampai di sini, Josh. Aku tak ingin menghalangi kebahagiaanmu. dan aku juga berhak bahagia," ucap Briana lagi secara tiba-tiba, membuat mata Josh membulat. Saat Briana akan keluar dari mobilnya, Josh langsung mengunci pintu otomatis.


"Buka Josh!" ucap Briana dengan suara tercekat. Ia sudah mengeluarkan air matanya karena rasanya begitu menyakitkan.


Tanpa menghiraukan ucapan Bri, Josh menarik tangan Bri, lalu dengan paksa membawa Bri kedalam dekapannya, membuat tangis Bri semakin pecah.


"Maafkan aku, Bri. Ampuni aku," ucap Josh. Ia mengelus punggung Briana yang dan membiarkan Briana tenang di dalam dekapannya.


•••


"Kau yakin Simma ada di apartemen, Sayang?" tanya Zidan pada Audrey. Saat ini, mereka sedang berada di mobil untuk menuju apartemen Simma.


Mereka baru saja tiba di Rusia tadi pagi dan langsung pergi menjemput Kelly di mansion Albert. Dan saat malam hari, Audrey memutuskan untuk langsung menemui Simma karena seminggu ini Simma begitu mencurigakan, ia tak pernah mengangkat panggilan Audrey dan hanya akan menjawab lewat pesan dan selalu mengatakan bahwa ia sedang sibuk.


Tanpa Audrey ketahui, bahwa Stuard lah yang menjawab semua pesan Audrey, seminggu berada di mansion, Simma tak diijinkan memegang ponsel oleh Stuard. Dan al hasil, jika Audrey menelpon Simma, Stuard akan membalasnya dengan pesan agar Audrey tak curiga.


"Aku yakin dia sudah berada di apartemen. Ini sudah malam, caffe pun sudah tutup," jawab Audrey sedangkan Zidan hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


Saat sampai di apartemen, Audrey pun langsung masuk ke apartemen, beruntung Simma belum mengubah sandi apartemen, hingga Audrey bisa langsung masuk. Saat masuk, kening Audrey mengerut saat apartemen Simma masih gelap. Berarti, Simma masih belum sampai di apartemen.


"Sayang, aku sedikit mengantuk. Bolehkah aku beristirahat di kamarmu," ucap Zidan, Audrey pun mengangguk. Lalu seperti biasa, sebelum pergi, Zidan akan mencium bibir istrinya.


Saat Zidan sudah pergi ke kamar yang dulu di tempati Audrey. Audrey pun pergi ke dapur untuk melihat persediaan makanan di kulkas, ia ingin membuatkan makanan kesukaan Simma.


Audrey menghela napas, saat melihat kulkas dalam kondisi kosong. Ia lupa, bahwa Simma tak pernah mau berbelanja sendiri.


Ia pun mengambilnya dan melihatnya. Kening Audrey bertaut saat membaca kemasan dus tersebut, yang bertuliskan susu hamil.


"Kenapa dia mengkoleksi susu ini," ucap Audrey sambil terkekeh karena merasa lucu saat melihat susu hamil di tempat wanita yang masih lajang.


Ia menganggap bahwa Simma hanya coba-coba.


Namun tak lama, tubuh Audrey membeku saat menyadari bahwa sangat banyak dus yang tertata, pertanda Simma bukan hanya coba-coba, melainkan sebuah kebutuhan.


Lutut Audrey melemas saat menyadari sesuatu.


"Tidak ... Tidak mungkin," lirih Aurdrey saat pikirannya memikirkan hal yang terjadi pada Simma.


Tak lama, pintu apartemen terdengar terbuka, Audrey berusaha setenang mungkin karena ia tau, jika ia bertanya langsung tentang apa yang terjadi pada Simma. Simma akan tertekan dan langsung terkena serangan panik.


"Kau sudah pulang rupanya," ucap Audrey. Membuat Simma langsung tertunduk. Hari ini, pasti semua akan terbongkar.


Melihat Simma menunduk, Audrey pun berjalan menghampiri Simma, ia menarik lembut tangan Simma dan membawa Simma untuk duduk di soffa.


Kini, Simma sudah terduduk di sofa dan Audrey duduk di samping Simma.


"Simma, apa ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Audrey.


Scroll lagi ies, hari ini up 3 bab.