Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
Bab 9 Kenyataan pahit


flashback


“Gabriel kau tidak apa-apa?” tanya Gaby saat melihat sang kakak seperti orang linglung.


Saat ini, mereka baru saja keluar dari ruang kerja sang ayah, Stuard. Hari ini, seperti hari petaka bagi Gaby dan Gabriel, di mana mereka mengetahui bahwa mereka bukan anak kandung dari lelaki yang selama ini mereka panggil Daddy, lelaki yang selama ini menyayangi mereka, ternyata bukan ayah kandung mereka.


Dan ternyata, ayah kandung mereka adalah orang yang selama ini mereka kurang sukai. Gaby begitu hancur, apalagi Gabriel. Ini bukan hanya soal tentangnya saja tapi tentang cintanya. Ternyata, ia dan Ariana adalah kakak beradik kandung.


“Gabriel!” panggil Gabby lagi. Ia memang terpukul. Tapi ia tahu, sang kakak jauh lebih terpukul.


Karena Gabriel tak menjawab tak menjawab, Gabby memegang tangan Gabriel. “Gabriel kau tidak apa-apa?” seketika Gabriel, tersadar. Lalu, menghempaskan tangan Gaby membuat Gaby meringis.


Mata kedua saudara kembar itu sama-sama membasah. Tanpa membalas ucapan Gabby, Gabriel pergi meninggalkan Gabby dan berjalan ke kamarnya.


Gabriel membuka pintu dengan lesu, kakinya seperti tak berpijak. Saat sampai di kamar, Gabriel mendudukkan diri di sofa, matanya menatap ke langit-langit dengan tatapan nanar..


Tangis lelaki tampan itu masih berderai, rasanya ini begitu menyakitkan. Kenyataan ini begitu pahit untuknya. Dan hari ini, hari terberat dalam hidupnya.


Di mana, ia mengetahui rahasia yang selama ini disembunyikan kedua orang tuanya, dan yang membuat Gabriel terpukul, selain mengetahui Stuart bukan ayah kandungnya Ia juga harus menerima kenyataan bahwa Ariana adalah adiknya dan yang paling menyakitkan, ia mencintai adiknya sendiri.


Ariana adalah cinta pertamanya. Selama bertahun-tahun, Gabriel mencintai Ariana. Tapi sekarang, kenyataan di depannya memukulnya untuk mundur.


Gabriel tersadar Tiba-tiba ia menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Tidak, ini tidak benar. Ini pasti salah,” ucap Gabriel lagi dengan lirih. Seketika Gabriel bangkit dari duduknya, kemudian menyambar kunci mobil dan keluar dari kamarnya.


“Kakak, kau mau kemana?” tanya Gisel adik bungsunya, ia bertanya saat melihat sang kakak keluar dari kamar dengan terburu-buru.


“Kak!” panggil Gisell lagi, menyadarkan Gabriel dari lamunannya. Gabriel, tersenyum kemudian mengelus rambut Gisel.


“Kaka ada perlu sebentar, jika Mommy bertanya, bilang saja kakak pergi ke rumah teman.” Setelah mengatakan itu, tanpa mendengar jawaban Gisell, Gabriel pergi berlalu meninggalkan Gisel yang keheranan. “Ada apa deng ....” ucapan Gissel terputus ketika Gabby menepuk pundaknya dan langsung memeluknya.


“Kaka kau Ken ....” Lagi-lagi, ucapan Gissel terputus saat mendengar Kakanya menangis sambi memeluknya.


•••••


Setelah keluar dari mansion, Gabriel berjalan ke garasi, Gabriel membuka pintu mobil, kemudian menyalakannya dan mulai menjalankannya.


Jalanan Rusia tidak terlalu padat, hingga menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Pikirannya kalut, dan ia ingin secepatnya bertemu dengan Ariana.


Tiba-tiba, pikiran Gabriel dipenuhi ketakutan, membayangkan Ariana adalah adiknya saja sudah membuatnya perih, dan ia takkan sanggup jika sampai Ariana pergi dari hidupnya .


Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil yang di kendarai Gabriel sampai di apartemen Ariana.


Ia memarkirkan mobilnya, kemudian berjalan cepat dan pergi menaiki lift untuk naik ke apartemen Ariana.


Saat ia berbelok, langkahnya terhenti saat melihat ....


scroll lagi gengs, di sini adalah flashback keika Gabriel berubah menjadi kejam.