
Mendengar ucapan Amelia, tentang tersangka penyiksaan, Gabriel terdiam. Ia tiidak meneruskan kegiatan yang sendiri sedang meniup lengan Amelia.
Pikirannya mengembara pada dirinya sendiri. di mana ia sering menyiksa Amelia, bukan hanya sering tapi selalu menyiksa Amelia. Hingga mereka kehilangan dua anak mereka.
Amelia menoleh kearah Gabriel, ia
menggigit bibirnya, karena ia tahu ini mengingatkan Gabriel pada masa lalu mereka.
“Aaa ... aaa.” Amelia berpura-pura kesakitan, agar Gabriel tidak terus melamun, membuat Gabriel tersadar, seketika Gabriel kembali meniup lengan Amelia. Tapi kali ini, ada air mata Gabriel yang mendesak untuk dikeluarkan.
“Sudah?” tanya Gabriel, Amelia mengangguk. “Jika kau tidak mau kerumah sakit Bagaimana jika kita pulang saja?” tanya Gabriel. Sebenarnya, ia tak sanggup menatap Amelia.
Mendengar ucapan Amelia barusan benar-benar mengingatkan pada dirinya sendiri, hingga rasa bersalah itu kembali datang. Hingga, ia begitu malu menatap istrinya
Ia begitu brengsek di masa lalu. Tapi istrinya menerimanya dengan baik, memberikannya kesempatan.
Amelia pun mengangguk. “Ya, kita pulang saja,” ucap Amelia. Gabriel pun menegakkan tubuhnya, kemudian memakai set bealt kembali menjalankan mobilnya.
Hening
Di dalam mobil, hanya ada keheningan. Amelia menyandarkan kepalanya ke jendela, sedangkan Gabriel fokus mengemudi. Pikirannya penuh penyesalan yang sedang ia rasakan.
Seketika rasa canggung mendarera kedua insan itu, Amelia sadar Gabriel sedang bernostalgia dengan penyesalannya, dan ia ingin membiarkan Gabriel menguasai diri. Hingga ia lebih memilih menyandarkan kepalanya ke samping.
Begitupun Gabriel, yang juga terdiam karena ia tak berani menatap Amelia. Saat ini, a benar-benar merasa bersalah padi istrinya .
••••
Waktu menunjukkan pukul 11 malam, Gabriel melihat kesamping. Amelia pun sudah tertidur, sedari tadi, Gabriel tidak banyak bicara. Setelah setelah sampai di rumah, Gabriel membiarkan Amelia beristirahat dan dia menemani putra-putrinya bermain.
Tapi tak lama, Gabriel menghentikan langkahnya. Kemudian, ia mendudukan dirinya di anak tangga. Ia menyimpan wine yang ada di tangannya ke samping, kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Tak lama, tubuh lelaki tampan bergetar. Ia terisak, bahunya bergetar. Ia menangis tergug.
“Jangan dulu pingsan sebelum aku puas memberimu pelajaran!”
“Menari didepanku!”
“Dasar bodoh, cepatlah!”
Tiba-tiba semua ucapan dan kenangan tingkahnya saat menyiksa Amelia menubruk otaknya, membuat tangis Gabriel, semakin pecah..Betapa jahatnya dia di masa lalu.
Tiba-tiba lampu menyala, Amelia masuk ke ruangan bawah tanah menyusul Gabriel, ia tahu ada yang tidak beres dengan suaminya. Sebab saat setelah mereka sampai di rumah, Gabriel langsung menghindar. Ia langsung bermain dengan anak-anak dan tak seperti biasanya.
“Baby Kenapa kau kemari?” tanya Gabriel, secepat kilat Gabriel menghapus air matanya.
Amelia tak menjawab, ia maju ke hadapan Gabriel,.kemudian ia duduk di bawah Gabriel, lalu memeluk tubuh suaminya, membuat tangis yang sempat mereda kembali pecah saat memeluk sang istri.
“ it's okay Gabriel, tidak apa-apa semua sudah berlalu. Aku baik-baik, saja bukankah kau bilang kita hanya harus menjalani seperti air,” kata Amelia.
Bukannya berhenti menangis, tangisan Gabriel malah semakin mengencang. Ia memeluk istrinya begitu erat begitu pun Gabriel yang memeluk Amelia sama eratnya.
Scroll gengs
Manis banget ye si babang Gabriel