Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
78


"Gia tatap aku!" titah Zayn saat ia sudah menganggkat kepalanya dan melihat ke arah Gia.


Gia menoleh ke arah Zayn dengan ragu. Mata mereka saling mengunci, jantung mereka berdetak dua kali lebih cepat saat saling menatap.


"Apa?" jawabnya terbata-bata.


Cup.


Tanpa membalas ucapan Gia, Zayn mencium bibir Gia sekilas, dan mata Gia membulat sempurna saat Zayn menciumnya. Semalam, mereka sudah sepakat bahwa, Gia belum siap untuk memberikah hak Zayn. Tapi, sekarang ....


"Sepertinya, aku tak sanggup menunggumu membuka hati. Bisakah kau memberikanku hak ku sekarang?" tanya Zayn, ia menyentuh pundak Gia dengan lembut, hingga kini Gia telentang dan dengan cepat, Zayn menindih tubuh istrihya.


"Za-Zayn, apa yang kau lakukan," ucap Gia dengan terbata-bata. "Bukankah, A-aku ...." perkataan Gia terputus saat Zayn mencium bibirnya.


Gia memukul-mukul tangan Zayn, karena Zayn menciumnya dengan kasar. Gia kehilangan tenaga, ia berhenti meronta. Tepat saat ia berhenti meronta, Zayn tak lagi menciumnya dengan kasar, ia mencium bibir Gia dengan lembut, bahkan sangat lembut


Ia mengetuk mulut Gia dengan lidahnya, berusaha mengambil celah untuk masuk. Karena Gia tak kunjung membuka mulut, Zayn pun sedikit mengigit mulut istrinya agar Gia membuka mulutnya dan itu berhasil.


Ia menggoda Gia dengan sangat pelan, membiarkan Gia percaya padanya. Tangannya menelusuri bagian tubuh sensitif milik istrinya, ia menggerakan tangganya dengan lembut, membiarkan Gia sedikit rileks.


Untuk pertama kalinya, Gia merasakan hal yang tak biasa pada tubuhnya, otaknya ingin menolak apa yang Zayn lakukan, tapi tubuhnya sangat menerima sentuhan Zayn.


Gia kalah, perlahan dia pun membalas ciuman Zayn. Zayn bersorak dalam hatinya ketika Gia membalas ciumannya, walaupun Gia membalasnya dengan kaku. Bukankah selangkah lagi dia bisa mendapatkan apa yanh dia inginkan.


Mereka berciuman cukup lembut.


Setelah sekian lama berciuman, Zayn menghentikan ciumannya. Ia beralih menatap wajah Gia.


"Yakinlah padaku, aku akan melakukannya dengan perlahan." Tanpa mendengar jawaban lagi dari Gia. Zayn mengecup kening, mata dan seluruh inci wajah istrinya.


Setelah itu, ia berpindah menciumi leher istrinya tentu saja bukan hanya leher Gia yang di jamah oleh Zayn, melainkan semua tubuh Gia.


Setelah selasai dengan aktivitasnya di tubuh Gia dan membuat Gia melayang. Akhirnya, tibalah gilirannya.


"Za-Zayn, aku takut," lirih Gia.


"Percayalah, aku akan melakukannya dengan perlahan." Tanpa menunggu jawaban istrinya, Zayn sudah mengarahkan senjatanya ... Dan Akhirnya Goll.


Mereka pun larut dalam asmara yang di bangun oleh Zayn. Entah berapa kali Zayn menggeram menyebut nama Gia, sebelum akhirnya ia dan Gia sama-sama mencapai kepuasan bersama.


Setelah selesai, Zayn menggulingkan dirinya ke sebelah Gia, senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah tampannya. Ia begitu bahagia. Apalagi dia melakukannya dengan orang yang dia cintai.


Berbeda dengan Gia, setelah Zayn turun dari tubuhnya. Ia langsung berbalik membelakangi Zayn, Gia meringkuk. Ia terisak. Tiba-tiba ia merasa menjadi wanita hina karena di sentuh oleh Zayn, padahal semalam ia menolak memberikan haknya pada Zayn sebelum ia membuka hati, tapi sekarang ....


Zayn yang sedang tersenyum, langsung menoleh ke arag Gia. Seketika ia di landa kepanikan kala mendengar isakan Gia.


Nih, berkat doa kalian, otor beneran khilafkan 🤣 Otor up 3 bab tapi di jadiin dua bab ya soalnya mau ngeditnya ngantuk.


Otor berbaik hati menjabarkan keuuwuan Zayn dan Gia 🤣🤣


Fiks yang bilang otor upnya dikit kalian harus secepatnya ngopi. 🤣 scroll lagi kuy 😎


Barang kali minat baca ceritaku dan mau ikutin aku, boleh kepoin lapak aku yang baru Dokter Bunga. di mt hanya akan aku publish sampe 15 bab. Kalian lanngsung ketik aja di pencarian dengan judul Dokter Bunga


Dan sisanya di *******KBMAPP**********


Pasti ada yang bilang, "Thor, up nya satu satu dulu. ata thor post di sini ko di tamatin di sana "


Jawabannya.


Walaupun aku up beberapa lapak, tapi kalian juga tau kan aku up cerita Zayn perharinya panjang banget ... bahkan aku up lebih sering di mt dri pada di lapak sebelah


Terus yang nanya "Nulis di sini, namatin di sana."Jawabannya karena adalah promosi, sukur sukur ada yang mau ikut. kalau ga ada ya ga apa2.


Hatiku lembek, jadi ga nerima protes ya tentang dokter Bunga. Mau baca silahkan, mau enggak silahkan. Demi kenyamanan mood ku, yang hate komen langsung di blok ya.


"Gia, ada apa?" tanya Zayn saat mendengar Gia terisak. Ia menyentuh pundak Gia dan sedikit menariknya. Namun, Gia tetap tak bergeming.


Karena Gia kak bergerak sedikitpun, Zayn pun melangkahi tubuh Gia dan kembali berbaring di sisi istrinya, hingga kini posisi mererka berhadap-hadapan.


"Gia, kau kenapa?" tanya Zayn saat dia sudah berbaring. "Hei, lihat aku!" Apa kau menyesal dengan apa yang kita lakukan barusan?"


Gia mendongak menatap Zayn. "Zayn, apa aku wanita hina ... Apa setelah kau mendapatkan tubuhku kau akan membuangku dan anakku?" tanya Gia dengan bibir bergetar, setelah mengatakan itu, ia pun kembali menunduk.


Kening Zayn mengkerut bingung saat mendengar ucapan Gia. Kenapa Gia bisa berpikiran begitu.


"Hei, lihat aku!" Zayn memegang dagu Gia, memaksa Gia untuk melihat ke arahnya.


"Kenapa kau berpikiran begitu?" tanya Zayn saat Gia sudah melihatnya. Ia menghapus air mata istrinya dengan ibu jarinya.


Gia menggeleng, "Aku hanya takut, setelah kau mendapatkan tubuhku untuk yang kedua kalinya kau akan menganggapku murahan dan meninggalkan kami ... Sejak semalam, aku sudah banyak berpikir dan aku bersyukur kau mau menerima anak yang sedang ku kandung. Tapi sekarang, aku takut bahwa kau akan meninggalkanku," jawabnya.


Zayn tergelak, ia tertawa, membuat Gia keheranan karena reaksi Zayn.


"Bagaimana kau berpikir hal sekonyol itu ... kalian prioritasku. Bagaimana mungkin aku meninggalkan kalian," balas Zayn. "Sekarang tatap aku!" titah Zayn. Kali ini sorot mata Zayn terlihat dipenuhi ketegasan, hingga Gia langsung mendongak melihat ke arahnya.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. hidupku hanya untuk kalian. Hanya maut yang bisa memisahkan kita, Tak perduli kau belum membuka hatimu untukku, aku akan tetap membuat mu berada di sampingku, bahkan dengan cara lembut atau dengan cara memaksa sekalipun."


Mendengar ucapan Zayn, Gia tertegun. Hatinya menghangat. Ia merasa benar-benar


di cintai.


Setelah merasa Gia mengerti ucapannya. Zayn pun mengangkat kepala Gia lalu mengulurkan tangannya hingga tangannya menjadi bantal bagi Gia, kini, posisi mereka sangat intim. Tatapan mereka saling mengunci, ada debaran aneh saat Gia menatap irish mata milik Zayn.


"Berhenti berpikir aku akan meninggalkanmu ... Aku sudah melimpahkan semua hartaku atas namamu, jika kelak aku tiada dan musuhku menang, kau tak perlu khwatir, kalian akan hidup dengan kayak," ucap Zayn dengan putus asa.


Mendengar ucapan Zayn, tangan Gia terangkat untuk mengelus pipi suaminya. "Jika kau memang mencintaiku, maka berhentilah berputus asa. Jika kau tiada, lalu siapa yang akan menjaga kami?"


Mendengar ucapan Gia, Zayn tersenyum. Ia mengambil tangan Gia dan mengecupnya.


"Tunggu! kau bilang kau sudah melimpahkan hartamu padaku?" tanya Gia dengan membulatkan matanya.


Zayn pun mengangguk dengan santainya. "Surat yang kau tanda tangani sebelum kita menikah, itu bukanlah surat perjanjian. Itu berkas tentang pemindahan asetku yang kini beralih nama menjadi namamu."


Gia terhenyak atas ucapan Zayn. Lagi-lagi, dia dibuat terkejut atas tindakan suaminya. Terlalu banyak kejutan yang diberikan Zayn untuknya.


"Aku mengantuk," ucap Zayn ketika melihat Gia yang sepertinya akan kembali bertanya.


Gia mendengus, ia pun membalikan tubuhnya memunggungi suaminya. Namun, tak lama ia tersenyum saat Zayn memeluknya dari belakang dan mengelus lembut perutnya.


"Pakaianmu masih basah, jadi pakai ini," ucap Zayn sambil menyodorkan paperbag ke arah Gia.


"Kau mendapatkan ini dari mana?" tanya Gia saat menerima paperbag tersebut.


"Mark yang membelikannya."


"Memandikanmu," ucapnnya dengan seringai menggoda.


"Zayn!" protersnya. Namun sepertinya Zayn tak memerdulikan protesan dari Gia. Ia menarik lembut tangan Gia ke arah kamar mandi. Zayn menyudutkan Gia ke dinding dan dia dengan cepat menghimpit tubuh istrinya. Belum Gia protes, Zayn sudah menyalakan shower dan membungkam mulut istrinya dengan mulutnya.


Hanya mereka yang tau, apa yang terjadi di kamar mandi.


Kini, mereka pun sudah berpakaian kembali dan bersiap untuk pulang. Wajah Zayn tampak berseri-seri. Ia mengulum senyum saat melihat leher Gia penuh dengan hasil karyanya. Melakukannya dengan istrinya yang masih polos, memberikan kebahagiaan tersendiri bagi Zayn.


"Ayo!" ajak Zayn. Ia mengulurkan tangannya pada Gia. Dengan ragu, Gia pun menerima uluran tangan Zayn, mereka pun keluar dengan bergandengan tangan.


Belum Zayn menekan tombol lift, pintu lift sudah terbuka, dan Zidanlah yang berada di dalam lift tersebut.


Lagi-lagi, Hati Zidan berdenyut nyeri saat matanya menangkap Zayn bergandengan tangan dengan Gia. Dadanya terasa sesak kala ia melihat tanda merah di leher Gia, tak perlu di jelaskan, Zidan sudah mengerti apa yang terjadi. Padahal ia tau, kakanya dan Gia pernah tidur bersama, tapi membayangkan mereka melakukannya lagi, kenapa masih sangat menyakitkan.


Gia yang sadar akan tatapan Zidan, menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Zayn.


"Kau tidak akan keluar?" tanya Zayn memecah keheningan antara mereka.


Zidan tersadar, ia berusaha mengendalikan dirinya. "Aku hanya ingin memberikan berkas ini," ucap Zidan sambil keluar dari lift.


"Kau bisa menaruhnya di atas meja Mark!" titah Zayn, setelah itu, ia menarik tangan Gia untuk memasuki lift.


•••


Sudah beberapa hari berlalu, Sonya tak keluar dari kamarnya. Albert sudah beberapa kali mengajak Sonya berbicara tentang masalah mereka. Ia sangat penasaran, kenapa Sonya tak bertanya apa-apa padanya, padahal Sonya sudah mengetahui semuanya.


Dan disinilah sekarang, Albert berdiri di depan kamar Sonya. Albert tau, membujuk Sonya untuk berbicara tidak akan berhasil. Sonya akan bertahan dengan sikap diamnya.


Albert pun memutuskan untuk masuk ke kamar Sonya dengan menggunakan kunci cadangan.


Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruang penjuru kamar Sonya, tak ada Sonya di mana pun. Lalu tak lama, dia menghela napas lega saat mendengar gemericik air, menandakan Sonya sedang berada di kamar mandi.


Ia memindai isi kamar Sonya, hatinya menghangat saat Sonya masih memajang foto mereka berdua.


Lalu, tak sengaja matanya mengangkap cangkang obat di atas nakas. Albert pun berjalan menuju nakas, ia mengambil obat itu dan menelitinya. Lalu saat meneliti obat yang sedang di pegangnya, Albert melihat laci sedikit terbuka, ia pun melihat ada map.


Albert menaruh obat yang sedang di pegangnya dan mengambil map yang berada di laci bawah kemudian membacanya dengan seksama.


Tubuhnya terasa linglung, dunianya seakan berhenti berputar, ia merasa kakinya tak berpijak.


Ia bahkan tak menyadari Sonya sudah keluar dari kamar mandi.


Sonya langsung menarik kertas dari tangan Albert. "Berani sekali kau masuk tanpa seijinku," ucap Sonya dengan dingin.


Albert ....


Sementara di tempat lain. Seorang pria seumuran Zayn, sedang tertawa kencang. Ia tertawa senang kala mengetahui kelemahan terbesar Zayn, orang adalah itu .....