
Mobil melaju dengan cukup pelan. Simma masih setia dengan diamnya. Tadi, setelah simma menangis, Stuard mengajak Simma untuk pulang. Dan Simma pun menurut.
Simma terus memalingkan tatapannya ke arah luar. Sejujurnya, ia sungguh malu menatap Stuard. Kemarin ia sudah pergi dari Mansion dan berpikiran buruk tentang Stuard. Berpikir, bahwa Stuard hanya berpura-pura menyayanginya dan kedua anaknya.
Tapi, hari ini. Semua terbuka. Stuard begitu menyayanginya dan tak rela jika siapa pun menyakitinya dan kedua anaknya. Sungguh, Simma merasa malu pada suaminya.
Saat Simma asik dengan lamunannya, Stuard tetap setia menggenggam tangannya. Ia tak melepaskan genggaman tangannya dari tangan istrinya. Jujur saja, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat karena mengira istrinya marah padanya.
"Rain antarkan kami ke rumah sakit," kata Simma. Membuat Stuard terpekik.
"Jangan ... Kita pulang saja langsung ke mansion." Kata Stuard. "Baiklah, antrarkan ke rumah sakit," sambung Stuard lagi kala melihat ekpresi Simma yang berubah. Saat ini, ia tak berani membantah perintah istrinya.
••••
Setelah sampai di Mansion, Simma langsung berjalan ke kamar mandi. Ia langsung menangis tergugu, di atas bidet toilet. Sungguh, ia sama sekali tak berani menatap Stuard, karena ia sungguh malu pada suaminya.
Stuard mundar mandir di depan pintu kamar mandi, lelaki tampan itu gelisah, saat Simma tak kunjung keluar dari kamar mandi. Perasaannya, berbanding terbalik dengan apa yang di rasakan oleh istrinya.
Simma merasa malu bertemu dengan Sturad, sedangkan Stuard mengira Simma menangis karena tak terima jika ia menghajar Kareen.
Tak ingin salah paham lebih berlanjut, Stuard menempelkan sidik jari di samping pintu toilet, hingga toilet itu terbuka. Ia masuk ke kamar mandi, lalu menghampiri istrinya yang sedang duduk di bidet toilet.
Stuard menekuk kakinya, lalu berjongkok di hadapan Simma, membuat Simma mendongak mengangkat kepalanya dan menatap Stuard.
"Maafkan aku, karena telah menghajar kakamu. Tapi, sungguh, aku tak terima jika ada satu orang pun yang memakimu, termasuk kakakmu sendiri," ucap Stuard. Satu tangganya tergerak menghapus Air mata istrinya, membuat tangis Simma semakin mengencang.
"A-aku tak perduli kau menghajarnya, a-aku hanya ma-malu padamu," ucap Simma dengan terbata-bata. Membuat Stuard menghela napas lega. Ternyata dugaannya salah, istrinya tak marah padanya.
Stuard bangkit dari berjongkoknya. Ia menarik lembut tangan Simma dan mereka pun keluar dari kamar mandi.
Kini, mereka sudah terbaring di ranjang dengan posisi berhadap-hadapan. Stuard terus mengelus rambut Simma, sedangkan Simma terus menunduk tak berani menatapnya.
"Kenapa kau malu, hmmm?" Tanya Stuard, membuat Simma menggigit bibir bawahnya. Ia Bingung harus menjawab apa. Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Simma mengangkat kepalanya.
"Maafkan aku, Dad. Aku selalu berburuk sangka padamu. Ternyata kau sangat menyayangiku dan anak-anak," kata Simma dengan pipi memerah.
Stuard menghela nafas, ini kelemahan istrinya. Tak di pungkiri, selama ini, ia sadar bahwa istrinya kerap merasa insecure atau minder. Itu sebabnya, dan Stuad selalu meyakinkan bahwa istrinya adalah wanita istimewa sangat istimewa.
"Kenapa kau tak menjawab ucapanku?" tanya Simma yang kembali mengangkat kepalanya karena Stuard tak menjawab ucapannya.
Mendengar jawaban Stuard, Simma kembali terisak. Ia langsung berhambur memeluk suaminya. Menelusupkan wajahnya pada dada bidang suaminya.
Lelaki ini begitu sempurna, layaknya seorang dewa. Mencintainya dan kedua anaknya dengan tulus, padahal Gabby dan Gabriel bukan anak kandungnya.
"Kau tak marah aku menghajar kakamu?" tanya Stuard, membuat Simma melepaskan pelukannya.
...Simma menggeleng, "Dia sudah keterlaluan, sebagai ibu. Hatiku sakit ketika dia menyuruh menyimpan Gabby dan Gabriel di panti," jawab Simma. Kesabaran Simma sudah habis, ia bisa terima ketika Kareen memakinya. Tapi, ia Takan terima ketika Kareen mengusik kedua anaknya...
"Dad, apa dia masih hidup?" tanya Simma tiba-tiba, membuat Stuard tampak berpikir.
"Jika pun dia masih hidup. Aku pastikan, ia akan lebih memilih mati, karena harus menghadai hal di depannya." Stuard berbicara dengan nada berapi-api, saat mengingat ucapan dan tingkah Kareen.
"Dad! apa ini sakit?" tanya Simma sambil memegang pipi Stuard yang memar dan bengkak. Ia berusaha mengalihkan pembicaraan, karena setiap membahas Kareen, wajah Stuard selalu memerah.
"Lebih sakit saat kau meninggalkanku kemarin," jawab Stuard sambil terkekeh. Ia mengerti bahwa istrinya sedang mengalihkan pembicaraan.
Apapun kondisinya, siapa pun yang sakit, tetaplah Stuard yang memeluk Simma dan menenangkan istrinya. Hingga kini, Simma sudah terlelap di dalam pelukan suaminya.
Setelah Simma terlelap, Stuard melepaskan pelukannya. Ia langsung turun dan keluar untuk pergi ke ruang kerjanya. Ia berjalan mengendap-ngendap agar tak terpergok oleh kedua anaknya. Ia tak ingin kedua anaknya melihat ia babak belur.
Setelah sampai di ruang kerja, Stuard mendudukan dirinya di kursi kerjanya. Lalu, ia mengambil pensil dan kertas kemudian mulai menggambar. Ia sedang mendesign kastil kecil untuk Gabby, dan mainannya.
Saat Stuard anteng dengan gambarnya. Ponsel di sakunya berdering, terpampang nama Rain dan ia langsung mengangkatnya.
"Aku belum puas memberinya pelajaran. Berikan dia dosis yang lebih tinggi. Kurung di sel biasa!" Setelah mengatakan itu, Stuard mematikan panggilannya.
Stuard memang pria yang sabar dalam hal apapun. Tapi ketika ada yang mengusik istrinya, Stuard akan menghancurkannya sampai ke dasar.
sedangkan Kareen ...
Orang sabar kalau marah beda ya Bun 😭😭
Hate komen blok 😎
•••