
"Kenapa kau mendorongku?" tanya Zidan. Ia meringis saat Audrey mendorongnya, hingga ia terjatuh.
Audrey, langsung bangkit dari duduknya, ia membenarkan tampilannya.
"Apa itu sakit?" tanya Audrey saat sudah turun dari ranjang. Ia memalingkan tatapannya ke arah lain, karena ingin sekali tertawa melihat kondisi Zidan.
Zidan masih meringis, "Ini sangat menyakitkan," keluh Zidan. Ia mengulurkan tangannya pada Audrey, mengisyaratkan agar Audrey membantunya.
"Maafkan saya, Tuan Zidan," ucap Audrey. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Zidan.
"Kenapa kau masih memanggiku, Tuan?" tanya Zidan. Ia menerima uluran tangan Audrey dan bangkit dari duduknya, kemudian mendudukan diri di ranjang. Sedangkan Audrey, masih berdiri dengan memalingkan tatapannya ke arah lain. Ia terlalu bingung untuk menghadapi Zidan.
"Kenapa kau masih memanggilku, Tuan?" tanya Zidan. Ia menarik lembut tangan Audrey hingga Audrey terjatuh di pangkuannya.
Audrey berusaha bangkit dari pangkuan Zidan. Namun, dengan secepat kilat, Zidan menggulingkan tubuh Audrey, hingga Audrey berbaring. Dan dengan cepat, Zidan naik ke ranjang, ia berbaring di sisi Audrey dan mengunci tubuh Audrey.
Kini, kedua sejoli yang selama ini saling memendam perasaan pun saling berhadapan, menyelami suara detak jantung masing-masing.
"Kenapa kau masih berpura-pura, Audrey?" tanya Zidan. Tangannya, mengangkat dagu Audrey hingga kini Audrey menghadap ke arahnya.
"A-aku tak pantas untukmu. Kita perberbedaan kita sangat jauh," jawab Audrey. Membuat Zidan menghela napas berat.
"Dalam kamusku, mau pun keluargaku. Kami tak pernah membeda-bedakan kasta. Tak perduli siapa kau, yang terpenting kita saling mencintai," jawab Zidan. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Audrey, lalu mencium bibir Audrey dan mellumatnya sebentar.
"Memangnya siapa yang jatuh cinta padamu?" elak Audrey. Ia masih belum sadar bahwa ponselnya ada di tangan Zidan.
Audrey memiliki dua ponsel, sejak kemarin ia sampai di rumah, ia memainkan ponsel yang lain. Hingga ia tak menyadari ponsel yang lainnya lagi tertinggal di ruangan Zidan.
Tangan Zidan menyusup pada bawah bantal, ia mengambil ponsel Audrey yang berada di bawah bantal. Sebelum memanggil Audrey ke ruangannya, Zidan sudah menyimpan ponsel Audrey di bawah bantal, agar saat Audrey mengelak, ia gampang mengambilnya.
"Kenapa ponselku ada padamu?" Pekik Audrey. Ia berusaha mengambil ponselnya dari tangan Zidan. Namun, Zidan menyembunyikannya di belakang tubuhnya dan kemudian, ia memeluk pinggang Audrey dan mengunci tubuh Audrey di bawah kungkungannya.
"Jika kau tak mencintaiku. Kenapa kau menyimpan nomerku dengan nama istimewa, dan kenapa pula kau menyimpan foto-fotoku?" tanya Zidan, membuat wajah Audrey memerah karena terpergok.
"A-aku tak melakukan itu," elak Audrey lagi. Membuat Zidan menggeleng karena Audrey begitu keras kepala.
Zidan pun menaruh ponsel Audrey kembali, ia langsung membawa Audrey kedalam dekapannya. "Teruslah menyangkal jika itu membuatmu bahagia," ucap Zidan sambil membelai punggung Audrey.
Setelah berada di pelukan Zidan, pertahanan Audrey runtuh. Ia kalah telak, bolehkah ia egois dan berbahagia untuk dirinya sendiri.
"Zidan, aku hanya manusia biasa. Masa laluku tak sebaik yang kau kira dan aku adalah seorang janda dengan satu anak," gumam Audrey.
Zidan melepaskan pelukannya. Ia kembali menatap Audrey. "Masa lalumu tidaklah penting! Kau dan Kelly adalah hidupku sekarang ... Jadi, bisakah kau tak menyangkal lagi perasaanmu?" tanya Zidan, seketika Audrey pun mengangguk.
Melihat Audrey mengangguk, Zidan pun menurunkan tubuhnya hingga sejajar dengan Audrey. Lalu dengan gerakan cepat, ia langsung mencium bibir wanita yang baru saja resmi menjadi kekasihnya.
Zidan mencium bibir Audrey begitu rakus, Bibir yang selama ini selalu membuatnya tergoda. Audrey sempat kewalahan meladeni Zidan, membuat Zidan memelankan gerakannya, hingga kini mereka berciuman dengan lembut.
•••
Zidan menarik selimut untuk menutupi tubuh Audrey. Setelah berciuman, mereka langsung berpelukan, hingga Audrey tertidur dalam dekapan Zidan.
Saat Zidan akan bangkit, ponsel Audrey berdering. Zidan pun langsung mengambil ponsel tersebut, kening Zidan mengernyit heran saat melihat notifikasi dari ponsel kekasihnya.
Tertera alarm pengingat yang muncul di layar ponsel Audrey, dengan ragu, Zidan pun langsung membuka pengingat yang di tulis Audrey
Gajih Simma
Apartemen
biyaya hidup
cicilan mobil
kebutuhan
dan dana darurat.
Itulah yang Audrey tulis di pengingatnya. Ya, karena hari ini ia menerima gajih. Pengingat itu akan otomatis muncul. Audrey selalu mencatat semuanya dengan detail agar ia bisa mengatur keuangannya.
Setelah melihat semuanya, Zidan mengelus rambut Audrey. Dia tak salah jatuh cinta pada Audrey.
Di saat orang lain mendekatinya karena harta, Audrey malah menjauhinya dan rela menekan perasaannya. Padahal, jika Audrey mau, ia bisa mendekati Zidan dan memerasnya. Tapi, Audrey tak melakukan itu.
•••
Audrey terbangun, matanya mengerjap-ngerjap, ia terpekik kaget saat melihat jam di dinding. Ia sudah tertidur selama dua jam.
Ia pun dengan cepat bangkit dari berbaringnya dan berlari ke arah luar.
Namun, baru saja ia akan keluar, langkahnya di hadang oleh Zidan. "Kau mau kemana?", tanya Zidan yang tiba-tiba masuk ke kamar pribadinya.
"Ini jam bekerja. Mana mungkin aku terus di sini," jawab Audrey.
"Aku bosmu ... dan sekarang, aku memerintahkanmu untuk kembali berbaring dan beristirahat!" titah Zidan. Hari ini, hari istimewanya karena cintanya terbalas oleh Audrey. dan hari ini, ia hanya ingin menghabiskan waktu berdua bersama Audrey, tanpa di ganggu oleh siapa pun.
"Ini jam kerja, Tuan Zidan. Jadi, mari kita bekerja," kekeh Audrey. Ia berjinjit dan memberanikan diri mengecup pipi Zidan. "Love you," lirih Audrey, kemudian ia berlari, meninggalkan Zidan, membuat Zidan terpaku.
Zidan tersenyum, kemudian mengelus pipinya yang baru saja di cium oleh Audrey, hatinya berbunga-bunga kala ia mendengar Audrey menyatakan cinta.
•••
Waktu menunjukan pukul 04. sore. Jam kantor sudah usai, Audrey membereskan mejanya dan bangkit dari duduknya. Tak lupa, ia membawa berkas yang harus di serahkan pada Zidan. Bosnya sekaligus kekasihnya.
"Tuan Zidan. ini berkas yang anda harus periksa," ucap Audrey. Zidan mendesah saat Audrey kembali memanggilnya Tuan. Bukankah, tadi mereka resmi menjadi sepasang kekasih.
Zidan pun bangkit dari duduknya. Berjalan ke arah Audrey. Saat Zidan mendekat, Audrey mundur. Selangkah Zidan maju, selangkah pula Audrey mundur.
"Apa aku harus menyeretmu ke altar sekarang, agar tak memanggilku Tuan lagi?" tanya Zidan. Ia menghimpit dan menarik pinggang Audrey hingga posisi mereka begitu intim. Zidan tak sanggup menahan diri lagi. Ta npa mendengar jawaban Audrey, Zidann mendekatkan wajahnya dan mencium lagi bibir Audrey.
aktivitas mereka terhenti saat mendengar pintu terbuka, dan mereka pun langsung menoleh ke arah pintu.
"Silahkan kalian lanjutkan!" ucap Albert, ternyata Albert lah yang masuk kedalam ruangan sang putra.
Bocoran next part
Audrey menghajar orang di depannya dengan membabi buta. Emosinya sudah di ubun-ubun karena orang itu mengatakan bahwa Kelly adalah anak haram. Tak lama, Zidan datang dan langsung ....