Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
305


Hati Stuard hancur berkeping-keping saat mendengar ucapan Gabriel, ia tak menyangka bahwa Gabriel bisa berpikiran sampai sejauh itu.


ia memutar otak mencoba merangkai kata agar bisa masuk ke dalam pikiran Gabriel. ia menatap Gabriel lekat-lekat, walaupun Gabriel bukan anak kandungnya. tapi, ia mengenal Gabriel lebih dari siapa pun. Gabriel harus mendengarkan penjelasan secara jelas agar bisa masuk ke otaknya.


"Kenapa kau menganggap Daddy membencimu, hmm?" tanya Stuard dengan lembut. Matanya, menatap irish mata Gabriel


dengan tatapan tegas.


"Daddy membenci kami setelah Gabby memecahkan guci Daddy. Kami sudah minta maaf pada Daddy, tapi Daddy tetap membenci kami dan mengacuhkan Kami. Aku dan Gabby selalu menunggu Daddy pulang dari kantor untuk meminta maaf kembali berharap Daddy memaafkan kami. Tapi Daddy selalu menghindari dari aku dan Gabby. Sejak hari itu Daddy jarang tersenyum pada kami." Gabriel mengehentikan sejenak ucapannya. Ia meremas kedua tangannya lalu menunduk.


"Walaupun kami yakin Daddy tak tak akan datang, tapi kami tetap meminta Daddy hadir ke sekolah kami, berharap bahwa Daddy bisa hadir menemani aku dan Gabby. kami menantimu, Dad. Tapi kau sama sekali tak perduli. Saat yang lain merayakan lomba bersama ayah mereka. Aku dan Gabby hanya bisa melihat dari sisi lapangan. Bukankah aku dan Gabby begitu menyedihkan?" Setelah mengatakan itu, Gabriel semakin menunduk. Lalu tak lama ia menangis sesegukan.


Nyessss


Demi apapun batin Stuard terasa tercubit mendengar ucapan Gabriel. Ternyata, mendengar langsung dari mulut putranya begitu menyesakkan. Ia tak menyangka, putranya bisa berpikir seperti itu. Bahkan, tanpa sadar ia menitihkan air matanya.


Saat Gabriel menangis seseguka. Stuard mengangkat tubuh kecil Gabriel dan mendudukan Gabriel di pahanya.


"Ke-kenapa Da-Daddy lebih menyayangi benda mati di banding kami," ucap Gabriel sambil menangis sesegukan, membuat batin Stuard teriris perih.


Stuard mengelus punggung Gabriel dan mengecup pucuk kepala gebril bertubi-tubi membiarkan Gabriel puas menangis didalam pelukannya.


"Gabriel, sayang, Dengarkan Daddy," kata Stuard setelah tangis Gabriel sedikit mereda. Stuard memegang bahu Gabriel. Lalu sedikit. Menjauhkan tubuhnya, hingga pelukan Gabriel terlepas.


"Daddy akui Daddy salah, Daddy menyesal. Emm, Guci itu, adalah satu-satunya kenangan yang nenek kalian tinggalkan untuk Daddy, saat guci itu pecah, Daddy merasa jiwa Daddy pun ikut melayang. Daddy akui, Daddy menjauhi kalian agar kalian tak melihat amarah Daddy, tapi bukan berarti Daddy membenci kalian." Stuard menghentikan ucapannya dan membiarkan Gabriel mencerna ucapannya.


"Gabriel, semua manusia yang ada di bumi ini hanya manusia biasa, ada kalanya kita bahagia, sedih, lelah kecewa, begitu pun Daddy, yang butuh waktu untuk sendiri dan untuk menenangkan diri da ...."-


"Tapi kami sudah meminta maaf, Dad," jawab Gabriel yang memotong ucapan Stuard.


Stuard mengusap lembut rambut Gabriel, ia tau putranya bisa sedikit menerima penjelasannya.


"Dan itulah kesalahan Daddy, seharusnya Daddy sadar, kau dan Gabby lebih penting dari apapun. Daddy menyesal, Gabriel. Daddy menyesal. Daddy bersumpah Daddy tak membenci kalian. Daddy menyesal tak datang saat hari ayah dan menyesal tak menemani kalian," sambung Stuard dengan lembut. Namun, penuh ketegasan.


"Gabriel, lihat Daddy!" titahnya, saat Gabriel masih menunduk.


scroll lagi iesss. hari ini aku update 3 bab