Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
Bisakah Bersama kalian?


“Malam ini aku lembur dan kau jangan khawatir, aku akan memakan makanan ini saat nanti tengah malam, agar aku tidak membeli lagi keluar,” jawab Amelia, terlihat jelas Amelia menatap Gabriel dengan tatapan kesal membuat Gabriel menyipitkan matanya.


Lalu ia memutar otak untuk memikirkan bagaimana caranya melarang Amelia agar tidak makan malam bersama Johan.


“Baiklah, kalau begitu aku ingin ikut makan malam bersama kalian,” jawab Gabriel tanpa sadar. Bahkan, ia pun terkejut dengan ucapannya sendiri, tapi semuanya sudah terlanjur.


Mata Amelia dan mata Johan saling tatap ketika mendengar ucapan Gabriel, kemudian Amelia mengusap wajah kasar, lalu menatap Gabriel dengan tatapan tak suka.


Gabriel mengangkat bahunya acuh, kemudian mendahului langkah Amelia dan Johan.


“Amelia kenapa dia aneh sekali. Padahal dulu saat kuliah, dia tidak begini," jawab Johan. ketika Gabriel sudah pergi mendahului mereka.


“Entahlah Johan ... Bagaimana, apakah kau tetap mau makan malam bersama?” tanya Amelia lagi.


“Ya sudah, mau bagaimana lagi.”


“Kenapa kalian masih diam di situ?” tiba-tiba terdengar suara Gabriel dari depan. Rupanya, Gabriel berbalik, karena Amelia dan Johan tidak kunjung melangkahkan kakinya.


Amelia menggeleng, kemudian kembali melangkahkan kakinya dan mereka pun berjalan ke arah Gabriel.


•••


Amelia menyandarkan kepalanya ke belakang, kemudian matanya menatap pada langit-langit. Saat ini, ia baru saja selesai makan malam bersama Gabriel dan Johan.


Tiba-tiba, Amelia teringat sesuatu. Ia membuka paper bag yang tadi diberikan Gabriel, paperbag itu berisi kotak makan yang di buatkan oleh Simma.


Amelia pun membuka paperbag tersebut, lalu mulai mengambil sendok dan mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. Saat ia asyik menyuapkan makanan, ia melihat sesuatu yang tertinggal dari paper bag itu.


Kemudian, ia menariknya. Ternyata sebuah kertas, lalu Amelia pun membacanya. “apa-apaan dia ini,” ucap Amelia dengan lirih, ia sudah bisa menebak bahwa Gabriel yang menulis itu, Amelia melempar kertas itu ke tempat sampah, lalu kembali memakan makanannya.


•••


Gabriel membuka pintu kamar, kemudian ia tersenyum ketika melihat Grisya sudah tertidur di kamarnya. Barusan, Grisya memang tertidur bersama Gaby di kamar Gabby. Tapi Gabby memindahkan Grisya, Karena ia yakin Gabriel ingin bersama dengan putrinya.


Gabriel menutup pintu dengan perlahan, kemudian ia berjalan pelan ke arah keranjang, Ia melepas jaketnya, kemudian melemparkannya ke bawah. Gabriel membaringkan tubuhnya di ranjang, dengan posisi meringkuk hingga kini posisi Gabriel dan Grisya saling berhadap-hadapan.


Gabriel mengelus pipi putrinya, lalu menatap Grisya lekat-lekat. Lelaki tampan itu tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya untuk mencium kening Grisya.


Darah seakan berhenti mengalir di tubuh Gabriel, ketika pertama kalinya, ia mencium putrinya, setelah itu, ia kembali menjauhkan tubuhnya. Lalu kembali menatap sang putri.


Wajah Grisya sangat mirip dengannya, membuat dada Gabriel semakin sesak. tiba-tiba tangis Gabriel luruh, lelaki tampan itu menangis tergugu, penyesalan demi penyesalan menghantamnya.


“Grisya, apakah Daddy bisa bersama kalian?” Gabriel berucap dengan pelan. Nada suaranya terdengar sangat pedih, perlahan, ia bangkit dari duduknya, kemudian menggendong Grisya lalu menidurkannya di atas tubuhnya, hingga kini kepala Grisya berada di dada Gabriel.


Scroll Gengs.