Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
326


Setelah keluar dari ruangan Justin, Ariana berjalan ke arah toilet. Rasanya, ia ingin menangis sekecang kencangnya. Ia benar-benar malu pada Justin, dan rasanya ... Ia takan sanggup melihat Justin lagi.


Saat sampai di toilet, Ariana menangis tergugu. Walaupun saat berada di kampus dia terlihat baik-baik saja. Tapi, aslinya kondisinya tak sebaik itu. Ia kerap merasa tak percaya diri, dan terkadang hatinya selalu berdenyut nyeri ketika pada mahawasiswa menatapnya dengan tatapan iba.


Setelah puas menangis. Ariana keluar dari kamar mandi, ia langsung berjalan untuk pulang.


Saat sampai di gerbang, Ariana menghela nafas saat melihat tak ada satu pun taxi yang melintas. Sejenak, Ariana menoleh kebelakang. Ia tersenyum getir saat melihat mahasiswa yang lainnya memakai mobil, dan di jemput oleh supir. Tapi apa daya, ia hanya bisa kesana kemari menaiki taxi.


Akhirnya, taxi pun melintas di hadapannya. Dan ia pun langsung menaiki taxi tersebut. Setelah taxi melaju, ponsel di tasnya berdering, ia merogoh tas dan mengambil ponselnya. Satu panggilan masuk dari Josh, sang ayah.


Setelah tau bahwa yang menelponnya adalah sang ayah. Ariana kembali memasukan ponselnya.


Tiba-tiba, rasa lapar menderanya. Sebelum pulang, ia memutuskan untuk pergi ke restoran kesukaannya.


•••


Saat menunggu pesananya. Ariana menunduk, ia tak sanggup mengangkat kepalanya, karena beberapa pengunjung menatapnya dengan tatapan mencemooh. Sbenarnya, ini bukan pertama kali ia di pandang seperti ini. Tapi, tetap saja ... Ini begitu menyakitkan.


Saat larut dalam lamunannya, terdengar suara kursi bergeser, ada tamu lain yang duduk di belakang meja yang di dudukinya. ia menajamkan pendengarannya saat ia merasa mengenali suara orang yang duduk di belakang bangkunya. Benar, tebakannya, itu adalah keluarga.


"Mommy, aku ingin mengganti laptopku," kata Carla, saat ia mendudukan dirinya.


Briana yang baru saja akan memanggil pelayan, menghentikan niatnya lalu memandang sang putri.


"Bukankah kau baru mengganti laptopmu dua bulan lalu?" tanya Briana.


"Kita bisa membelinya setelah pulang dari sini," timpal Josh, yang menimburung ucapan Briana dan Carla.


Sedangkan selama ini, jika ia mau sesuatu. Ia hanya bisa berbicara lewat Nancy. dan Josh hanya akan memberikan uang pada Nancy, dan Nancylah yang akan mengantarkannya membeli apa yang ia mau. Bahkan kedua orang tuanya tak pernah bertanya, tentang barang apa saja yang di butuhkan olehnya. Hingga ia hanya bisa meminta tolong pada Nancy agar menyampaikan keinginannya.


Kedua orang tuanya memang sering mengajak Ariana untuk berbelanja bersama. Tapi, Ariana selalu menolak. Pernah, satu kali ia mencoba membuka diri dan menyetujui ajakan kedua orang tuanya untuk shoping. Tapi, ia harus merasakan sesak yang luar biasa ketika Briana lebih sibuk mendengarkan permintaan Carla. Sedangkan padanya, Briana hanya bertanya sekali dan jika ia menolak, Briana tak menawarinya lagi.


Saat makanan yang di pesananya datang. Ariana mulai menyuapkan sedikit-sedikit makanan ke mulutnya, rasa laparnya mendadak hilang. Percakapan hangat keluarganya bagaikan latar musik yang sangat menyakitkan untuknya. Terlihat jelas, bahwa mereka adalah keluarga yang penuh cinta. Bahkan, Ariana merasa ... Kepergiaannya sama sekali tak berpengaruh pada orang tuanya.


"Jangan menangis ... Jangan ...." Satu tangan Ariana mengepal di bawah meja, ia hanya mampu bergumam dalam hati.


Setelah acara makannya selesai. Ariana masih terus duduk di tempatnya. Ia tak bisa keluar dari restoran jika keluarganya belum pergi, ia tak ingin keluarganya menyadari kehadirannya.


15 menit belalu, akhirnya kelurganya meninggalkan restoran. Selama 15 menit itu pula, hidup Ariana bagaikan di neraka. Karena terus mendengar orang tuanya menyetujui keingan Carla. Bahkan, yang lebih menyakitkan, mereka berencana liburan ke Korea satu Minggu lagi dan satu Minggu lagi juga adalah hari ulang tahunnya.


Ia memanggil pelayan untuk membayar bill pesanannya. Saat pelayan datang, Ariana langsung merogoh tasnya untuk mengambil dompet. Namun, karena ia merogoh tasnya dengan cepat. Hingga tak sengaja, ia menjatuhkan tasnya kebawah.


"Ma-maaf sebentar," kata Ariana dadanya kembali berdenyut nyeri kala sang pelayan memandangnya dengan tatapan sinis.


Baru saja Ariana akan berjongkok untuk mengambil tasnya..Namun, gerakannya terhenti saat ada yang mendahuinya berjongkok dan mengambilkan tas untuknya.


"Mi-mister Justin ...."


Ini Ariana bentar lagi ko bahagianya. Nanti aku nyambung ke kisah Gabriel.


Kisah Gabriell tetap di mt ya. Sampai tamat


Hate komen blok 😎