Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
320


Dan saat usiaku menginjak, 20 tahun. Untuk pertama kalinya. Ibuku menamparku karena aku tak sengaja mendorong adikku. Ibuku bilang, bahwa mereka lelah dengan sikapku. Lalu aku harus bagaimana?


Ini titik terendahku sebagai seorang manusia. Aku tak ingin terus berpura-pura baik-baik saja. Maka pergi adalah jalan terbaik. Aku terlalu emosi saat itu, hingga aku mengutuk keluargaku. Tapi, setelah emosiku tenang, aku menyesal telah mengatakan itu. Aku manusia biasa, salahkah aku merasa emosi?


Carla, ya. Gadis kecil itu yang tak lain adikku. Sungguh, aku tak membencinya. Aku menjauh darinya karena setiap melihatnya, hatiku selalu berdenyut nyeri. Ada sesak yang tak terlihat setiap melihatnya.


Aku hanya takut tak dapat mengontrol diri dan mengatakan kata-kata atau tindakan yang akan menyakitinya. Hingga aku lebih memilih menjauh..


Dia mendapatkan apa yang tak aku dapatkan saat kecil. Fisiknya sempurna. Tak di pungkiri, setiap ada pesta di mansion kami, Ibu dan Ayahku terlihat sangat bangga memperkenalkannya. Berbeda denganku dulu, yang hanya bisa melihat semua dari jauh, yang lebih parahnya aku di anggap sudah mati.


Dan 3 tahun berlalu aku memutuskan untuk pergi.


Aku selalu berpikir ada saatnya aku akan menghadapi posisi ini. Posisi di mana aku memilih pergi. Sebelum aku pergi, aku sudah membeli unit apartemen dan mendekorasinya semauku, aku menggunakan uang tabungan yang selama ini aku simpan untuk membelinya


Dan pada akhirnya, terbukti .... Aku pergi dari mansion itu. "Aunty, Uncle, aku sudah memaafkan kalian. Hanya saja setiap melihat kalian, dadaku berdenyut nyeri, karena ingatan masa lalu itu kembali menghantamku."


Ariana POV end.


Saat mengingat semua, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya. Selama 3 tahun, setelah dia pergi dari Mansionnya. Ia selalu bermimpi saat Briana menamparnya dan berteriak padanya.


..


Waktu menunjukan pukul 8 pagi. Ariana terbangun setelah alarm berbunyi tubuhnya terasa lemas, karena setelah dia terbangun jam dua malam. Ia baru bisa tidur kembali jam 5 pagi. Seandainya ia tak ada kelas kuliah, rasanya ia ingin sekali tidur sampai sore. .


•••


"Terimakasih!" kata Ariana, ia menghela nafas saat lagi-lagi mendengar nama itu memanggilnya. Justin adalah dosen yang terkenal sangat kiler, dan naasnya, Justin adalah dosen pembimbing Ariana.


"Apa dia menolak lagi skripsiku," lirih Ariana dengan suara pelan. Dengan helaan nafas panjang. Ariana pun berjalan ke arah ruangan Justin.


"Mr Justin" Ariana mengetuk pintu ruangan Justin. Setelah mendapat sautan dari dalam. Ariana memutar gagang pintu, lalu membuka pintu.


Saat pintu terbuka, terlihatlah sosok gagah Justin yang sedang fokus pada laptopnya.


"Mr!" panggil Ariana saat masuk kedalam ruangan Justin. Justin menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada laptopnya.


"Duduk!" Titah Justin, nada bicaranya terdengar tegas dan penuh wibawa.


Ariana pun menurut, ia langsung duduk di sofa yang ada di ruangan Justin. Setelah Ariana duduk, Justin bangkit dan membawa berkas sekripsi Ariana dan menyusul untuk duduk..Hingga kini ia dan Ariana duduk berhadap-hadapan.


"Perbaiki skripsimu, ada beberapa yang kurang tepat!" kata Justin, membuat Ariana menghela nafas. Ini untuk kesekian kalinya dosen pembingbingnya menyuruhnya merevisinya. Padahal, ia yakin Skripsinya sudah sempurna.


"Baik, Mr! saya akan perbaiki." Kata Ariana, ia bangkit dari duduknya. Membuat Justin menatap Ariana dengan tajam.


"Siapa yang menyuruhmu pergi," kata Justin dengan dinginnya, membuat Ariana menghela nafas karena dosen ini begitu aneh. Ia akan menahan Ariana jika Ariana harus memperbaiki skripsinya.


Ariana ...


Scroll lagi ies, aku up 3 bab