Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
214


"Simma, apa ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Audrey.


"Ma-maafkan aku, Audrey," jawab Simma terbara-bata. Matanya mulai memerah dan berkaca-kaca. Ia tak berani mengangkat kepalanya karena ia malu dan takut menghadapi Audrey.


"Apa ini ada kaitannya dengan, Josh?" tanya Audrey, ia hanya mengetes Simma, karena ia pernah mendengar dari Kelly jika wajah Simma berubah sedih saat Simma melihat Josh bersama wanita lain di supermarket, beberapa minggu yang lalu.


Mendengar ucapan Audrey, Simma mengangkat kepalanya dan menatap Audrey, hingga kini, mata mereka saling menatap.


"A-audrey," ucap Simma terbata-bata.


Saat melihat tatapan Simma, Audrey bisa menyimpulkan sendiri apa jawaban dari pertanyaannya. Padahal, ia hanya iseng-iseng bertanya untuk memancing Simma dan ia tak menyangka bahwa tebakannya benar.


Audrey langsung memeluk Simma, membuat tangis Simma pecah seketika. Hati Audrey teriris perih saat mendengar tangis Simma. Ia yakin, ada hal buruk yang terjadi pada Simma, dan ia mengutuk dirinya sendiri karena ia tak tau tentang apa yang terjadi pada Simma.


Audrey melepaskan pelukannya, lalu menangkup kedua pipi Simma dan menghapus air mata Simma.


"A-apakah kau sedang mengandung anak Josh?" tanya Audrey dengan bibir bergetar, sedangkan Simma kembali terisak saat mendengar pertanyaan Audrey.


"Di-dia mencampakanku, Audrey," jawab Simma dengan terbata-bata.


"Simma, tatap aku! katakan apa yang sebenarnya terjadi padamu!" ucap Audrey dengan tak sabar. Darah Audrey mendidih saat mendengar Josh mencampakan Simma dalam kondisi hamil.


Mendengar nada bicara Audrey yang sedikit meninggi, tubuh Simma bergetar membuat Audrey langsung tersadar.


Ia pun kembali memeluk Simma dan mengelus punggung Simma karena tangis Simma kembali pecah.. "Maafkan Aku, Simma. Aku sama tak marah padamu. Aku hanya ingin tau apa yang terjadi padamu. Jika kau belum siap menceritakan semuanya, aku akan menunggumu siap. Tapi, tolong, jangan sembunyikan apa pun dariku," ucap Audrey lagi dengan mata yang berkaca-kaca. Ia ikut hancur saat mendengar tangisan Simma yang terdengar sangat pilu.


Saat Simma menangis, Audrey terus mengelus punggung Simma membiarkan Simma puas menangis, Audrey benar-benar harus extra sabar untuk mendapatkan jawaba dari Simma.


"A-audrey, aku mi-minta maaf," ucap Simma terbata-bata.


"Simma, kau tak perlu minta maaf. Aku sama sekali tak marah padamu. Aku hanya ingin tau apa yang sebenarnya terjadi antara kalian," jawab Audrey.


Karena Simma tak kunjung berbicara, Audrey pun menggengam tangan Simma meyakinkan Simma untuk percaya dan bercerita padanya.


Setelah sedikit tenang, Simma pun mulai menceritakan semuanya, dari mulai ia berpacaran dengan Josh, sampai Josh menghinanya saat ia akan memberitau kehamilannya hingga ia akhirnya tak jadi memberitau Josh jika ia sedang mengandung.


Darah Audrey mendidh saat mendengar semua perlakuan Josh pada Simma. Ia tak menyangka bahwa Josh akan setega itu pada Simma.


Rahang Zidan mengeras saat mendengar semuanya. Ia yang tadinya ingin mengambil minum ke dapur langsung menghentikan langkahnya saat mendengar semuanya. Ia tak menyangka bahwa sang paman tega berbuat kejih dan menghina Simma yang telah menjaga putrinya.


Zidan tak bisa menahan dirinya lagi, ia harus memberitau Josh, Zidan tak ingin sampai Josh tak menyadari kehadiran anaknya sama seperti dirinya.


Zidan berbalik, ia pun keluar dari apartemen tanpa pamit pada Audrey dan juga Simma. Ia harus bertemu Josh secepatnya.


"Josh! aku akan ke penthousemu sekarang," ucap Zidan lewat panggilan, ia menelpon Josh sambil berjalan ke mobilnya. Ia pun mematikan panggilannya sebelum Josh membalas ucapannya.


"Dasar bodoh! kau ingin Kelly mendapat kasih sayang dari keluarga yang utuh. Tapi, kau malah menelantarkan anakmu sendiri" maki Zidan pada pamannya. Ia pun mulai menyalankan mobilnya dan menjalankannya.


Udah 3 ba ye bun bilang up dikit blok


Hate komen blok