
Kau akan terus menangis?” tanya Gabriel ketika Amelia masih memeluknya, Amelia mengangkat kepalanya kemudian melepaskan pelukan dari Gabriel.
“Gabriel Kau jahat sekali,” ucap Amelia, Gabriel menarik pinggang Amelia. Hingga tubuhnya begitu dekat dengan istrinya.
“Aku jahat Kenapa, Baby?” kata Gabriel. Ia mengelus pipi Amelia, lalu menghapus air mata Amelia dengan ibu jarinya.
“Kenapa kau tak bilang, bahwa kau tahu jam itu dariku?” tanya Amelia lagi.
“Memangnya kenapa jika aku tak bilang padamu, jika aku jujur, Aku tidak akan mendengar kata cinta darimu.”
“Kau tahu, itu sangat memalukan!” omel Amelia, membuat Gabriel tertawa.
“Jadi, menyatakan cinta padaku itu memalukan?” tanya Gabriel lagi, Amelia menunduk kemudian mengangguk. Hingga Gabriel memegang dagu Amelia, hingga Amelia melihat ke arahnya dan setelah itu ia mengecup bibir Amelia sekilas.
“Walaupun aku tahu kamu mencintaiku dan walaupun aku selalu bilang aku tak butuh pengakuan cintamu. Tapi mendengar kau mengatakan cinta padaku, rasanya aku ingin terbang ke langit ketujuh,” cap Gabriel dengan penuh ketulusan membuat Amelia berdecih, ia sama sekali tak percaya dengan ucapan Gabrie.
Seperti biasa, Amelia menghancurkan momen romantis yang di bangun oleh Gabriel.
“ Gabriel, kau gombal sekali!” kata Amelia membuat Gabriel menggeleng.
Tiba-tiba Amelia terpikirkan sesuatu. “Gabriel, apa di pesta nanti akan ada Ariana?” tanya Amelia. Ya, jika dipikir. Stelah ia menikah bersama Gabriel, ia belum bertemu lagi dengan Ariana.
Kemarin-kemarin, sebelum ia menikah dengan Gabriel. Amelia tak merasakan apa-apa jika ia bertemu dengan Ariana. Dan masalahnya, berbeda dengan sekarang, yang ia takutkan adalah bagaimana reaksi Gabriel ketika bertemu Ariana.
Ia takut melihat tatapan Gabriel pada Ariana, ia juga takut perasaan Gabriel pada Ariana tumbuh kembali. Walau bagaimanapun, ia pernah menjadi saksi bagaimana besarnya cinta Gabriel pada Ariana di masa lalu.
Mengerti akan ketakutan Amelia, Gabriel mendekap Amelia dan membawa Amelia kedalam pelukannya. “Ariana pasti datang, bersama suaminya,” kata Gabriel, membuat Amelia terdiam.
“Gabriel Aku tak mau kau melihat Ariana, Aku tak mau kau berbicara padanya.” Seandainya ia bisa mengatakan itu pada Gabriel, tentu saja dia akan mengatakan itu. Tapi, sayangnya, ia hanya bisa mengatakan itu dalam hatinya.
Gabriel melepaskan pelukannya, kemudian ia menangkup kedua pipi Amelia. “Aku tidak akan bicara dengannya, mungkin aku hanya akan menyapanya sekilas, setelah itu aku akan selalu disisimu dan mengajakmu menyambut tamu-tamu lain, memperkenalkan kau pada semuanya bahwa kau adalah istriku,” ucap Gabriel, membuat Amelia menutup mulut, karena Gabriel mengerti apa yang dipikirkan oleh Amelia.
“Kau pasti pasti sedang memujiku, kan, karena aku bisa menebak isi pikiranmu?” tanya Gabriel membuat Amelia berdecih.
“Ayo kita turun, semua sudah menunggu!” ajak Gabriel.
“Sebentar, aku harus merapikan riasanku dulu mana mungkin aku keluar dengan mata yang sembab,” kata Amelia, Gabriel mengangguk-anggukan kepalanya.
Gabriel mengambil sepatu milik Amelia yang ada di kotak, setelah itu, Gabriel berjongkok lalu memakaikan sepatu untuk Amelia.
“Gabriel!” pekik Amelia saat Gabriel menyentuh kakinya dan memakaikan sepatu untuknya.
“Its oke, Baby,” kata Gabriel, yang memakaikan sepatu untuk istrinya.
Amelia tersenyum haru, ia tersipu, saat melihat Gabriel memakaikannya sepatu, suaminya benar-benar sudah berubah.
Amelia bangkit dari duduknya, dan Gabriel langsung memberikan tangannya untuk digandeng oleh Amelia, dan kini mereka pun keluar dari kamar hotel, menuju Aula.
Suasana begitu ramai, Amelia terus menggandeng tangan Gabriel, karena walau bagaimanapun pesta ini dan lingkungan ini sangat asing baginya. Hingga Ia hanya bisa menempel pada sang suaminya
Scroll gengs aku update 3 bab.. Tapi sebelum Scroll kalian wajib banget baca ini, karena gratis sampai tamat
Gengs baca sampai abis ya. Aku mau promo novelku di apk sebelah, dengan judul Cassanova men dan gratis sampai tamat.
Nama aplikasinya “Fizzo.” inget ya gengs gratis sampai tamat. Aku nulis di sini cuplikan bab ke 5 jadi kalau kalian mau baca maraton tinggal kesana ya. Kalau ga tau aplikasinya kalian tinggal dm aku di Ig dewikim243
Cari aja judulnya Cassanova men.
Bab 5
“Lu mau sampai kapan hidup kayak gini terus?" tanya Lyodra. Saat ini, ia dan Magika sang adik sudah duduk di sofa, setelah mereka masuk ke dalam rumah, Lyodra langsung menyidang sang adik. Karena dimata Lyodra, Magika sudah sangat keterlaluan.
“Apaan, sih lu bang,” jawab Magika yang berusaha mengelak. Padahal dadanya berdetak lebih kencang, ketika melihat wajah sang kakak yang serius.
“Gue serius bego! lu mau sampai kapan kayak gini terus. Lu enggak pengen nikah, lu enggak pengen punya anak?” ucap Lyodra.
“elu mah ngomongnya gitu amat,” jawab Magika membuat Lyodra mengusap wajah kasar, saat sang adik terus membantah ucapannya.
Ia bangkit dari duduknya, karena ia rasa percuma menasehati Magika. “Besok, lu pulang ke Indonesia. Awas aja lu balik ke sini lagi. Enggak akan gue tampung, enggak akan gua kasih kartu kredit lagi,” setelah mengatakan itu, Lyodra berjalan ke arah Magika, lalu mengadahkan tangannya. “Mana kartu kredit gue?” tanya Lyodra, membuat Magika berdecak kesal.
Dengan terpaksa, Magika merogoh saku dan mengeluarkan dompet, lalu mengeluarkan kartu dan menyimpan kartu itu ke tangan kakaknya.
“Gue pesenin tiket. Awas aja lu enggak balik ke rumah, gue bakal cari kemana pun lu pergi.” Setelah mengatakan itu, Lyodra pun berbalik kemudian, masuk kekamarnya, meninggalkan Magika yang terdiam di sofa.
Setelah kepergian sang kakak, ia membaringkan diri di sofa, kemudian matanya menatap pada langit-langit. Sebenarnya, ia tak tahu kenapa ia begini. Hanya saja, ia selalu merasa puas ketika para wanita menyanjungnya dan para wanita tergila-gila padanya.
Itu sebabnya, ia rela melakukan apapun agar wanita-wanita itu memujanya dan sekarang, kedua orang tuanya malah menjodohkannya dan Magika belum siap kehilangan pamornya di hadapan wanita-wanita yang selama ini menjadi kekasihnya.
“Ah, bodolah! umpat Magika, setelah mengatakan itu, ia bangkit dari duduknya kemudian pergi ke kamar tamu dan berniat untuk beristirahat.
••••
Magika menghela nafas, ketika kini ia baru saja tiba di rumah kedua orang tuanya. Ia baru saja tiba di Indonesia setelah dia hari di Rusia.
Sang Kaka mengusirnya dan tak memberinya uang. Mau tak mau, ia harus pulang kembali ke kediaman orangtuanya, dan mau tak mau juga. Jika ia pulang, itu berarti ia harus melakukan perjodohan yang di atur oleh kedua orang tuanya.
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Magika pun masuk kedalam, saat masuk ... ternyata ayah dan ibunya sedang menonton televisi.
“Kau sudah pulang ternyata,” ucap Lila lagi tanpa menoleh kearah Magika. Magika menggeleng, kemudian Ia lebih memilih masuk ke dalam kamar, karena merasa malu menatap kedua orang tuanya.
••••
Satu minggu kemudian.
Arima keluar dari kelas, ia langsung berjalan ke arah kantin, karena perutnya terasa lapar. Hari ini, ia bahkan tidak sempat untuk istirahat karena tugas dari dosennya begitu menumpuk.
Setelah sampai di kantin, Arima langsung memesan makanan, ia memesan makanan yang cepat agar makanan itu segera tiba, dan setelah makanan itu tiba, Arima langsung menyantapnya.
Saat makanan yang ada di piringnya habis, ponsel Arema berdering. Satu pesan masuk ke dalam ponselnya. Arima mengerutkan keningnya, saat melihat nomor yang tidak dikenalnya. Ia pun membukanya.
["Temui aku di cafe dekat kampusmu!] tulis seseorang dalam pesannya, membuat Ara semakin bingung, karena Arima tidak mengenal nomor itu. Arima menghapus pesan tersebut, kemudian menaruh lagi ponselnya ke dalam tas,.karena ia tak ingin diganggu dan ingin beristirahat setelah makan.
Namun, tak lama, ponsel Arima kembali berdering. Kali ini, satu panggilan masuk ke dalam ponselnya, ternyata Lila yang menelponnya.
“Baik, nyonya. Saya akan pergi ke sana,” Jawab Arema saat Lila memintanya datang ke sebuah kafe. Sekarang, Arima tahu siapa yang mengiriminya pesan barusan.
Dengan cepat, Arima bangkit dari duduknya. Kemudian, Ia berlari dan setelah sampai ke dalam cafe, Arima berusaha mengatur nafasnya. Sebelum masuk ia tak boleh kelihatan gugup. Dan setelah tenang, Arima langsung masuk kedalam.
“Arima ... di sini!” Lila mengangkat tangannya membuat Arima menoleh, kemudian ia berjalan ke arah meja yang di duduki Lila
“Maaf Nyonya, membuat anda menunggu lama,” ucap Arima, tatapannya langsung mengarah ke arah Magika yang duduk di depan Lila.
“Kalian mengobrollah, Bunda akan pergi sebentar,” ucap Lila membuat mata Arima membulat. Ternyata, Lila akan meninggalkannya bersama Magika.
“Kau tidak duduk?” tanya Magika, ketika Arima memperhatikan punggung Lila yang sudah berjalan. Arima pun mengangguk, kemudian mendudukkan diri di tempat yang tadi diduduki oleh Lila.
Magika mengambil buku menu, lalu meletakkannya di hadapan Arima dengan keras membuat Arema terhenyak kaget.
“Ayo cepat pesan agar kita bisa secepatnya bicara!” titah Magika, pada Arima dengan dinginnya. Bahkan, ia menatap Arima dengan malas
Arima yang tadinya akan bersikap hormat pada Magika, mengurungkan niatnya, karena melihat sikap Magika.
Ia menyimpan tab di kursi sebelahnya, kemudian ia mengikuti gaya duduk Magika yang sedang menyender, lalu ia pun menatap Magika dengan tatapan tak senang, membuat Magika mengerutkan keningnya. Ternyata wanita didepannya ini sama sekali tidak merasa canggung di dekatnya.
“Untuk apa kau mengajakku bertemu?” tanya Arima, kali ini ia berbicara dengan dingin dan datar Seandainya jika sikap Magica baik, Arima pun pasti akan bersikap baik juga dan akan lebih menghormati Magika.
Tapi karena sikap Magika yang buruk. Tentu s, Arima tidak akan diam saja.
“Berani sekali kau bertanya begitu padaku!" ucap Magika. Ia menatap Arima dengan tak percaya, untuk pertama kalinya, ada wanita berani menantangnya. Sedangkan semua kekasih kekasihnya di luar sana, memujanya.
“Kenapa aku harus takut padamu, memang apa bedanya aku denganmu? kita sama-sama manusia. Kita juga sama-sama makan nasi. Lalu kenapa aku harus tunduk padamu?” tanya Arima membuat Magika menggeleng. Magika menegakkan tubuhnya, lalu menatap Arima dengan tajam.
“Sepertinya, bundaku salah memilih istri untukku. Mana mungkin, dia menjadikan kau sebagai menantunya,” ucap Magika dengan sinisnya sedangkan Arima mengangguk-anggukan kepalanya, lalu melemparkam senyum mengejek pada Magika.
“Kau tahu, satu-satunya perbedaan aku denganmu? aku mempunyai atitude, dan kau tidak. Jika kau ingin lebih dihormati, disegani maka bersikaplah demikian. Apa yang kau berikan padaku, itu juga yang akan aku berikan padamu. Simpel bukan ... Satu lagi, aku juga tidak mau menikah denganmu. Aku dipaksa menikah dengan lelaki sepertimu, apa kau pikir hanya karena kau kaya, aku mau menikah denganmu!”
Ucapan Arima mampu membuat nafas Magika memburu, wanita di depannya ini, mengusik egonya.
“Kau!” Magika menunjuk wajah Arima. Namun, secepat kilat, Arima menekuk jari Magika yang berada di depannya, hingga Magika meringis.