
Aku hanya bisa tersenyum getir ketika mendengar percakapan Kak Zayn dan kak Zidan. Kak Zayn mengatakan bahwa menyesal telah menyetujui aku untuk bergabung ke perusahaan. Ka Zayn takut, aku berbuat curang seperti aku yang memfitnah Ariana. Ka Zidan menimpali, Ka Zidan berkata, bahwa mungkin aku akan melakukan hal buruk lagi.
Sangking takutnya aku bergabung ke prusahaan, kak Zayn bahkan berencana untuk membuatkanku perusahaan lain agar aku tak bergabung dengan perusahaanya.
“Aku pikir aku telah sukses mendidiknya. Tapi dia mengecewakan kita semua. Gara-gara dia, Ariana pergi dari rumah Josh.” itulah kata-kata kak Zayn yang membuatku tertegun.
Dan sejak saat itu, aku memutuskan untuk keluar dari mansion. Aku sudah mencoreng nama keluarga yang selama ini baik kepadaku.
Aku juga sadar, seberapa keras pun aku mencoba untuk membuktikan aku menyesal, keluarga angkatku tak akan percaya, karena aku telah merusak kepercayaan mereka.
Walaupun ucapan kak Zayn dan kak Zidan memang pedas, tapi aku sama sekali tak membenci mereka. Karena ini semua adalah kesalahanku.
Saat aku akan keluar dari mansion, kak Zayn menentang keputusanku. Tapi aku berhasil meyakinkannya. Aku tak sanggup jika terus berada di mansion, karena setelah kejadian itu, mereka menatapku tak lagi sama. Mereka selalu menatapku dengan waspada seoalah takut aku akan melakukan kesalahan lagi.
Dan sejak keluar dari mansion, aku sudah memikirkan banyak hal. Aku di bawa oleh mommy dan Daddy, dan kini, mommy dan Daddy telah tiada. Dan setelah aku melakukan kesalahan, tak ada lagi alasan untuk aku terus menjadi keluarga Smith.
Aku terlalu malu untuk menerima pemberian dari keluarga Smith, saat kak Zayn dan kak Zidan mengirim uang padaku, diam-diam aku selalu mengirimkannya pada rekening Kelly.
Dan aku juga memutuskan untuk berhenti menjadi dosen
Mungkin, orang lain akan menganggap aku bodoh karena berhenti menjadi dosen, yang jelas-jelas bergaji besar dan bergengsi. Tapi bagiku, ini menjadi sebuah beban karena aku menjadi dosen karena koneksi kak Zayn.
Aku lebih memilih untuk menjadi pelayan restoran, aku mungkin bisa saja bekerja di tempat yang sedikit bergengsi. Tapi entah kenapa, aku rasa memulai dari bawah bisa membuatku nyaman. Aku merasa menjadi seorang Arleta yang menjadi yatim piatu bukan Arleta Smith yang selalu mengandalkan nama besar Smith di belakang namaku.
Dan hal yang paling berat untukku adalah melepaskan nama Smith di belakang namaku. Mungkindari awal aku hanya manusia yang sebatang kara maka sudah saatnya aku kembali pada takdirku, yang hanya sebatang kara.
Tanpa sepengetahuan siapa pun, aku menghapus nama Smith di belakang namaku. Ada rasa lega saat aku tak menyandang nama Smith lagi, aku merasa terlahir kembali. Aku tak perlu ketakutan lagi aku akan membuat keluarga angkatku malu, aku tak perlu merasa takut lagi di buang, karena aku sudah membuang diriku sendiri.
Untuk Ariana, awalnya aku sangat malu untuk menemuinya dan meminta maaf. Tapi, rasa bersalahku semakin menjadi-jadi. pada akhirnya, aku datang kepadanya dan berlutut di hadapannya, dia begitu baik, dia menerima maafku.
Tapi, setelah aku menyesal, meminta ampun pada Ariana dan keluar dari keluarga Smith, tuhan menyiapkan karma yang lain untukku.
Aku di vonis menderita tumor payudara dan harus segera di operasi. Hancur? jangan di tanya. Vonis dokter membuat duniaku menggelap.
Mungkin, orang lain akan menyebutku bodoh karena tak jujur pada keluarga angkatku. Tapi, percayalah, itu tak semudah yang di bayangkan. Sejak aku menghapus nama Smith di belakang namaku, sejak saat itu pula aku berpikir, apa pun yang terjadi denganku adalah urusanku sendiri.
Karena biyaya operasi cukup mahal. Aku harus memutar otak untuk mencari uang tambahan dan pada akhrinya aku memilih bekerja di Club. Tapi, ternyata kak Zayn mengetahui pekerjaan baruku dan menyeretku pulang.
Dan ternyata, yang kesekian kalinya aku membuat keluarga angkat ku malu. kak Zayn terlihat sangat marah dan murka kepadaku. Dia bahkan berteriak memanggilku ******. Sakit ini, begitu menyakitkan dan begitu pedih. Tapi aku tak bisa membencinya.
Hidupku sudah terlalu hancur karena kesalahanku sendiri. Tak ada yang perlu di sesali, ini sudah takdirku. Mungkin, jika Tuhan menginjikan, aku akan berusaha mengobati penyakitku. Tapi, jika tidak ... Maka biarlah waktu yang menjawab.
Arleta Pov end.
Setelah puas menangis, ahirnya Arleta membaringkan dirinya di ranjang. Ranjang yang sudah sangat lama sekali tak dia tiduri.
Tiba-tiba, semua tubuhnya terasa nyeri, ia menarik selimut karena badannya mengigil. Dan tanpa sadar, matanya terpejam. Entah ia tertidur atau tak sadarkam diri.
ketemu Ariana besok ya.
Gengs wajib di baca ga boleh di skip. Ini promo novelnya Gabriel. Baru ad 6 bab sih, tapi bolehlah ya kalian baca dulu terus tekan faforit. biar ada pemberitahuannya pas udah update. Aku tulis di sini sampai 5 bab dulu ya, bab 6 nya kalian bisa langsung baca di judul Arrogan men. Kisah Arleta hanya kisah penutup keluarga Smith jadi ga akan panjang2. Kalian pasti penasarankan apa yang di lakuin Amelia supaya Gabriel ga batalin pernikahan Justin sama Ariana.
Ga boleh nabung bab ya. karena setelah kisah ini tamat, aku akan update 3 bab sehari di kisah Gabriell cus buruan kepoin.
Judul Arrogant men (sampai tamat di noveltoon)
Kalian tinggal cari aja Arogant men atau enggak cari aja namaku Dewi Kim di percarian nanti muncul
Bab 1
"Gabriel ... Gabriel!" suara Gabby begitu memekik di telinga Gabriel. Sang adik sudah berteriak sedari tadi. Namun, Gabriel lebih memilih untuk tak mendengarkan teriakan sang adik dan tetap diam di ruangannya.
Tak lama, pintu ruangannya terbuka. sosok Gabby masuk berhasil masuk. Wanita itu berhasil melawan sekretaris Kakanya.
Gabriel mengusap wajah kasar. Ia sungguh malas mendengar suara adik kembarnya.
"Apa kau akan terus seperti ini, Hah!" Teriak Gabby, ia berkacak pinggang dan menatap Gabriel dengan tatapan di penuhi amarah.
"Gabby, pulanglah! Aku sungguh tak ada tenaga berdebat denganmu!" keluh Gabriel. Membuat Gabby meradang.
"Apa kau pikir hanya kau saja yang terluka?" Hardik Gabby, rasanya ia sudah kehilangan kesabaran karena tingkah Kakanya. Selama 3 tahun, ini ... Gabriel berubah. Semenjak kejadian itu, Gabriel menjelma menjadi orang yang berubah. Tak ada lagi Gabriel yang manis. Yang ada hanya Gabriel yang arogan.
"Gabby!" bentak Gabriel ia bangkit dari duduknya dan membalas tatapan tajam sang adik.
"Pergi kubilang!" teriak Gabriel, tentu saja Gabby tak tinggal diam. Ia membanting semua yang ada di meja Gabriel.
"Apa kau pikir kau saja yang terluka, Gabriel?" Setelah mengamuk, nada suara Gabby mulai melemah. Ia menatap sang kaka dengan tatapan terluka. 3 tahun ini, benar-benar sulit bagi kedua Kaka beradik itu. Semua kebahagiaan yang mereka dapatkan sedari kecil harus ternoda dengan rahasia kedua orang tua mereka.
"Gabby!" emosi Gabriel seketika sirna saat melihat wajah sang adik yang sudah berderai. Ia memalingkan wajahnya, lelaki tampan itu juga tak sanggup menahan tangisnya.
"Kumohon Gabriel, jangan seperti ini. Amelia tak bersalah. dan kembalilah menjadi Gabriel yang dulu," lirih Gabby, membuat emosi Gabriel kembali bangkit kala sang adik menyebutkan nama Amelia.
"Pergi!" Hardik Gabriel lagi.
"Pulanglah Gabriel! jangan begini!" lirih Gabby, berharap Gabriel luluh. Namun, bukannya luluh. Gabriel malah menarik tangan Gabby dan menyeretnya keluar dari ruangannya.
"Jangan pernah datang lagi ke kantorku!" setelah mengatakan itu, Gabriel menutup pintu ruangannya dengan keras.
"Kenapa kau harus berubah sejauh ini Gabriel!" lirih Gabby, ia hancur dan ia tau saudaranya lebih hancur karena Gabriel mencintai Ariana yang tak adalah wanita yang ternyata adalah adik mereka.
Gabby, Gabriel dan Ariana adalah kakak beradik. Mereka satu ayah. Namun, berbeda ibu. Ariana lahir beberapa bulan setelah Gabby dan Gabriel lahir. Sayangnya, Gabby dan Gabriel baru tau jika Ariana adalah adik mereka ketika mereka dewasa dan yang lebih parah, Gabriel mencintai Ariana yang tak lain adalah adiknya.
Saat itu, Simma yang tak lain adalah ibu dari Gabriel dan Gabby hamil di luar nikah, dan Josh, yang tak lain adalah ayah mereka tak mau bertanggung jawab dan lebih memilih wanita lain dan wanita itu melahirkan Ariana. Beruntung, Simma mendapat pria yang sempurna, yang menyayangi Gabby dan Gabriel serta menganggap Gabby dan Gabriel sebagai anak kandungnya.
Dan sekarang, ketika semua terbongkar. Hati Gabby dan Gabriel patah berkeping-keping. Ayah yang selama ini mereka sayangi dan sangat berarti bagi mereka ternyata bukan ayah kandung mereka.
Ayah kandung mereka ternyata telah menelantarkan mereka saat mereka masih berada di dalam kandungan.
Haii GENGS, ketemu lagi sama kisah Gabriel.
Mungkin pembaca baru yang ga baca cerita Gabby dan Gabriel dari season Cinta sang pria arogan akan bingung dengan cerita ini. Tapi, aku coba kasih gambaran singkat ya
Jadi, Simma tuh hamil di luar nikah, nah si Lelaki yang ngehamilin Simma ini ga mau tanggung jawab, Nah simma itu ketemu Stuard lelaki yang super baik yang nerima Simma dan kedua anak kembarnya yang tak lain adalah Gabby dan Gabriel
Nah, si lelaki yang ngehamilin Simma ini nikah sama wanita lain dan lahirlah Ariana.
Dan semua kebongkar saat Gabby, Gabriel dan ariana udah dewasa dan sebelum kebongkar ternyata Gabriel udah cinta sama Ariana..
Jadi intinya, tanpa sadar Gabriel cinta sama Ariana, tapi sayang mereka ga bisa bersatu karena mereka kakak adik, sampai akhirnya Gabrel nekad ....
Bab 2
Setela kepergian sang adik, Gabriel mendudukkan dirinya di sofa. Gabriel mengadahkan kepalanya ke atas kemudian memegang dadanya.
3 tahun berlalu bukan waktu yang mudah untuk Gabriel. Ariana adalah cinta pertamanya, selain cintanya tak terbalas, ia juga mendapatkan kenyataan yang cukup memilukan. Ternyata, Ariana ... Wanita yang di cintainya adalah adik kandungnya sendiri.
“Ashhhh!” teriak Gabriel, saat rasa sesak yang di rasakan semakin menjadi-jadi. Selama 3 tahun ini, otaknya hanya di penuhi dengan nama Ariana ... Ariana.
“Ameliaa ....” Rahang Gabriel mengeras saat mengingat nama Amelia. Karena Amelialah, rencana yang di susun rapih oleh Gabriel gagal hingga Ariana jatuh kepelukan lelaki lain.
•••
“Bagaimana Gabby, apa kau berhasil membujuk Gabriel pulang?” Tanya Simma saat Gabby masuk kedalam mansion.
Gabby menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku di usir lagi olehnya,” Gabby menjawab lesu. Ia tersenyum, tapi hatinya teriris perih. Keluarganya sudah tak sehangat dulu lagi karena tak ada Gabriel dan itu membuat semua bersedih.
Simma maju ke arah Gabby, ia memeluk putrinya. Sepasang ibu dan anak itu menangis, Gabriel benar-benar telah menutup hatinya.
Stuard yang datang dari dalam langsung menghampiri istri dan anaknya. Ia memeluk Simma dan Gabby secara bersamaan.
“Gabriel pasti akan kembali pada kita,” ucap Stuard menenangkan anak dan istrinya. Walaupun dia sendiri tak yakin dengan ucapannya. Ia pun sudah sering datang menemui putranya. Namun, Gabriel juga menolak untuk bertemu dengannya.
“Dad, apa kau belum menemukan dimana Gabriel menyembunyikan Amelia?” Tanya Simma. Sejak kejadian itu, Amelia menghilang. Tepatnya bukan menghilang melainkan di sembunyikan orang Gabriel.
Stuard menggeleng. “Anak buahku tak berhasil menemukannya. Orang-orangku pun sudah mencari ke seluruh penjuru Rusia. Tapi, Amelia tak ada. Aku berusaha menghack cctv apartemen Gabriel. Tapi, tak bisa. Gabriel sudah memasang keamanan yang canggih.”
Ada raut wajah sedih di wajah Stuard, ia tak menyangka sang putra akan berubah sederastis ini. Gabriel yang awalnya sangat manis berubah menjadi Gabriel yang bahkan tak pernah terduga dari sebelumnya.
••••
“Sedang apa dia?” Tanya Gabriel pada orang yang di telponnya. “Katakan padanya, dia harus bersiap-siap padanya. Karena aku akan datang malam ini.” Setelah mengatakan itu, Gabriel mematikan panggilannya.
“Rasanya aku sudah lama tak bermain-main denganmu.” Gabriel menyeringai. Hari ini ia akan menyalurkan kekesalannya lagi.
•••
“A-apakah Ga-Gabriel akan kemari lagi?” Tanya Amelia. Tubuhnya bergidik. Ia bahkan tak mampu untuk mendengarkan jawaban dari kepala pelayan yang tadi memberitahukan bahwa akan Gabriel datang.
“Tuan Gabriel meminta anda untuk bersiap-siap seperti biasa.”
“A-aku me-mengerti,” jawab Amelia dengan gugup. Setelah kepala pelayan pergi dari kamarnya. Tubuh Ariana luruh kebawah, ia mendudukan dirinya lantai, ia harus menghadapi Gabriel lagi.
“Tuhan, tolong aku,” kata Amelia. Jantungnya ketar-ketir. Ia meringis. Membayangkan jika ia menatap Gabriel lagi.
Dengan tubuh yang lesu, Amelia bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar mandi untuk bersiap-siap.
Saat berada di kamar mandi, Amelia langsung berendam di bathube, Sekuat apa pun ia menahan tangisnya. Akhirnya, tangisnya keluar. Ia hanya menyelamatkan Ariana. Tapi, malah yang terjerumus dan mendapat kebencian dari Gabriel.
Ini sungguh tak adil, ia tak bersalah. Tapi, ia harus menanggung kepahitan, kegetiran selama 3 tahun ini.
Sungguh ini sangat menyakitkan.
Bab 3
Setelah selesai berendam, Amelia bangkit dari bathube, Ia memakai handuk lalu berjalan ke arah luar untuk memakai pakaian dan berhias hal yang selalu ia lakukan ketika Gabriel datang.
Namun, bukannya pergi ke walk-in closet. Amelia malah mendudukan dirinya di ranjang. Ia menatap kosong ke depan, lalu melihat ke arah tangannya di mana bekas cambukan masih ada dan membekas.
Dan malam ini, ia akan mendapat luka baru Gabriel pasti akan melakukannya lagi. Amelia ingin kabur dari tempat terkutuk ini tapi ia tak bisa. Bahkan ia tak tahu ia berada di mana karena ia benar-benar hanya berdiam diri didalam rumah.
Setelah selesai dengan lamunannya. Amelia dengan langkah lesu berjalan ke arah walk-in closet. Ia menarik gaun dari lemari dan memakainya. Setelah selesai memakai gaun. Amelia mendudukkan dirinya di meja rias.
Ia bercermin, menatap pantulan wajahnya di cermin. Matanya mulai berkaca-kaca. Rasanya, ia sungguh ingin membunuh Gabriel orang yang telah menghancurkan mentalnya selama 3 tahun ini.
Bulir bening langsung keluar dari pelupuk mata Amelia. Ia menunduk, kemudian terisak. Perlahan isakan itu berubah menjadi tangisan kencang kalau ia mengingat semuanya.
Ponsel di sampingnya berdering. Amelia menegakkan kepalanya. Kemudian menghapus air matanya dan mengambil ponsel tersebut. Ia menyalakan ponselnya, satu notifikasi masuk ke ponselnya. Ternyata pesan itu dari Gabriel
[ “Persiapkan dirimu malam ini!”] tulis Gabriel dalam pesanannya.
Tangis Amelia kembali luruh, setiap ia mendapat pesan dari Gabriel. Ia serasa mendapat pesan dari malaikat kematian.
Amelia pun dengan segera menyapukan makeup tipis ke wajahnya. Setelah selesai Amelia bangkit dari duduknya. Saat bangkit, tali gaun yang di pakai Amelia jatuh ke bawah hingga menampilkan bahu Amelia.
“Tuhan jika kau tak bisa mencabut nyawanya maka cabut saja nyawaku.” Amelia bergumam pelan sembari menatap pantulan dirinya di kaca. Suara derap langkah menyadarkan Amelia dari lamunannya. Ia tau, itu adalah pelayan yang datang untuk menyusulnya.
“Nona Apa Anda sudah siap?” Tanya Sara, sang kepala pelayan.
“Sara apa aku bisa meminta pisau untuk menyayat nadiku?” tanya Amelia, membuar tubuh Sara menegang.
“No-nonna ....” jawab Sara terbata-bata. Bisa habis dia jika Amelia sampai nekad.
“Aku hanya bercanda.” Amelia bangkit dari duduknya dan pergi mendahului Sara, ia berjalan ke luar kamar dan berjalan ke tempat yang menurutnya adalah tempat neraka.
•••
setelah mengirim pesan pada Amelia, Gabriel menaruh ponselnya. Ia menyandarkan kepalanya ke belakang kemudian tersenyum misterius.
Ah! Rasanya, ia sungguh tak sabar untuk bermain-main dengan Amelia dan tubuh Amelia. Ia juga tak sabar, melihat Amelia, menangis, merintih dan memohon ampun.
Gabriel kembali meraih ponselnya lalu menyalakannya dan membuka galeri. Ia membuka galeri untuk melihat foto keluarganya.
Ia tersenyum, kemudian membelai layar ponselnya. Lalu tak lama ... Matanya tampak berkaca-kaca saat mengingat masa lalu. dimana ia belum mengetahui kenyataan yang teramat pahit bahwa ia bukan anak kandung dari sang ayah.
Gabriel kembali menutup ponselnya ia tak ingin hatinya semakin sakit dengan kenyataan yang sesungguhnya ia pun bangkit dari duduknya menyambar kunci mobil dan keluar dari ruangan
••••
Saat ia keluar langkahnya terhenti saat melihat Gisel adik bungsunya berdiri di depan ruangannya.
“Kaka!” lirih Giseel ia menatap Gabriel dengan tatapan rindu. Sang kakak sudah berubah jauh padanya. Bahkan ketika mereka di tempat umum. Gabriel tak pernah menyapanya padahal dulu Ia dan Gabriel teramat dekat.
Gabriel menghela nafas, ia memandang Gisel dengan tatapan datar. dalam lubuk hatinya ia merindukan adik bungsunya. Tapi hatinya selalu sakit, ketika ia mengingat bahwa Gissel bukan adik kandungnya.
“Bukankah aku sudah melarangmu untuk datang ke kantorku!” Gabriel berbicara dengan dinginnya membuat mata Gisel berkaca-kaca.
walaupun hatinya berdenyut nyeri Gissel berusaha tersenyum. perlahan ia maju ke arah Gabriel selalu memberikan paper bag ke tangan kakaknya.
“Kaka bilang bahwa masakanku lebih enak dari koki di mansion. Jadi, aku membawakan makanan untuk Kaka. Jika Kaka tak mau memakannya. Kaka bisa membuangnya setelah aku pergi,” kata Giselle. Matanya tak bisa berbohong bahwa ia terluka dengan ucapan Gabriel tapi di sisi lain Ia juga memaklumi kakaknya.
“Kalau begitu aku pulang!” pamit Gisel ia tersenyum kemudian berbalik dan meninggalkan Gabriel.
Setelah kepergian Gisel, Gabriel hanya mampu memandang punggung adiknya. Ia ingin seperti dulu memeluk Gaby dan Gabriel secara bersamaan tapi ia tak bisa karena rasanya sudah tak lagi sama.
Setelah Gisel menghilang dari pandangannya. Gabriel menghapus sudut matanya karena mengeluarkan air mata. Ia berusaha menguasai diri dan mulai berjalan untuk keluar dari gedung kantornya.
Bab 4
Nafas Gisel tercekat. ia berjalan dengan menunduk. Matanya mulai memanas. Ia ingin sekali menangis sekencang-kencangnya.
Setelah keluar dari gedung kantor kakaknya. Gissel, pergi ke sisi gedung. Rasanya, ia tak bisa menahan tangisnya. Gisele menangis tergugu. nyatanya sikap Gabriel begitu menyakitkan.
setelah puas menangis, Gisel berjalan ke arah mobil dan langsung masuk ke mobilnya. Saat ia menyalakan mobilnya. Ia mematikan kembali mesin mobilnya. Tiba-tiba, ia terpikirkan sesuatu.
Ya, ia terpikir untuk mengikuti Gabriel. Gabriel belum tahu bahwa ia bisa mengendarai mobil. Dan ia yakin, kali ini ... Ia akan berhasil mengikuti sang kakak dan bisa mengetahui di mana keberadaan Amelia.
Saat melihat Gabriel, Gisel langsung menunduk. ia bersembunyi di bawah karena takut Gabriel akan melihatnya. Apalagi ia memarkirkan mobilnya di depan mobil Gabriel.
Setelah cukup lama bersembunyi. Gisell mengangkat kepalanya. “ Aaaa!” teriak Gisell karena terkejut saat sang kakak berdiri di depan mobilnya.
Ternyata, Gabriel menyadari apa yang akan dilakukan oleh Gisell. Mata Gisell dan mata Gabriel saling mengunci. Gabriel berjalan ke arah jendela lalu mengetuk jendela hingga Gisel membuka jendelanya.
“Sudah aku peringatkan, bukan, jangan mencampuri urusanku. Pulang! dan jangan pernah mengusik apa yang aku lakukan,” ucap Gabriel dengan dinginnya membuat hati Giselle berdenyut nyeri. Setelah mengatakan itu Gabriel kembali masuk ke mobilnya dan langsung menancap gasnya.
Saat mobil Gabriel pergi, Gisel kembali menangis. Sikap Kakanya benar-benar mematahkan hatinya. Ia merogoh tas untuk mengambil ponselnya. Kemudian, ia mengirim pesan kepada Gaby.
[“kakak dia memarahiku lagi.”] tulis Gisell dalam pesannya.
[“Sudah abaikan saja dia! Ayo cepat pulang! lebih baik kita berkuda”] Jawab Gabby. Ilangsung menjawab pesan adiknya. Karena kebetulan. Ia sedang memainkan ponselnya.
Setelah mendapat jawaban dari Gabby. Gissele tersenyum. Hatinya sedikit terobati, karena sikapnya Gabby. Beruntung, Gaby tak seperti Gabriel. Hingga Gissel masih mempunyai tempat untuk berbagi.
••••
Setelah membalas pesan dari Gisel, Gabby mengambil bingkai foto yang berisi fotonya sedang bersama Gabriel dan Gissel. Ia mengelus foto Gabriel. Namunz tak lama ia menyentil-nyentil foto kembarannya.
Mata Gabby mulai berkaca-kaca, ia sungguh ingin menghajar Gabriel yang berubah hanya karena cinta.
“Awas saja jika kau pulang, aku akan menghajarmu,” ucap Gaby sambil menyentil nyentil foto Gabriel. Hingga, kukunya hampir patah. Setelah puas mengutuk saudara kembarnya. Gabby pun keluar dari kamarnya dan menunggu sang adik di luar.
Saat Gaberiel mengendalikan mobilnya. Matanya terus menatap ke paperbag yang tadi diberikan oleh Gissel. Ia tak ingin melihat paperbag itu, apalagi melihat isinya. Tapi, matanya seolah terhipnotis untuk terus melihat paperbag itu dan menyuruhnya membukanya.
Ia kalah, hatinya menang. Akhirnya, ia meminggirkan mobilnya dan menghentikannya. Kemudian, ia mengambil paperbag lalu membukanya dan mengambil benda yang merupakan kotak bekal.
Dengan mata yang berkaca-kaca, Gabriel membuka kotak bekal itu dan membukanya. Tanpa sadar, ia tersenyum. Sudah tiga tahun lamanya ia tak merasakan Masakan Gissel.
Ia mengambil satu sendok, kemudian. Ia menyuapkannya ke mulutnya. Ia mengunyah makanan buatan Gissel dengan penuh perasaan. Sungguh ia rindu sekali masakan ini.
Namun, tak lama ia menutup lagi kotak bekalntersebut. Karena rasanya begitu menyesakkan
Ia kembali menaruh paper bag di sisinya, lalu mlai menjalankan mobilnya kembali.
Jalanan Rusia cukup padat membuat Gabriel menggeram frustasi apalagi, dia harus segera ke landasan pacu untuk pergi ke pulau pribadi miliknya.
15 menit berlalu, Gabriel sampai di landasan pacu. Ia berjalan dengan cepat kearah pesawat pribadinya.
“ Tuan apa anda butuh sesuatu?” tanya pramugari saat Gabriel sudah mendudukkan di kursinya.
Gabriel tampak tak menjawab, matanya fokus lurus ke luar membuat pramugari itu menggaruk tengkuknya karena Gabriel tak menggubris ucapannya..
Ia menatap Gabriel lekat-lekat, selama mendampingi Gabriel terbang. Gabriel tak pernah berbicara, Gabriel hanya berbicara seperlunya saja. Padahal, ia sudah berusaha tampil secantik mungkin untuk menggoda Gabriel. Tapi, usahnya sia-sia.
“Bawakan aku wine,” kata Gabriel. Pramugari itu mengangguk, kemudian tak lama pramugari itu datang lagi membawa segelas wine lalu memberikannya ke hadapan Gabriel.
Setelah wine datang, tatapan mata Gabriel terus menatap keluar. Lalu, ia tersadar saat pramugari itu masih terus berdiri di hadapannya. “Kenapa kau masih disini?” tanya Gabriel pramugari itu mendadak salah tingkah kemudian secepat kilat ia pergi ke belakang.
Gabriel mengambil yang berisi wine, ia menenggaknya sedikit demi sedikit. Ia begitu menikmati aroma pekat dari wine, aroma yang yang paling ia sukai.
Ia melihat ke arah jam di tangannya, di mana jam menunjukkan pukul 9 malam. Kemungkinan, sebentar lagi ia akan sampai di pulau pribadinya. Tempat di mana ia menyembunyikan Amelia.
•••
Pesawat pribadi milik Gabriel, Akhirnya sampai di landasan pacu. Landasan itu tak jauh dari villa milik Gabriel. Gabriel turun, lalu ia disambut oleh beberapa orang-orang bertubuh kekar dan memakai setelan jas, layaknya seorang bodyguard.
. “Apa kalian sudah memastikan tak ada yang masuk ke pulau ini?” tanya Gabriel kepada para pengawalnya yang sedang berdiri di dekat mobil.
Pengawal itu pun mengangguk. “Semua aman Tuan, saya sudah memeriksanya berulang-ulang,” jawab pengawal tersebut.
“Kau yakin?” ulang Gabriel. Pengawal itu pun mengangguk.
“Awasi terus, jangan sampai lengah!”
Setelah mengatakan itu, Gabriel pun masuk kedalam mobil.
10 menit berlalu, mobil yang di tumpangi Gabrel sampai di sebuah vila yang cukup megah dengan gerbang yang penuh dengan penjaga.
supir membunyikan klakson, gerbang mulai terbuka. Mobil yang di tumpangi Gabriel melaju masuk ke dalam villa.
Vila itu begitu besar, pilar-pilar berdiri dengan megah, pohon-pohon ukuran sedang mengeliling Vila tersebut, menambah kesan mewah yang berpadu dengan alam.
Pintu, terbuka. Pelayan membukanan pintu untuk Gabriel. Semua menunduk hormat pada Gabriel, tuan mereka.
“Dimana dia?” tanya Gabriel.
“Nona Amelia sudah pergi ke ruangan biasa, Tuan,” kata salah satu pelayan tersebut. Gabriel menyeringai.
“Siapkan apa yang biasa aku pakai!” kata Gabriel. Setelah mengatakan itu, Gabriel pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya untuk menyegarkan diri sebelum bertemu Amelia.
saat keluar dari kamar, Amelia berjalan dengan langkah pelan kearah kamar yang biasa ia datangi saat bersama Gabriel.
Langkahya terasa ringan. Ini berbeda, jika kemarin-kemarin ia selalu merasakan ketakutan saat masuk ruangan itu. Sekarang tidak lagi.
Rasanya, kali ini ... langkahnya terasa ringan. Entahlah mungkin dia sudah pasrah dengan kehidupannya sekarang atau mungkin karena alasana lain.
Saat berjalan, Amelia sembari berjalan tangannya mengusap tembok. 3 tahun berlalu bukan waktu yang mudah bagi Amelia.
Jangan ditanya betapa tersiksanya dia, yang pasti dia sudah benar-benar tersiksa. Gabriel memegang kartunya. Ia tak bisa berkutik, Gabriel menggunakan sang ibu sebagai ancaman, agar Amelia tak melawan padanya, apalagi membantah perintahnya.
Yaa, sang ibu sedang sakit keras dan membutuhkan pengobatan serta bayaran yang tak sedikit. Dan Gabriel lah yang menanggungnya dan menjamin ibunya akan baik-baik saja. Hngga mau tak mau, Ia hanya bisa menurut pasrah pada Gabriel
Setelah berjalan beberapa langkah, akhirnya Amelia sampai disebuah di sebuah pintu ruangan. ia memegang knop pintu kemudian mendorongnya, lalu masuk ke dalam ruangan .
Ruangan itu berwarna gelap tak ada dekorasi sama sekali hanya ada ranjang dan sofa serta beberapa alat yang biasa Gabriel pakai untuk bermain dengan Amelia.
Amelia mendudukan diri di sofa, ketegangan mulai terasa. Walaupun sedari tadi, ia sudah berusaha mengendalikan diri. Tapi, tetap saja ... rasa takut bercampur panik tak bisa ia hilangkan begitu saja.
••••
Setelah berbicara dengan pelayan di bawah. Gabriel mulai melangkahkan kakinya. Ia berjalan dan naik ke atas untuk pergi ke kamar yang selalu Ia tempati.
lalu memegang kenop pintu dan mendorongnya. Ia masuk kedalam kamar melonggarkan dasinya. Lalu berjalan ke kamar mandi. Ia berencana menyegarkan diri sebelum menemui Amelia.
Setelah selesai dengan acara di kamar mandi. Gabriel langsung berjalan ke walk in closet. Wajah dan tubuh Gabriel terlihat segar. Air dari tubuh dan rambutnya masih menetes. Menambah kesan maskulin di diri Gabriel. Tubuhnya begitu menggoda, membuat siapa saja pasti terpesona.
Gabriel membuka lemari, Ia mengambil celana pendek lalu memakainya. lelaki tampan itu kemudian bercermin, ia merapikan rambut dan memakai beberapa krim di wajahnya. Setelah itu, ia keluar dari walk in closet dan pergi keluar dari kamarnya.
Saat berjalan, seringai Gabriel semakin terlihat. Rasanya, ia sungguh tak sabar untuk melihat Amelia memohon meminta dan merintih.
Saat sampai di depan pintu, Gabriel mendorong pintu tersebut. Kemudian masuk. Membuat Amelia yang sedang duduk langsung berdiri.
Mata Gabriel dan mata Amelia saling mengunci. Amelia meremas kedua tangannya, melihat Gabriel menyeringai bagai melihat malaikat pencabut nyawa yang mengintai nyawanya.
“Ga-gabriel!” lirih Amelia saat Gabriel mendekat. nafas Amelia tercekat, tubuhnya bergidik. Ia mundur saat Gabriel maju ke arahnya dengan membawa sesuatu di tangannya.
“Kenapa! bukankah kau sudah tahu apa tugasmu?” ucap Gabriel, membuat Amelia menghentikan langkahnya yang sedang berjalan mundur.
“Kau mau aku yang maju atau kau yang datang padaku?” Tanya Gabriel. Pertanyaan itu terlihat biasa. Tapi, tidak bagi Amelia. Itu adalah sebuah peringatan dan seperti pesan kematian untuknya.
Setelah memberi peringatan untuk Amelia, Gabriel berbalik. Kemudian i mendudukan dirinya di sofa.
Dengan kaki yang gemetar, Amelia maju ke arah Gabriel. Sudah 3 tahun Ia di perlakukan seperti ini. Seharusnya ia sudah mengerti apa yang akan ia terima. Tapi tetap saja, setiap Gabriel datang. ia selalu ketakutan apalagi membayangkan alat-alat yang selalu dipakai Gabriel mengenai kulitnya.
Bab 6 nya kalian langsung baca aja ya cari judulnya Arrogan men.