
flashback
Amelia membuka matanya, ia meringis ketika tenggorokannya begitu kering. Tak lama, bola matanya memutar kesana kemari, tiba-tiba otaknya kembali blank. pikirannya kosong. Ia sama sekali tak mengingat bahwa ia sudah diselamatkan.
Selama 3 bulan ini, setelah Amelia mengetahui bahwa ia sudah kehilangan dua janinnya, ia hilang kendali. Ia sering mengamuk dan sering melukai dirinya sendiri. Tapi, Gabriel sama sekali tak perduli. Ia tetap memperlakukan Amelia seperti biasa.
Hingga terkadang, Gabriel lebih beringas dari biasanya karena Amelia selalu melawan. Dan setelah siksaan bertubi-tubi dari Gabriel, Amelia mencapai titik terendahnya.
Hingga ia tak bisa berbicara, tak bisa bergerak, dan tak bisa mencerna apapun. dan pada akhirnya, iya terdiam di kursi roda dan seperti mayat hidup.
Begitupun Gabriel, setelah Amelia terdiam di kursi roda, Gabriel tidak pernah lagi menemui Amelia dan tidak pernah lagi menyentuh Amelia.
dan setelah tiga bulan berlalu. pada akhirnya, penyiksaan Amelia selesai. Simma dan Stuard berhasil menyelamatkannya. Tapi sayangnya, kondisi Amelia sudah sangat parah, jiwanya dan mentalnya sudah terganggu dan itu karena Gabriel.
Kini, ia sudah mendapat perawatan yang intensif dari rumah sakit. walau di villa ada Gilsa dan Kate, tapi perawatan Amelia sangat berbeda, karena di Vila, alat medis hanya seadanya dan di rumah sakit jauh lebih lengkap.
Setelah sekian lama Amelia sadar, pintu terbuka. sosok Simma masuk ke dalam ruang perawatan Amelia. Sima berjalan dengan tertatih-tatih, matanya berkaca-kaca ketika melihat Amelia yang sudah membuka matanya dan melihat ke arah atas dengan tatapan kosong.
Sima menarik kursi, kemudian mendudukkan diri di samping Amelia, tangannya terangkat untuk menggenggam tangan wanita yang telah tersiksa karena putranya.
Simma menggenggam tangan Amelia begitu erat, hatinya semakin pilu ketika melihat Amelia sama sekali tak bereaksi.
“Amelia ... Amelia!” Panggil Sima dengan nada yang pilu.
Ia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Amelia kemudian ia mengelus pipi Amelia, berharap Amelia bereaksi. Tapi semuanya sia-sia, Amelia sama sekali tak bereaksi. Pandangan matanya masih lurus ke depan, otak Amelia kosong, Ia benar-benar seperti mayat hidup.
“Dokter bagaimana kondisi amelia?” tanya simma, dokter tampak melihat satu sama lain kemudian salah satu dokter maju ke arah Simma.
“Nyonya, seperti yang anda lihat, pasien mengalami gangguan mental yang cukup hebat. psikisnya begitu terganggu, dan kami tidak tahu kapan pasien bisa pulih. Tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mental mental dan fisik pasien,” ucap dokter tersebut.
Seketika tangis Simma pecah, ia kembali melihat Amelia kemudian ia menggenggam tangan Amelia lagi, lalu membungkuk dan mencium kening Amelia. Seperti biasa, Amelia sama sekali tak menggubris apapun yang berada di sekitarnya.
“ Nyonya kami akan membawa pasien untuk pemeriksaan lebih lanjut,” ucap salah satu dokter, membuat Simma menegakkan tubuhnya.
“ Bolehkah aku ikut? aku ingin mendampinginya?" tanya Sima. Namun para dokter menggeleng.
“Tidak Nyonya, kami harus melakukan pemeriksaan secara berkala, kami akan mengabari anda setelah pemeriksaan selesai.”
Setelah mengatakan itu, para perawat yang berada di sisi dokter langsung mendorong berangkar Amelia, sedangkan Simma kembali terduduk di kursi.
tangisnya Luruh ... Tiba-tiba, wajah sangputra melintas di otaknya. “Gabriel kau bukan lagi Putraku!” Geram Simma. Hati seorang ibu mana yang tak hancur melihat kelakuan putranya yang dia didik sebaik mungkin malah berubah menjadi iblis.
Tak ada ibu yang tak menyayangi anaknya. Tapi juga tak akan ada ada seorang ibu yang bisa menerima jika anaknya berubah menjadi seorang iblis.
Pilihan Simma hanya dua, memaafkan dan menerima putranya dan itu berarti dia sama jahatnya dengan Gabriel atau ia membenci putranya dan mengutuk putranya karena telah menyakiti wanita lain. Dan Simma memilih yang kedua. Ia mengutuk putranya, karena ia pernah berada di posisi Amelia.
Scroll gengs. Ga mo tau, tinggalin komen di setiap bab 😋😋