
"Mommy apakah kita akan tinggal di sini?" tanya Gabby setelah turun dari taxi. Simma menoleh ke arah Gabby dan tersenyum getir. Dari ekpresi kedua putra-putrinya, Simma tau bahwa Gabby dan Gabriel begitu enggan tinggal di cafe.
Ya, sekarang. Simma tak punya tempat pulang kecuali caffenya, caffe yang pernah Zidan berikan untuknya. 3 tahun lalu, Simma memutuskan untuk menutup caffe tersebut.
Dan kini, Simma harus memulai kembali semuanya dari nol. Di mana dia meniti lagi semuanya dari awal. Merintis, mencari pelanggan dan memasarkan caffenya.
Kini, ia tak mempunyai karyawan. Caffe yang sudah 3 tahun kosong, harus ia bereskan seorang diri. Tak, apa. Walaupun begitu, Simma tetap bersyukur, ada tempat untuk dirinya dan kedua anaknya pulang.
"Ayo!" ajak Simma pada Gabby dan Gabriel.
"Gabby, jangan membuat Mommy sedih," ucap Gabriel pada sang adik, karena Gabby terlihat murung.Ia berbicara pada adiknya saat Simma sudah berjalan menjauh.
Gabby mengangguk lesu. "Maafkan aku, Gabriel," ucapn Gabby. "Ayo tersenyum," pinta Gabriel.
••
"Kalian tunggu di sini oke, Mommy akan keatas untuk membereskan kamar," ucap Simma, pada Gabriel dan Gabby.
"Mommy perlukah aku bantu?" tanya Gabriel, Simma menggeleng. "Kau temani saja adikmu. Biar Mommy yang membereskannya.
Simma membuka pintu kamar, ia terbatuk-batuk karena debu di mana-mana. Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Simma langsung bergerak membenahi kamar.
Hanya ada satu ranjang yang tak terlalu besar, lemari serta meja. Tapi, lagi-lagi ... Simma cukup bersyukur. Setidaknya, ada tempat tinggal untuknya dan kedua anaknya.
•••
Mereka tidur biasa memakai AC sedangkan di kamar mereka yang sekarang, tak ada AC sama sekali, hingga Simma harus mengipasi kedua anak kembarnya.
Setelah memastikan Gabby dan Gabriel terlelap. Dengan pelan, Simma bangkit dari duduknya. Ia mengambil kain dan menghamparkan di bawah. Ia tak bisa tidur di ranjang, karena ranjang hanya cukup untuk Gabriel dan Gabby.
Simma menatap ke langit-langit, ia menaruh tangan di keningnya. Tangisnya kembali luruh saat mengingat perkataan kareen, sang Kaka.
Ya, beberapa tahun lalu. Simma bertemu dengan Kakanya. Pertemuan itu cukup mengharu biru, saat itu, Simma benar-benar merasa sempurna, dan bahagia lagi bisa bertemu Kakanya. Ia melupakan semua yang terjadi di masa lalu.
Tapi, hari ini ... Simma mengetahui semuanya. Faktanya, sang Kaka masih membencinya. Kareen hanya bersikap baik, karena Simma di nikahi oleh Stuard, lelaki yang kaya raya.
Saat tadi sore, Dengan ponsel lamanya. Simma menelpon Kareen untuk meminjam uang agar bisa membenahi caffe.
Tentu saja, Kareen bertanya kenapa Simma bisa sampai meminjam uang, sedangkan Stuard sangat kaya. Dan saat Simma mengatakan bahwa ia akan berpisah dari Stuard, nada bicara Kareen mulai berubah. Ia mengatakan Simma bodoh karena melepaskan lelaki sekaya Stuard.
Pada Akhirnya, Simma harus menerima Hinaan lagi dari kakanya, hanya untuk agar bisa di beri pinjaman uang. Ia tak bisa menjawab, ketika Kareen menghardiknya. Ia menekan rasa sakitnya demi uang yang tak seberapa.
Saat keluar dari mansion Stuard, Simma sedikit tenang, karena ia pikir ... Ia masih punya Kaka yang setidaknya bisa sedikit menjadi penyemangatnya. Tapi, ia salah. Kareen bersikap baik padanya hanya karena ia menikah dengan lelaki kaya. Kini, Simma benar-benar ke titik awal.
Bisa saja, ia meminta bantuan Audrey, tapi Audrey dan Zidan sudah pindah ke Belgia. Ia pun tak mau melibatkan Audrey atau Zidan kedalam masalahnya.
Scroll lagi iesss