Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
187


Setelah Simma pergi meninggalkannya, Josh menghela napas lega, rasanya plong sudah jujur pada Simma. Sebelum meninggalkan Cafe, Josh terlebih dulu memesan kopi kesukaanya.


Sambil menunggu kopinya datang, Josh mengutak-ngatik ponselnya, lalu tanpa sengaja ia menekan galeri. Matanya langsung tertuju pada foto Simma yang sedang tersenyum.


Sejenak, Josh terpaku ... Josh akui, Simma adalahh wanita baik, polos dan lugu. Namun, ia ragu dengan perasaannya sendiri. Ia bingung mencintai kekasihnya atau mencintai Simma.


Namun, saat pertama kali ia menyentuh Simma dan mengetahui bahwa Simma tak suci lagi, Josh meyakinkan bahwa dia hanya mencintai, Briana.


•••


Setelah mengahabiskan segelas kopi, Josh pun keluar dari cafe dan berniat menjemput Briana di rumah sakit. Malam ini, ia akan mengajak Briana untuk makan malam bersama dan membahas renacana pertunagan mereka.


••


"Kau sudah lama menunggu, Darling?" tanya Briana yang menghampiri Josh di parkiran, Wanita cantik itu langsung berhambur memeluk calon suaminya.


Josh tersenyum, ia mengelus pucuk kepala Bri, kemudian mengahadiahkan kecupan di kening calon istrinya.


"Bagaimana harimu, Hmm?" tanya Josh, Bri tersenyum lalu mengangguk.


"Bisakah kau mengantarku ke supermarket?" ajak Bri, Josh pun mengangguk lalu membukakan pintu untuk Briana.


•••


Setelah Simma berhasil menenangkan dirinya, ia mendudukan dirinya di ranjang. Ia tak ingin mengingat-ngingat ucapan Josh. Namun, ia tak bisa. Ucapan Josh bagai audio yang terus berputar di otaknya, tanpa bisa di pause atau di hapus. Semua terekam jelas di memorinya.


Simma memandang kedepan dengan tatapan kosong. Jiwanya hampa, ia merasa sesak setiap kali bernapas. Apa salahnya? hingga ia merasakan hal yang sesakit ini.


Simma mengerjapkan matanya, ia tersadar. Tangisnya kembali luruh saat melihat ke arah perutnya,. Ia tak boleh lemah. Ada dua nyawa yang ia harus perjuangkan..


Seketika ia teringat bahwa ia belum membeli susu hamil, dan ia harus membelinya sebelum Audrey dan Kelly datang ke apartemen.


Ia pun berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian bersiap untuk pergi


Setelah menempuh perjalanan yang rumayan jauh, akhirnya Simma pun sampai di supermarket. Ia langsung berjalan ke dalam dan mencari-cari letak susu khusus ibu hamil.


Setelah ia menemukan tumpukan susu hamil yang terjejer rapih, ia pun mulai melihat satu persatu harga dan merk susu tersebut. Ia ingin sekali menghemat dengan membeli susu yang murah. Namun, ia tak sampai hati. Seberapa pun sulit hidupnya nanti, selama ia bernapas, ia akan tetap akan memberi kedua anak kembarnya yang terbaik.


Banyak yang ingin Simma beli, cemilan kesukaannya, barang-barang kebutuhannya dan lain-lain. Tapi Simma berusaha agar tak tergoda. Seperti sebelum-sebelumnya, ia harus konsisten membeli apa yang dia butuhkan bukan apa yang dia inginkan.


Saat ia sudah mengambil dua box susu dan berniat membayar ke kasir, langkahnya terhenti saat melihat Josh sedang mendorong troli dan di sebelah Josh ada seorang wanita yang bergelayut manja.


Simma melihat ke bawah untuk melihat tampilannya, lalu ia melihat ke arah wanita yang berada di sampingnya. Simma tersenyum getir saat menyadari perbedaan antara dirinya dan wanita di samping Josh. Wanita di sisi Josh, terlihat sangat elegant dan modis berbeda dengan dirinya.


Tapi tak lama, Simma menyadarkan dirinya. Ia tak boleh lagi berpikiran negatif tentang apa pun, ia tak tak ingin bayinya terpengaruh.


Saat Simma akan menerusakan langkahnya, matanya bersibobrok dengan mata Josh, ternyata Josh melihatnya.


Saat Josh melihat Simma, Josh sengaja merangkul pinggang Briyana agar Simma melihatnya, seolah ingin membandingkan Simma dan Briana.


Untuk kesekian kalinya, Simma kembali hancur. Luka tadi siang, masih belum mengering. Tapi sekarang, Josh memberinya luka lagi.


Tak lama, perutnya bergejolak ia merasakan mual yang luar biasa. Ia menutup mulut karena merasa ia akan memuntahkan sesuatu. Ia pun berbalik, Namun saat dia berbalik, ia menabrak seseorang hingga ia memuntahkan cairan ke kaos orang yang di tabraknya


Tanpa Simma sadari, ia mual karena melihat Josh, terlalu banyak kesakitan yang di terima Simma dari Josh, hingga alam bawah sadarnya bereksi ketika dia melihat Josh, termasuk saat ia mual dan ingin muntah secara mendadak.


Saat menyadari bahwa Simma muntah mengenai kaos orang lain, seketika lutut Simma bergetar, ia ketakutan, ia takut bahwa orang di depannya akan memaki-makinya. Ia memejamkan matanya karena tak berani menatap orang di depannya.


Mata Simma membeliak saat melihat ternyata orang yang di tabraknya adalah orang yang tadi memberi sapu tangan untuknya, yang tak lain adalah Stuard.


Simma menutup mulut saat melihat kaos Stuard terkena muntahannya. "Ma-maaf," lirih Simma dengan pelan, ia menunduk karena tak berani melihat Stuard. Tapi, tak lama Simma terkesiap saat ada yang mengusap bahunya, tentu saja Stuard yang melakukannya


"Simma!" panggil Stuard dengan lembut, membuat Simma mengangkat kepalanya.


"Stu!" panggil Simma dengan wajah yang pucat.


"Its oke. Aku tak apa-apa," jawab Stuard dengan suara lembut. "Aku akan pergi ke toilet. Kau bisa menungguku di sini?" tanya Stuard, Simma pun mengangguk tak sadar. Ia terlalu terpaku melihat sikap Stuard. Suara lembut Stuard begitu mendayu-dayu di telinga Simma. Hingga Simma tak sadar bahwa Stuard sudah meninggalkannya.


Dengan pelan, Simma menoleh kebelakang untuk melihat Josh, ia bisa bernapas lega saat Josh sudah tak ada.


Apakah aku seburuk itu. Batin Simma menjerit saat ia terbayang tatapan Josh yang seakan mengulitinya.


Ia pun kembali berbalik untuk ke arah kasir dan membayar susu yang di bawanya, ia bahkan tak memerdulikan perintah stuard yang menyuruh menunggunya.


Saat ia Simma akan menyetop taxi, tepukan di bahu Simma membuat gerakannya terhenti, kemudian Simma menoleh, ternyata Stuard yang menepuk bahunya.


"Kenapa kau tidak menungguku?" tanya Stuard, membuat lutut Simma bergetar. Tiba-tiba, ia takut lada Stuard karena Simma merasa Stuard hanyalah orang asing


"Kau takut padaku?" tanya Stuard, dengan polosnya Simma mengangguk.


"Ma-maaf, a-aku mempunyai gangguan panik jika bertemu orang baru," jawab Simma. Ia tak ingin menutupi ketakutannya


Stuard tanpak mengangguk-nganggukan kepalanya tanda mengerti ia mengelus pucuk kepala Simma, dan lagi-lagi membuat Simma terpaku karena tingkah Stuard


Stuard pun menyetop taxi lalu setelah taxi berhenti di depan mereka, Stuard langsung membukakan pintu untuk Simma. "Masuklah, maaf membuatmu tak nyaman," ucap Stuard membuat Simma sedikit merasa bersalah.


"Te-terimakasih," jawab Simma di tanggapi anggukan oleh Stuard.


Setelah menutup pintu belakang, Stuard langsung mengetuk kaca depan, ia mengeluarkan beberapa lembar uang dan di berikan pada supir tersebut.


"Tolong antarkan Nona ini sampai selamat," ucap Stuard, di tanggapi anggukan oleh supir, mata supir itu berbinar karena menerima uang sangat banyak dari Stuard.


Stuard memasukan kedua tangannya pada saku, ia terus menatap taxi yang di tumpangi Simma. Ia tersenyum saat mengingat betapa lugunya Simma.


Simma mungkin berpikir bahwa Stuard melihatnya hanya saat berada di cafe. Tapi, Simma salah, karena pada nyatanya, Ia pernah melihat Simma saat di bandara, saat itu Simma dan Kelly baru saja datang ke Rusia, Tanpa sengaja, Stuard melihat Simma tersenyum yang kala itu sedang tersenyum pada Audrey, dan senyuman Simma berhasil memilkat seorang Stuard Josepin, pemilik dari Aerpin Grup, perusahaan yang cukup besar di Rusia dam Hawai.


Memang sedikit aneh saat Stuard langsung merasa terpesona pada senyuman Simma. Tapi, itulah yang terjadi. Stuard pikir, ia hanya sebatas kagum pada Simma. Namun, Stuard salah. Nyatanya, saat tadi ia tak sengaja melihat Simma di cafe, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat


Ia mendengar semua percakapan Josh dan Simma.Termasuk melihat gerak-gerik Simma. Saat Simma mengusap perutnya, ia bisa tau bahwa Simma sedang mengandung.


Tapi, Stuard tak perduli ... Entah hanya obsesi atau jatuh cinta pada pandangan pertama, yang pasti ... setelah mendengar percakapan Josh dan Simma, Stuard langsung ingin memiliki Simma dan siap untuk bertanggung jawab pada Simma. Saat Simma pergi ke gereja pun, Stuard diam-diam mengikuti Simma, dan Stuard juga menunggu Simma dan kembali mengikuti Simma saat pulang ke apartemennya.


Stuard rela menunggu di depan apartemen berharap ia bisa melihat Simma lagi, dan benar saja, Simma keluar lagi untuk pergi ke super market dam Stuard pun langsung mengikuti Simma.


Setelah taxi yang di tumpangi Simma sudah hilang dari pandangannya. Stuard pun berjalan ke arah mobilnya dan berniat pulang



Rumahnya babang Stuard, si Josh auto mampusss kalau tau ada lelaki kaya yang naksir Simma awokawok


Ini udah panjang banget, tapi aku jadiin satu karena males ngedit wkkw


Hate komen blok 😎