Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
243


"Gabby, itu punyaku!" teriak Gabriel saat sang adik memakai kaos bola miliknya.


"Mommy selalu bilang, kita harus selalu berbagi," jawab Gabby sambil menjulurkan lidahnya pada sang kaka.


"Tapi itu kaos unlimited yang di sudah di tanda tangani langsung oleh Christian Ronaldo," jawab Gabriel dengan mata berkaca-kaca.


"Oh ini." Gabby menunjuk, sebuah tanda tangan lalu mengigit kaos yang ada tanda tangannya


"Gabbyyyyyy!" teriak Gabriel menggema di seluruh ruangan, tak lama ia berlari ke arah Gabby dan mendorong tubuh sang adik, hingga kepala Gabby mengenai ujung meja belajar.


"Huaaaaa!" teriak Gabby, sedangkan Gabriel masih terdiam di tempat. Ia Terlalu terkejut karena mendorong sang adik.


"Ya Tuhaaannnn Gabby," pekik Simma saat masuk kedalam kedua anaknya. Ia berjalan ke arah langsung memeluk Gabby


"Gabriel apa yang kau lakukan, sayang?" Tanya


Simma dengan lembut. Satu tangannya mengusap kepala Gabby dengan lembut.


"Mommy, marahi dia," teriak Gabby di sela isakannya. Gadis kecil itu sedang memainkan dramanya, dan rupanya Simma cukup mengerti dengan apa yang sedang di lakukan oleh sang putri.


"Sedang apa kalian?" tanya Stuard yang tiba-tiba masuk kedalam kamar anak-anaknya. Stuard menaruh tas kerjanya dan mendekat ke arah Simma.


Mendengar suara sang ayah, Gabby mengeraskan suaranya membuat Stuard menggeleng.


Stuard ikut duduk di lantai sama seperti Simma, lalu menarik Gabriel untuk duduk di pahanya.


"Kau membuat adikmu menangis, hmm?" tanya Stuard.


"A-aku mendorongnga, Dad. Karena dia memakai kaosku," lirih Gabriel.


"Ta-tapi aku hanya meminjam sebentar," sela Gabby dengan berteriak. Dan akhirnya, Stuard pun harus menangkan kedua putra dan putrinya.


•••


"Kau mengagetkanku, Sayang," pekik Stuard saat Simma memeluknnya dari belakang.


"Tumben sekali kau ingin ikut, Sayang?" tanya Stuard. Tapi tak lama, ia menggeleng saat tau ada apa dengan istrinya.


Ia menarik lembut tangan Simma, lalu mengangkat tubuh Simma, dan mendudukan Simma di meja marmer.


"Aku sudah memutuskan kontrak kerja sama dengannya. Jadi kau tak perlu Khawatir," ucap Stuard yang mengerti akan ketakutan istrinya. Dia bekerja sama dengan prusahaan yang di pimpin oleh wanita muda, dan terlihat sekali jika wanita itu mencari perhatian pada Stuard, hingga Simma terasa was-was.


"Kenapa kau membatalkannya, Dad. Aku tak bermaksud begitu," jawab Simma, dengan menunduk. Membuat Stuard tertawa, ternyata sifat drama sang putri menurun dari istrinya..


"Baiklah jika kau mengijinkannya, aku akan menelponnya lagi dan ...."


"Jangan!" teriak Simma dengan terkejut, membuat Stuard tergelak. "Issshh!" desis Simma, saat sadar bahwa sang suami mengerjainya.


•••


"Kenapa ini susah sekali," keluh Ariana saat mencoba sepatunya. Ariana, terus menjejal sepatunya dengan kain, lalu kembali memakainya.


Bocah kecil itu sudah banyak berpikir, mungkin jika ia tak cacat, ia akan diijinkan sekolah oleh Josh, hingga satu ide terpikir di otaknya.


Ia menjejal satu sepatunya memakai kain agar kaki kirinya seimbang dengan kaki kananya hingga ia bisa berjalan normal. Ia sudah bertekad akan memberanikan diri berbicara pada Josh, walaupun ia yakin, sang ayah takan mengjinkannya.


"Ahh, akhirnya," pekik Ariana dengan girang saat ia bisa memakai sepatunya dengan benar. Ia pun mulai berdiri dan mencoba jalan dengan perlahan.


Namun baru saja ia berjalan dua langkah, ia kembali terduduk di lantai karena kakinya pegal, dan nyeri.


Mata Ariana sudah berkaca-kaca. Dengan pelan, ia melepaskan sepatunya, pergelangan kaki dan telapak kakinya sudah memerah, perlahan ia mengusap pergelangan kakinya yang sangat terasa nyeri. "Tuhan, kenapa aku harus terlahir cacat? apa salahku, jika aku terlahir cacat, Lalu kenapa aku harus di asingkan seperti sampah, " lirih Ariana dengan pelan. Ia menekuk kakinya yang masih terasa sakit, lalu menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya, tangis Ariana luluh. Ariana menangis begitu pilu


Ariana jarang sekali mengeluh dan menangis. Tapi, belakangan ini, ia benar-benar ingin sekolah, tapi di sisi lain, ia yakin, sang ayah takan mengijinkannya karena ia cacat, apa yang bisa di lakukan Ariana? yang bisa di lakukan oleh gadis kecil itu hanya berharap, berharap agar ia bisa mendapat kasih sayang walau hanya sedikit saja.


Hate komen blok 😎


Bener nih, ya, gens aku waktu nulis nyesek puollll.