
"Sonya, apa kau tau ...." ucapan Santosh terpotong saat Zidan menendang punggung Santosh hingga Santosh tersungkur. Dengan cepat, Zidan menginjak punggung Santosh
"Tutup mulutmu! atau nyawamu akah hilang malam ini juga," ucap Zidan. Ia semakin menekan kakinya, membuat Santosh meringis kesakitan, bahkan kesulitan untuk bicara
.
Sonya dan Albert terperanjat kaget karena mendengar ucapan Zidan, mereka tak menyangka bahwa Zidan bisa berbicara seperti itu. Bahkan, Ini pertama kalinya Sonya dan Albert melihat Zidan sangat emosi.
"Mommy, ayo masuk." Zidan pun mengangkat kakinya dari punggung Santosh dan menghampiri Sonya
"Ayo, Mom!" Zidan merangkul pundak Sonya dan mengajak Sonya untuk masuk.
Sedangkan Santosh memilih diam tak meneruskan ucapannya. Nyatanya, tadi ia hanya menggertak Albert, jika Sonya tau sekarang, maka tak ada cara lain lagi untuk mengancam Albert.
"Zidan kau naiklah ke kamarmu. Mommy harus berbicara dengan Santosh," ucap Sonya saat masuk kedalam Mansion.
Albert yang berada di belakang tubuh Sonya pun terperanjat kaget, bagaimana jika Santosh nekad memberitaukan rahasianya pada Sonya
"Mom!" protes Zidan
Sonya tersenyum, ia mengelus pipi Zidan. "Mommy menemuinya hanya sebentar. Kau pergilah ke kamarmu!" titah Sonya. Ia memang tersenyum. Tapi sorot matanya mengatakan dia tak ingin di bantah, benar saja, Zidan pun mengangguk lemah
Sonya pun berbalik, ia berjalan kembali ke luar. Ia bahkan tak menyapa Albert dan melewati tubuh Albert begitu saja.
"Tunggu!" teriak Sonya saat Santosh akan naik kedalam mobil.
Santosh menoleh ke belakang. Dia tersenyum sinis saat Sonya menghampirinya.
"Kenapa ka ...." Perkataan Santosh terputus saat Sony menamparnya.
"Bukankah sudah ku peringatkan untuk menjauhi keluargaku, Santosh!" ucap Sonya, dia memandang adik tirinya dengan tatapan membunuh.
"Kau pikir aku takut padamu?" ucap Santosh dengan seringai mengejek.
"Aku punya rahasia terbesar keluargamu, dan mengenai putramu. Aku akan memberitaumu, asal kau penuhi keinginanku."
Sonya berdecih, "Keluargaku, bukan urusanmu!" seru Sonya. .
Mendengar jawaban Sonya, Santosh meradang. "Kau tau, sebenarnya anakmu sudah mati 33 tahun yang lalu, dan Zayn bukan putramu," ucap Santosh, dia terpaksa membocorkan rahasia Albert karena Sonya sudah memancing emosinya.
Di luar dugaan, Sonya tampak tenang. Tak ada sedikitpun raut terkejut di wajahnya
"Lalu apa urusannya denganmu!" tanya Sonya.
"Kau sudah tau?" tanya Santosh dengan terkejut. Jika Sonya sudah tau, bagaimana ia bisa mengancam Albert.
Sonya tersenyum sinis. "Santohs, pikiranmu terlalu pendek. Kau pikir, kau bisa mengancam keluarga kami dengan caramu?"
Sonya menekankan ucapannya. "Sekarang pergilah. Jangan pernah mengusik keluargaku lagi. Atau aku akan melakukan hal yang tak terduga." Tanpa mendengar jawaban Santosh, Sonya pun langsung berbalik meninggalkan Santosh.
Saat berbalik, Sonya melihat Albert beridiri tak jauh dari tempat Sonya. Tubuh Albert dan Sonya sama-sama menegang.
Sonya dan Albert saling terdiam di tempat masing-masing, mereka terpaku.
Albert terdiam karena mendengar jawaban Sonya pada Santosh, sedangkan Sonya terdiam karena takut Albert mengetahui bahwa sebenarnya Sonya sudah mengetahui yang sebenarnya.
Sonya menghela napas sejenak, Ia pun melanjutkan langkahnya.
"Sonya kita perlu bicara," ucap Albert. Ia menarik tangan Sonya saat Sonya melewati tubuhnya.
Sonya berbalik, ia menepis tangan Albert. "Albert, aku lelah. Kita bisa bicara lain waktu," balas Sonya.