
Saat Grisya mengadu padanya, Amelia langsung menatap kearah Gabriel, begitupun Gabriel yang juga sedang menatap pada Amelia. Hingga tatapan mereka saling mengunci.
“Tidak apa-apa, Grisya, Mommy akan mengantarmu ke sekolah,” ucap Amelia lagi, Seketika Gabriel bangkit dari duduknya, lalu menghampiri Amelia dan Grisya.
“Ayo kita berangkat bersama-sama, Daddy dan Mommy akan mengantarmu ke sekolah,” ajak Gabriel membuat mata Amelia membulat, wajah Amelia sudah memerah ketika mendengar ucapan Gabriel. Namun, sebisa mungkin ia berusaha untuk menetralkan ekspresinya.
“Tidak mau, aku tidak mau berangkat dengan Uncle jahat, aku ingin berangkat dengan Mommy saja!” teriak Griysa, Amelia terpekik kaget, ketika Grisya menarik kemejanya.
“Sampai jumpa semua,” pamit Amelia pada keluarga Gabriel yang sedang berada di meja makan, sedangkan Gabriel hanya terdiam saat Grisya dan Amelia pergi.
“Kau tunggu apa lagi, bodoh! kejar mereka,” Omel Gaby, ketika melihat Gabriel terus melamun. Mendengar umpatan sang adik,.Gabriel menoleh kemudian tersadar. Ia langsung berlari untuk mengejar Amelia.
”Amelia biar aku yang menyetir,” ucap Gabriel ketika ia berhasil menyusul Amelia.
“Sudah kubilang, Aku tidak mau berangkat denganmu!” teriak Geisha lagi.
”Ayo Mommy cepat, aku tidak mau melihat Uncle jahat itu lagi.”
Amelia menghentikan langkahnya, “Kau pergi duluan ke mobil oke, Mommy harus berbicara dengan Uncle,” ucap Amelia, Griysa menoleh ke arah Gabriel, kemudian menjulurkan lidahnya dengan ekspresi yang kesal, membuat Gabriel ingin sekali tertawa karena melihat ekspresi sang putri.
Setelah Grisya pergi, Amelia menghela nafas kemudian menghembuskannya. Lalu mulai menatap Gabriel.
Gabriel terdiam, saat mendengar ucapan Amelia. Tiba-tiba, wajah Gabriel berubah menjari sendu. “Lalu, aku harus bagaimana Amelia,” jawab Gabriel, Amelia terdiam. Hingga kini, keduanya sama-sama termenung.
“Aku harus bagaimana? aku sudah mencoba untuk menahan diriku untuk tak mendekati putriku. Tapi aku tidak bisa, aku ingin selalu dekat dengannya, menemaninya dan menembus waktu yang terlewatkan,” jawab Gabriel membuat Amelia mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Gabriel aku mengerti perasaanmu. Tapi perasaanmu, bukan urusanku, dan juga buka urusan Griysa. Apa yang kau rasakan, itu adalah tentang perasaanmu sendiri. Tapi tolong, jangan membuat Griysa tertekan, dekati dia dengan perlahan dan jangan membuat dia takut ....” Amelia menghentika ucapannya, kemudian, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
“Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu. Tolong jangan datang seperti semalam, seolah kita adalah rekan yang dekat. Kita tidak sedekat Itu untuk saling bertemu dan untuk saling bertanya. Jadi di tolong, jangan bersikap seperti ini lagi.” Setelah mengatakan itu, Amelia pun berbalik, kemudian melangkahkan kakinya untuk menyusul Grisya yang sudah menunggunya di mobil.
Amelia sudah menekan egonya dengan membiarkan Gabriel mendekati Grisya, karena walau bagaimanapun tak mudah menjadi Amelia, dan sekarang, ia mencium niat Gabriel yang ingin masuk ke dalam hidupnya dan hidup putrinya.
Mungkin Amelia bisa mengijinkan Gabriel dekat dengan Grisya, karena bagaimana pun, Griysa masih butuh figur seorang ayah.
Dan Gabriel cukup masuk saja ke hidup Grisya, Amelia takan mengijinkan Gabriel masuk kedalam hidupnya, mereka hanya perlu berdampingan sebagai orang tua dari Grisya.
Gabriel hanya mampu terdiam, Ia hanya mampu menatap punggung Amelia tanpa bisa mengejarnya, ucapan Amelia barusan menamparnya. Benar, ini urusannya dan karma untuknya, sehingga ia tidak bisa memaksakan apapun kehendaknya.
Scroll gengs Aku up 3 bab ya