Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
325


Setelah mendapat perintah dari Justin untuk masuk ke ruangannya, Ariana pun melangkahkan kakinya untuk menyusul Justin.


“Mr, apalagi yang harus saya perbaiki?” tanya Ariana, ia berusaha bertanya setenang mungkin. Padahal, ia ingin sekali memaki dosen yang menyebalkan ini.


“Baca ini, ini bisa menjadi referensi untuk skripsimu,” jawab Justin membuat mata Ariana membulat. Tapi, tak urung ia pun mengmbil buku yang di sodorkan oleh Justin.


“kalau begitu saya permisi,” pamit Ariana, ia bisa glla jika terus berurusan dengan dosen seperti Justin.


“Siapa yang mengijinkanmu puang?” Tanya Justin, membuat mata Ariana membeliak tajam. Bahkan tanpa sadar ia menatap Justin dengan tatapn tajam.


“Kau menantangku?” Tanya Justin saat Ariana menatap tajam padanya. Ariana tersadar, ia mnegerjapkan pandangannya, kemudian menunduk. “Maaf Mr,” Jawab Ariana, membuat Justin diam-diam menarik sudut bibirnya.


Tak ingin memperpanjang masalah, Ariana berjalan tertatih-tatih dan mendudukan dirinya di sofa. Ia mulai membuka buku tersebut dan membacanya, sesekali ia menguap karena kantuk menyerangnya, Namun sebisa mungkin, ia menahan kantuknya. Ia tak ingin mebuat Justin semakin murka dan semakin mengerjainya. Tapi, sekuat apa pun Ariana menahan kantuknya. Pada akhirnya, kantuknyalah yang menang.


Saat Arana larut dalam membaca buku, Justin pun larut dalam pekerjaanya. maatanya terus terarah pada laptop, ia bahkan melupakan bahwa Ariana ada di ruangannya.


Dua jam berlalu, Justin menggeliatkan tubuhnya, ia merasa punggungnya begitu nyeri, kemudian ia tersadar, bahwa masih ada Ariana di dalam ruangannya. Sejenak, mata Justin menatap dalam-dalam wajah Ariana, tanpa sadar, ia menarik sudut bibirnya.


Ponsel di sebelahny berdering, membuat Justin tersadar.


“Kau sudah mengurusnya?” tanya Justin pada orang yang menelponnya. Ia membalikan kursinya hingga membelakangi Ariana.


“Bagus, jangan sampai meninggalkan jejak. Aku akan menyusul sebentar lagi.” Setelah mengatakan itu, Justin menutup panggilan dan membalikan kursinya.


"Kau membuatku terkejut," kata Justin saat berbalik, ia terkejut karena Ariana sudah bangun dari tidurnya.


"Kakimu kram?" tanya Justin yang melihat Ariana meringis. Namun, Ariana menggeleng. Kemudian ia berusaha bangkit dari duduknya.


Dan setelah berhasil bangkit, Ariana kembali mendudukan dirinya dan meringis, kala kram semakin terasa.


Justin bangkit dari duduknya, ia berjalan menghampiri Ariana. Saat sudah mendekat ke arah Ariana, Justin menggeser meja. Kemudian ia berjongkok di hadapan Ariana dan menyibakan rok dan mulai memijit kaki Ariana.


Ariana terperanjat kaget saat Justin berjongkok. Bagaimana mungkin, seorang dosen yang terkenal sadis dan killer rela berjongkok demi membantunya. "Mr. Jangan begini," kata Ariana, ia berusaha menarik satu kakinya. Namun, Justin kembali menarik kaki Ariana.


Tiba-tiba, mata Ariana memanas. Ini pértama kalinya ada orang yang melihat kakinya yang cacat. Walaupun selama ini semua tau bahwa Ariana memang cacat, tapi sebisa mungkin Ariana menyembunyikan kakinya dan selalu memakai rok, karena jika memakai celana, kakinya akan tercetak.


"Mr. Kumohon jangan begini," kata Ariana lagi ia berusaha menarik kakinya lagi, Ia tak dapat menahan air matanya. Sungguh, saat ini, ia benar-benar malu.


Medengar Ariana terisak. Justin mengangkat kepalanya. Hingga tatapan mata mereka beradu pandang.


"Jangan menangis lagi, dan maaf," kata Justin, membuat Ariana tertegun. Biasanya, ia melihat wajah Justin yang dingin. Tapi, saat ini ia seperti melihat Justin yang lain.


"Mi-misterr, bo-bolehkah saya pulang?" tanya Ariana terbata-bata. Membuat Justin tersadar.


"Pulanglah!" kata Justin, ia bangkit dari berjongkoknya dan mengambil tongkat lalu memberikannya pada Ariana.


Scroll lagi iess.


wajib bet tinggalin komenn