Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
182


Audrey meremas tangannya, ia sungguh merasakan gugup yang luar biasa. Bagaimana tidak gugup, hari ini ia akan menikah bersama lelaki yang d cintainya dan ayah dari putrinya.


Tak lama pintu di ketuk, lalu terbuka. Ternyata Gia lah yang masuk.


"Kau siap?" tanya Gia. Ia mendudukan dirinya di samping Audrey. "Kau cantik sekali Audrey," ucap Gia lagi saat melihat Audrey dari pantulan kaca karena Audrey menunduk.


Audrey tak berani mengangkat kepalanya karena ia sungguh malu menatap Gia.


Mengerti akan Audrey yang gugup Gia pun menggenggam tangan Audrey membuat Audrey mendongak mengangkat wajahnya.


"Terimakasih, Nona. Anda sudah menemani saya," ucap Audrey, membuat Gia menggeleng.


"Oh ayolah Audrey, berhenti memaggilku Nona, aku kaka iparmu sekarang," kata Gia. Ia bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Audrey. "Ayo kita keluar. Semua sudah menunggumu!"


Mata Zidan berbinar takjub, saat melihat Audrey berjalan ke arahnya. Audrey sungguh cantik saat memakai gaun pengantin yang di rancang khusus dari desainer terbaik.


Saat Audrey mendekat ke arahnya, Zidan mengulurkan tangannya pada Audrey, lalu mereka pun memulai proses pemberkatan


Dan akhirnya kedua sejoli itu resmi menjadi suami istri, cinta mereka di satukan dalam ikatan suci pernikahan. Setelah selesai, Audrey dan Zidan langsung berhadap-hadapan untuk memasangkan cincin. Lalu setelah selesai, Zidan mengangkat tangannya untuk membuka tudung yang menutupi wajah Audrey


Bulir bening langsung keluar dari pelupuk matanya saat melihat wajah Audrey. Ia tak menyangka, ia berada di titik ini, titik di mana ia berhasil meluluhkan Audrey dan menjadikan Audrey miliknya. "I love you," ucap Zidan, ia menangkup kedua pipi istrinya lalu mencium bibir Audrey, membuat para tamu bersorak.



Saat semua proses sudah selesai, dengan diiringi para tamu Zidan dan Audrey keluar dari gereja, tentu saja mereka bergandengan tangan.


Saat sampai di luar, Zidan langsung melepaskan genggaman tangan Audrey untuk membukakan pintu mobil



Zidan kembali mengulurkan tangannya pada Audrey dan mengajak Audrey untuk naik kedalam mobil, membuat Audrey mengernyitken keningnya.


Setelah Zidan dan Audrey naik kedalam mobil, Zidan mengambil kain dari sakunya untuk menutup mata Audrey.


"Kenapa kau menutup mataku?" tanya Audrey.


Zidan mengemudi dengan senyum mengembang, ia masih belum percaya bahwa ia sudah menikah. Lalu ia melihat kebelakang, di mana mobil-mobil mewah milik tamu dan keluarganya mengikuti mobilnya untuk pergi ke tempat pesta yang telah ia siapkan.


Saat sampai, dengan pelan, Zidan menuntun Audrey untuk keluar dari mobil, begitupun keluarganya dan tamu-tamu yang juga ikut turun dari mobil.


Zidan menoleh kebelakang untuk mencari putrinya yang sedari tadi bersama kedua orang tuanya. Tak lama ia melihat putrinya sedang bersama Arleta. Zidan pun melambaikan tangannya pada Arleta dan juga Kelly.


Arleta dan Kelly berjalan di depan untuk memimpin jalan, kedua bocah kecil itu berjalan sambil menaburkan bunga.


Saat akan masuk, Zidan menghentikan langkahnya.


Perlahan ia membuka penutup mata Audrey.


Mata Audrey membulat, ia menutup mulut saat melihat kejutan yang diberikan oleh Zidan




Mata Audrey langsung berkaca-kaca saat melihat pesta indah yang di siapkan oleh suaminya. Ia tak menyangka suaminya akan memberikan kejutan yang seindah ini. Karena pada awalnya, mereka sepakat untuk tak melakukan resepsi atau pun mengadakan pesta. Ia juga tak habis pikir, bagaimana suaminya memersiapkan semua ini, sedangkan setelah dirinya pulang dari rumah sakit, Zidan selalu menempel padanya dan Kelly.


"Honey!" panggil Audrey dengan mata, berkaca-kaca.


"Ini untukmu, Sayangku," jawab Zidan. "Ayo masuk," ajaknya lagi, sambil menarik lembut tangan Audrey.


Zidan bersyukur, ia mempunyai kelemahan sang kaka, hingga ia bisa meminta sang kaka untuk memersiapkan ini semua. Tentu saja mereka kembali berdebat, dan karena Zidan memiliki kelemahan sang kaka akhirnya Zidan lah yang menjadi pemenangnyq.


Di masa lalu, Zidan bahkan sungkan untuk berbicara pada Zayn, tapi di masa kini, ia bahkan sangat senang mengajak kakanya berdebat dan selalu ingi membuat kakanya mengalah.


Di masa lalu Zayn selalu mengatur, mendiskriminasi dan memerintahkan adiknya sesuka hati. Tapi sekarang, adiknya lah yang memegang kendali dan selalu menang dalam kondisi apapun.


Hari ini satu bab dulu ya, asam lambungku lagi kumat. Aku juga lagi sedikit-sedikit ngerangkai cerita Simma. Simma tetep tayang di lapak ini ya, di gabung sama cerita ini jadi ga ada judul baru. Cmiw.


Sama lagi mikirin gimana ngerangkai kata yang pas buat malem pertama Zidan dan Audrey 🤣🤣